CATATAN HARIAN

Jangan Lupa Bahagia

Semakin dewasa pertemanan juga makin terseleksi dengan sendirinya. Semakin dewasa, masing-masing orang memilih jalan hidup menjadi dirinya seperti apa. Semakin dewasa jaman juga berubah, dan kita sebagian besar juga berubah atau mengubah dirinya menjadi sesuatu yang diinginkan atau yang tidak diinginkannya. Sebagai pribadi yang mandiri dimana uang bukan lagi menjadi duduk soal, persoalan hidup saya sekarang ini mungkin tidak seberat orang-orang yang berkeluarga. Jadi seberusaha mungkin tidak mengeluh. Masalah sepele soal macet, kerjaan yang kadang menghimpit, atau paling banter soal ngedekor rumah yang kayaknya enggak pernah pas melulu.

Continue reading

Categories: CATATAN HARIAN | Leave a comment

Yap Thiam Hien untuk Aleta Baun

Foto ini saat kami bertemu di Bali, mengikuti dan menghadiri kegiatan kawan kami untuk Terasmitra yang disponsori GEF-SGP (Global Environmental Facility- Small Grants Programme ).   Jika tidak salah ini tahun 2014. Saya mengawal media advokasi untuk kegiatan ini. Sementara beliau baru datang di hari terakhir ketika kami mulai pameran. Sejak Festival Ningkam Haumeni 2012, dan South to South Film Festival tahun 2011 kami tidak pernah jumpa lagi. Ada beberapa kali bertemu, hanya satu dua kali dalam rentang waktu yang jauh dan sebentar saja. Biasanya jika dia tengah bawa tenun ikat hasil tenunan para mama di kampungnya di Molo, Timur Tengah Selatan, atau ada kegiatan dengan AMAN dan Kementerian Desa dulu namanya Kementerian Transmigrasi dan Desa Tertinggal.

Yah, namanya Aleta Baun. Saya tidak mengenal beliau. Tidak ada yang tahu siapa beliau, apalagi nama tempat tinggalnya di Nausus, sebagai bagian dari Suku Mollo.  Aleta siapa? Mollo apa? Demikian kami, orang awam. Saya bawa isu ini ke media. Mereka juga sama, Aleta siapa? Mollo apa?? Saya baru mengetahuinya ketika  Ambon (waktu itu yang menjadi Koordinator Jatam) dan Voni (Staf Jatam) meminta saya untuk mengawal advokasi media untuk Festival Ningkam Haumeni (apa pula itu) pertama 2011 dan menceritakan konsep festivalnya dan juga sosol Aleta dan perjuangannya. Kemudian berlanjut diminta kawan-kawan Jatam untuk mengkampanyekan perjuangan mereka ke ranah publik Jakarta dalam event bernama South to South Film Festival. Sebuah event dua tahunan yang menggelar film-film bertema lingkungan. Sebuah festival yang tidak mengedepankan mutu teknis visual film lebih kepada ceritanya- dengan tujuan untuk memberikan kesadaran. Nanti saya ceritakan kerja saya dan tim untuk South to South Film Festival tersendiri. Sayang sekali sekarang festival yang kepanitiannya selalu diwarnai drama dan pain in the ass itu, tidak aktif lagi.

Ketika saya mendengar cerita tentang perjuangan Aleta Baun dan  Mollo serta dua suku lainnya yang kemudian di sebut Masyarakat Batu Tunggku (cerita detil bisa dibuka dengan klik ini), saya sampe takjub dan bergetar. Cerita tersebut langsung mengingatkan saya pada cerita Avatar ( kalau enggak tahu film Avatar yang saya maksud bisa klik ceritanya juga di sini  saya menulis bahasannya lengkap di sini). Usai cerita, saya tanpa pikir panjang lagi langsung bilang, “Siap membantu.” Gratis, tanpa bayaran. Saya pun bertekada total untuk membantu Aleta Baun dan komunitasnya ini. Gila, cerita sebagus ini tenggelam di lokal dan hanya berputar di kalangan aktivis. Orang harus mendengar nilai-nilai yang diperjuangkan Aleta Baun dan Masyarakat Tiga Batu Tungku dalam melawan korporasi tambang yang jahat.  ‘

Total gila melakukan advokasi komunikasi dan media, sampai kerjaan utama saya terbengkalai dan kena semprot. Waktu dalam Festiva NIngkam Haumeni pertama, saya tidak punya kesempatan bicara dan ngobrol akrab dengan Aleta Baun. Karena waktu itu dia tampak tegang, karena sepertinya semua beban dan persiapan dibebankan ke dia. Baru bisa bicara banyak ketika dia datang untuk South to SOuth Film Festival, dimana saya sudah mempersiapkan dirinya untuk sejumlah wawancara dengan media dan juga memperkenalkan ceritanya kepada kawan aktivis komik strip dari Serrum.

Saya baru mengenal tokoh Aleta Baun personal saat itu.  NGobrol mendalam, dan juga tanpa keluh kesah dia melayani wawancara demi wawancara dengan media. Hingga jelang puncaknya, akhirnya kita bisa mendekati Tomi Tjokro , anchor Metro TV untuk wawancara dalam talkshow paginya di 8-11 show, melalui bantuan kawan, yaitu Bang Indra, teman seasrama selama sekolah di Australia. Masa itu nama Aleta Baun belum dikenal, termasuk tempat yang diperjuangkannya. Media selalu bertanya, “emm..siapa yah? Mollo negara mana?

Selama perjalanan dari kantor Jatam di Mampang menuju Kedoya kantor Metro TV, saya melihatnya termenung, memandang keluar dari jendela taksi. Saya merasa tidak enak karena memaksanya melakukan sejumlah wawancara demi wawancara dengan media sejak kami sepakat akan mendukungnya menyuarakan perjuangannya lebih kencang di South to South Film Festival, di Jakarta tahun 2012. Saya khawatir itu melelahkannya, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama berulang dari satu media ke media lainnya. Saya juga khawatir apakah sudah keterlaluan “mengeksploitasi” mama Aleta sehingga tidak memperhatikan “kelelahannya.”

“Mama letih? Katakan kepada saya jika sudah letih dan terlalu berlebihan, Ma. Saya hentikan semuanya untuk beri mama nafas,” kata saya mengikuti gaya bahasa orang Timor yang agak puitik, kadang.

Dia tersenyum lembut kepada saya sambil meremas punggung tangan saya.

“Tidak. Tidak letih, Jika ini untuk Molo. Ini bukan apa-apa dibandingkan berjuang di desa. Apalagi ini hal baik buat Molo. Saya malah senang, semua orang tahu Molo sekarang. Saya hanya sedih lihat langit Jakarta, selalu muram. Jalannya, orang-orang tergesa-gesa. Saya tidak bisa bayangkan jika langit Molo seperti ini. Kesedihan kami sekarang jika alam kami diganggu,” katanya.

Saya tersenyum sambil ikut memandang langit Jakarta dari jendela taksi. Yah, langit Jakarta dan Langit Mollo, bedanya sangat. Langit Molo selalu biru indah memesona.

Ketika kami tiba di studio Metro TV,  Tomi Tjokro menanyakan posisi Mama Aleta untuk informasi Narsum yang akan ditulis dalam subtitle, saya menuliskan di kertas : Aleta Baun Pejuang Perempuan Dari Mollo.

Ketika itu terbaca di televisi saat Mama Aleta bicara, kami semua merasa titel itu sudah pas dan tepat. Keren banget.

Sejak semua itu, media setidaknya mudah mengenal Aleta Baun.  Kami selalu ikut merasa senang, bangga, dan juga terharu, ketika penghargaan demi penghargaan datang padanya sejak itu.  Dari Goldman Prize Award, dan berbagai award lainnya. Semua hadiah itu dia kembalikan ke Mollo, ke masyarakatnya lagi. Kemarin malam beliau dinobatkan lagi sebagai salah satu yang pantas mendapatkan penghargaan HAM, Yap Thiam Hien. Saya membaca beritanya dengan haru sepanjang hari ini. Berharap beliau tidak pernah berubah, dan tetap menjadi perempuan yang menginspirasi semua orang. Tetap jadi pejuang, Ma. Salam hormat.

View on Path

Categories: CATATAN HARIAN | Tags: , , , , , , , , , | 4 Comments

Rui jangan cepat besar yah, nak

Tidak bosan-bosannya saya memandangi wajah bayi ini. Menggemaskan, dan tidur terus karena kata dokter suasananya masih terasa dalam buaian perut ibu. Kalau buaian rahim ibu nyaman. kasihan kamu harus keluar, yah. Hehehehe, iya saya ngaco. Continue reading

Categories: CATATAN HARIAN | Leave a comment

Tentang Kucing: Ibu meong korban KDRT

Sekarang ini tiap pagi dan  malam, balkon saya selalu didatangi ibu hamil ini. Badannya kurus kering, dan dia bunting. Setiap buka pintu balkon pagi hari jam 7, dia selalu muncul, juga tiap malam belakangan ini. Dia menatap saya dengan muka penuh kesedihan, memelas, bunting pulak. Siapa tega.

unnamed

Continue reading

Categories: CATATAN HARIAN | Tags: , , , , , | Leave a comment

Hutang gelar training Media Advokasi, lunas!

Hut

Saya sudah menyiapkan konsep dan trainng ini sudah lama sekali. Sudah beberapa kali juga ditunda, bahkan hingga setahunan. Saya ingin memberikan yang terbaik bagi komunitas-komunitas ini, agar jauh lebih berkembang dan berpengaruh bagi publiknya. Sehingga bisa memberikan banyak pencerahan kepada lainnya. Lewat momen ini juga saya ikutan juga  belajar dari mereka. Continue reading

Categories: CATATAN HARIAN | Leave a comment

Tentang kucing : Si Grey Sang Jagoan

Tadi, ketika lagi santai baca-baca buku sambil berbaring di tempat tidur kamar saya, tiba-tiba ada kecoa melayang lewat lubang angin. Saya kaget bukan main. Sumpah ngeri liat kecoa terbang. Saya emang sering naik gunung yang katanya olahraga orang jagoan (kata orang loh, bukan kata saya), tapi kalau udah ada kecoak lewat apalagi pake terbang. Sumpah, ngeriii.

Continue reading

Categories: CATATAN HARIAN | 1 Comment

Pejabat gaptek sosmed. Norak!

Malam ini ada cerita menggelikan sekaligus memuakan. Padahal saya baru aja ingin menikmati akhir pekan saya,  setelah sekian bulan saya bekerja di pelosok terus. Namun jadi  rusak karena masuknya SMS dan juga whatsapp yang akhir kalimatnya ditandai dengan tanda pentung banyak. Enggak banyak sih, cuma tiga. Isinya: Siapa yang update Instagram itu. Bahasa Inggrisnya ngaco. Memalukan. Hapus segera!!!! *empat pentungan ternyata.

Continue reading

Categories: CATATAN HARIAN | Tags: , , , | Leave a comment

Tentang kucing : Resmi memelihara kucing *tepuk tangan semuanya…

Yah, sudah sebulanan ini saya resmi memelihara kucing. Kucing kampung. Saya namai dia Si Grey, atau si Upik Abu, atau si Mpus. Karena warna dominannya abu-abu dan badan dalamnya putih bersih.  Setelah  sekian kali dihadapkan pada situasi mendapatkan “titipan” buangan kucing dari anak-anak kecil tetangga saya, dan terakhir kematian kucing kampung buduk di RS Hewan Ragunan, yang memukul dan mengecewakan saya, akhirnya, saya memutuskan mengambil satu anak kucing yang saya temukan tengah terlunta-lunta di jalanan jelang lebaran lalu. Saya berniat memeliharanya dengan serius. Meski enggak yakin benar, tapi sudah sebulanan ini saya berhasil memeliharanya di tengah kesibukan saya yang menggila. Si Grey tumbuh sehat dan lincah kayak yang yang memeliharanya. Hahahhaa.

Continue reading

Categories: CATATAN HARIAN | Tags: , | Leave a comment

Bedak beras itu sun block alami

Perjalanan hari kelima saya menyelami kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah Gambut, Kalteng. Sepanjang itu juga saya selalu berkeringat kuyup karena cuacanya yang panas dan kulit terpapar langsung dari matahari yang berada tepat di garis khatulistiwa itu. Sun block muka enggak berpengaruh di sini. Makin beletenglah saya. terutama muka dan punggung tangan saya.

Di Mentangai Hulu…(*ngantuk belum selesai)

 

(belum selesai….ngantuk…)

View on Path

Categories: CATATAN HARIAN, CATATAN PERJALANAN | Leave a comment

Kangen enggak kerja…

Ingin cepat pulang dan gak ngapa-ngapain. Hanya baca buku aja.

View on Path

Categories: CATATAN HARIAN, CATATAN PERJALANAN | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: