Posts Tagged With: Ningkam Haumeni

Yap Thiam Hien untuk Aleta Baun

Foto ini saat kami bertemu di Bali, mengikuti dan menghadiri kegiatan kawan kami untuk Terasmitra yang disponsori GEF-SGP (Global Environmental Facility- Small Grants Programme ).   Jika tidak salah terjadi di tahun 2014. Saat itu saya mengawal media advokasi untuk kegiatan ini. Sementara beliau baru datang di hari terakhir ketika kami mulai pameran. Sejak Festival Ningkam Haumeni 2012, dan South to South Film Festival tahun 2011 kami tidak pernah jumpa lagi.

Continue reading

Advertisements
Categories: CATATAN HARIAN | Tags: , , , , , , , , , | 4 Comments

Kisah Avatar Dari Masyarakat Tiga Batu Tungku

Suku Amanatun, Amanuban dan Mollo bersatu dalam Festival Kearifan Lokal Ningkam Haumeni. (Foto : Dokumen Musfarayani)

Batu-batu putih besar dalam potongan kubus berserakan di antara semak-semak alang yang tinggi. Pohon merambat liar menyelimutinya di antara padang rumput . Tidak jauh dari sana ada sisa bekas bangunan yang kini hanya terlihat berupa lantai semen yang mulai rusak. Ada beberapa sisa bangunan lainnya, namun semuanya dirambati semak, seolah ingin disatukan dengan kondisi alam di sana. Pagi itu kabut begitu pekat menyelimuti alam di sana, termasuk dua bukit yang paling menonjol serta hutan-hutan cemara di sekeliling kawasan tersebut.
Continue reading

Categories: ARTIKELKU, CATATAN PERJALANAN | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Ningkam Haumeni III, 2011


261242_198278016888594_6987154_n
263989_198269790222750_4628288_n

Ningkam Haumeni III, 2011, salah satu album di Flickr.

Foto-foto ini merupakan sekian dari kegiatan Festval Ningkam Haumeni II (27-29 Mei 2011). Inisiasi ini digelar oleh masyakarat adat Tiga Batu Tungku (Amanatun/Onam, Amanuban/Banam, dan Mollo/Oenam), dari Timur Tengah Selatan, NTT.

Ketiganya disatukan dalam sebuah kosmologi kehidupan di sekitar Gunung Mutis, dan menyebut persatuan tiga suku ini menjadi Tiga Batu Tungku. Di wilayah ini ada satu cerita perlawanan masyarakat adat Mollo yang melawan ekploitasi terhadap dua gunung batu yang sangat mereka keramatkan yaitu Anjaf dan Nausus. Batu itu dibelah dan digerus untuk kepentingan dua perusahaan yang menginginkan marmer di sana.

Bagi masyarakat Mollo, batu adalah identitas mereka berasal. Nama keluarga biasanya dimulai di sana. Tapi faktanya, batu-batu di sana merupakan daerah resapan air yang baik bagi masyarakat Timor, terutama di kabupaten Soe, sebagai ibu kota kabupaten TTS.

Bagi masyarakat adat desa Batu Tungku terutama Mollo atas Nausus dan Anjaf, hidup harmoni dengan alam adalah bagian dari sebuah keyakinan mereka berhubungan dengan Tuhan. Karena alam titipan, maka keindahannya harus dijaga. Mereka juga menganalogikan alam sebagai tubuh mereka air adalah darah, rambut adalah hutan, tulang adalah batu, daging adalah tanah mereka.

Bayangkan jika salah satu tubuh kita tersayat dan diubah, bagaimana kehidupan jadinya. Apalagi satu sama lainnya saling berhubungan. Demikian mereka selalu mengungkapkan arti alam.

Perlawanan masyarakat Mollo dalam mempertahankan areal wilayah adatnya dari keserakahan perusahaan tambang marmer yang mendapatkan dukungan dari penguasa setempat dan tentara, selalu di bantu dengan alam semesta mereka. Cerita 1001 avatar ini ada di sini. Dan mereka memenangkan pertempuran itu kendati Anjaf terbelah dan tidak utuh lagi. Namun wilayah itu telah menjadi monumen pemersatu tiga suku ini. Sebagai simbol bahwa menjaga alam titipan tuhan jauh lebih baik . Tidak banyak wilayah Indonesia yang dikuasai serakah bernama tambang mendapatkan cerita kemenangan seperti masyarakat Mollo.

Categories: FOTO PERJALANAN | Tags: , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Ningkam Haumeni II : A story of Avatar from Tiga Batu Tungku People

White big rocks in cubic shape were scattered around among tall, coarse grass. Creeping wild trees enveloped them among the meadows. Not far from there, there was a bulding remnant which now looked like a damaged cemented floor. Several other building remnants were spotted, but all were covered up by bushes, as if they wanted to be unified with the surrounding nature. The mist were so thick covering the nature, including two most protruding hills and casuarina forest around the area. Continue reading
Categories: ARTIKELKU, CATATAN PERJALANAN | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: