Jangan Lupa Bahagia

Semakin dewasa pertemanan juga makin terseleksi dengan sendirinya. Semakin dewasa, masing-masing orang memilih jalan hidup menjadi dirinya seperti apa. Semakin dewasa jaman juga berubah, dan kita sebagian besar juga berubah atau mengubah dirinya menjadi sesuatu yang diinginkan atau yang tidak diinginkannya. Sebagai pribadi yang mandiri dimana uang bukan lagi menjadi duduk soal, persoalan hidup saya sekarang ini mungkin tidak seberat orang-orang yang berkeluarga. Jadi seberusaha mungkin tidak mengeluh. Masalah sepele soal macet, kerjaan yang kadang menghimpit, atau paling banter soal ngedekor rumah yang kayaknya enggak pernah pas melulu.

Yah, saya pernah patah hati. Beberapa kali, dan waktu pertama kali terjadi, bukan hanya sesak dan merasa marah dan bodoh, rasanya sakit banget enggak terkira. Apa saya kapok dan trauma? Ternyata enggak juga. Hahahaha. Abis jatuh, dan saya jatuh cinta lagi, jatuh, jatuh cinta lagi…..karena jatuh cinta selalu asik meski sakitnya pun. Setidaknya dari sana, saya merasa hidup. Merasa benar jadi manusianya. Setidaknya saya perlu bangga dengan diri sendiri, karena setiap saya jatuh cinta dan cinta sama cowok saya selalu bersungguh-sungguh dan memberikan terbaik untuk yang saya cintai dengan cara saya tentu saja.  Saya tidak tahu mereka yang pernah saya cintai itu, saya pikir sama seperti saya, selalu membuat sesak dan kadang bikin sakit, hahahahaha. Tapi seperti itu saja. Ujian saya tidak pernah sebesar teman-teman perempuan saya, memilih orang yang salah dalam hidupnya yang dibawanya pula dalam perkawinan. Kadang demi “kesetiaan,”  dan juga mungkin faktor ekonomi, teman-teman perempuan saya terus terjebak dalam kehidupan perkawinan yang ingin terus diperlihatkannya sebagi keluarga sempurna dalam gambaran-gambaran di sosial media. Saya tahu tidak semuanya begitu, tapi saya tahu juga ada yang sering begitu.

Saya berhenti menangis karena patah hati yag dalam pertama kali ketika saya akan curhat dengan kawan dekat perempuan saya, ternyata dia curhat duluan menceritakan kehidupan perkawinannya yang hancur lebur bagaikan kisah sinetron yang serba dramatik, dan saya langsung malu hati sendiri. Persoalan hidup saya bukan apa-apa dibanding kawan-kawan perempuan saya yang bermasalah ini. Belum lagi ngomongin karena mereka juga terjebak karena memiliki anak, sehingga perkawinan harus dipertahankan atau bercerai dan menjadikannya sebagai orang tua tunggal. Sementara yang bertahan, hidup dalam getir dengan suami yang tidak menghormatinya sebagai perempuan dan ibu dari anak-anaknya, kadang ironinya beberapa kawan saya yang mengalami hal ini tetap ingin menampilkan “kehidupan sempurna,” melalui sosial media. Siang dia bisa cerita keluh kesah tentang suaminya yang tidak mengamil peran tanggung jawab penuh atas nafkah keluarga dan seolah menyesalkan terjadinya perkawinan dulu, lalu sore hari atau keesokan harinya dia bisa memasang status atau foto, “Terimakasih suamiku, bla, bla,…” lalu menampilkan foto keluarga sempurna. Palsu sekali hidupnya.

Saya tahu beberapa diantara kawan saya yang terpuruk dalam “pencitraan perkawinan sempurna dan bahagia,” (nyatanya enggak sama sekali), sering menyapa saya . Tujuannya bukan untuk benar-benar menanyakan kabar saya atau memang peduli dengan saya. Beberapa diataranya hanya ingin memastikan saya yang lajang hidupnya lebih sengsara daripada mereka karena belum ada lelaki menjadi teman seumur hdup saya seperti yang mereka miliki. Tapi mereka gagal total banget. Karena hidup saya jelas sangat berbeda dengan mereka. Berkat kawan-kawan saya ini saya tahu tujuan akhir dari kebahagiaan hidup bukan karena lo akhirnya menikah. Yah, bukannya menikah itu salah. Ya bukan itu maksudnya.  Saya hanya membicarakan kawan-kawan saya yang suka memalsukan kebahagiaan pernikahan dalam sosmed atau kesehariannya jika dia bersama teman-temannya.

Saya telah hidup dalam mimpi saya selama ini. Memang ada yang belum lengkap, yaitu laki -laki dalam hidup saya. Tapi dalam keutuhan hidup saya,  hal itu kemudian bukan lagi jadi yang utama. Apakah saya sengsara karena itu, apakah hidup kita harus terpuruk dengan hanya karena kita belum punya laki-laki dalam hidup kita? Hidup itu sangat berharga banget, dan singkat pula. Setidaknya saya tidak menyia-nyiakan waktu hidup saya dengan cara hidup bersi-sia. Demikian, dan janga lupa bahagia kawan, sambil memamerkan foto dengan senyum sumringah  berada di alam terbuka dengan bebas merdeka, serta kulit legam terbakar matahari.

View on Path

Advertisements
Categories: CATATAN HARIAN | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: