Jangan Lupa Bahagia

Semakin dewasa pertemanan juga makin terseleksi dengan sendirinya. Semakin dewasa, masing-masing orang memilih jalan hidup menjadi dirinya seperti apa. Semakin dewasa jaman juga berubah, dan kita sebagian besar juga berubah atau mengubah dirinya menjadi sesuatu yang diinginkan atau yang tidak diinginkannya. Sebagai pribadi yang mandiri dimana uang bukan lagi menjadi duduk soal, persoalan hidup saya sekarang ini mungkin tidak seberat orang-orang yang berkeluarga. Jadi seberusaha mungkin tidak mengeluh. Masalah sepele soal macet, kerjaan yang kadang menghimpit, atau paling banter soal ngedekor rumah yang kayaknya enggak pernah pas melulu.

Yah, saya pernah patah hati. Beberapa kali, dan waktu pertama kali terjadi, bukan hanya sesak dan merasa marah dan bodoh, rasanya sakit banget enggak terkira. Merasa ini adalah hal terberat dalam hidup. Dua mingguan sendu, melow, sakit…Hingga datang teman saya. Curhat. Bagaimana dikhianati suaminya, berkali-kali, dan dia harus bertahan demi anak-anaknya. Saya pun langsung berhenti bersedih. Kejadian patah hati yang mendalam langsung menguap seketika. Tersisa hanya rasa malu. Apalah soalku ini dibanding kawanku itu. Enggak ada pantasnya bersedih untuk merayakan kehidupan tersisa di depan mata. Apalagi memikirkan satu orang laki-laki. Apa yang kita anggap buruk belum tentu buruk di mata Tuhan. Setelah beberapa bulan melanjutkan hidup dengan baik, saya pun bisa memahami yang kita anggap buruk belum tentu juga di mata Tuhan. Saya bisa senyum melihat perempuan yang kini menjadi bagian dari hidup laki-laki yang membuat saya menangis dahulu. Saya pun merasa bersyukur Allah memberikan terbaik buat hidup saya dan menyelamatkan saya dengan caraNya.

Apakah saya kapok dan trauma? Ternyata enggak juga. Hahahaha. Abis jatuh, dan saya jatuh cinta lagi, jatuh, jatuh cinta lagi…..karena jatuh cinta selalu asik meski sakitnya pun. Setidaknya dari sana, saya merasa hidup. Merasa benar jadi manusianya. Setidaknya saya perlu bangga dengan diri sendiri, karena setiap saya jatuh cinta,  saya selalu bersungguh-sungguh dan memberikan terbaik untuk yang saya cintai. Saya tidak tahu sih,  mereka yang pernah saya cintai itu. Menyusuri cowok itu misteri bagi saya. Satu-satunya yang enggak bikin misteri laki-laki di dunia cuma bapak saya (lah, iya lah…Halooo…). Tapi seperti itu saja ujian hidup saya. Ujian saya tidak pernah sebesar sebagian teman-teman perempuan saya, memilih orang yang salah dalam hidupnya yang dibawanya pula dalam perkawinan. Kadang demi “kesetiaan,”  dan juga mungkin faktor ekonomi, teman-teman perempuan saya terus terjebak dalam kehidupan perkawinan yang ingin terus diperlihatkannya sebagi keluarga sempurna dalam gambaran-gambaran di sosial media. Saya tahu tidak semuanya begitu, tapi saya tahu juga ada yang sering begitu.

Ya memang, persoalan hidup saya bukan apa-apa dibanding kawan-kawan perempuan saya yang bermasalah ini. Belum lagi ngomongin karena mereka juga terjebak karena memiliki anak, sehingga perkawinan harus dipertahankan atau bercerai dan menjadikannya sebagai orang tua tunggal. Sementara yang bertahan, hidup dalam getir dengan suami yang tidak menghormatinya sebagai perempuan dan ibu dari anak-anaknya, kadang ironinya beberapa kawan saya yang mengalami hal ini tetap ingin menampilkan “kehidupan sempurna,” melalui sosial media. Siang dia bisa cerita keluh kesah tentang suaminya yang tidak mengambil peran tanggung jawab penuh atas nafkah keluarga dan seolah menyesalkan terjadinya perkawinan dulu, lalu sore hari atau keesokan harinya dia bisa memasang status atau foto, “Terimakasih suamiku, bla, bla,…” lalu menampilkan foto keluarga sempurna. Bah!! Kasihan melihatnya, memilih hidup seperti itu. Tapi saya tahu, ada orang yang sudah terlampau sakit lama sehingga tidak menyadari dirinya sakit dan perlu diobati. Tapi sudahlah. Seperti yang pernah saya tulis, orang yang telah dewasa telah memilih jalan hidupnya. Ada dimana orang sudah tidak tertolong lagi, jadi jangan habiskan energi untuk memikirkannya.

Saya tahu beberapa diantara kawan saya yang terpuruk dalam “pencitraan perkawinan sempurna dan bahagia,” (nyatanya enggak sama sekali), sering menyapa saya . Tujuannya bukan untuk benar-benar menanyakan kabar saya atau memang peduli dengan saya. Beberapa diataranya hanya ingin memastikan saya yang lajang hidupnya lebih sengsara daripada mereka karena belum ada lelaki menjadi teman seumur hidup saya seperti yang mereka miliki. Tapi mereka gagal total banget. Karena hidup saya jelas sangat berbeda dengan mereka. Berkat kawan-kawan saya ini saya tahu tujuan akhir dari kebahagiaan hidup bukan karena lo akhirnya menikah. Yah, bukannya menikah itu salah. Ya bukan itu maksudnya.  Saya hanya membicarakan kawan-kawan saya yang suka memalsukan kebahagiaan pernikahan dalam sosmed atau kesehariannya jika dia bersama teman-temannya.

Saya telah hidup dalam mimpi saya selama ini. Memang ada yang belum lengkap, yaitu laki -laki dalam hidup saya. Tapi dalam keutuhan hidup saya,  hal itu bukanlah elemen utama. Saya tidak akan menghabiskan hidup saya yang singkat ini di dunia dengan bersia-sia.

Jadi saya ingin mengatakan dengan nyaring, ” Jangan lupa bahagia, kawan!” tanpa basa basi dan diucapkan dengan sungguh-sungguh.  sambil memamerkan foto dengan senyum sumringah  berada di alam terbuka dengan bebas merdeka, serta kulit legam terbakar matahari. Tanpa rekayasa. Saya bisa menyatakannya tanpa pura-pura bahagia. Sebab siapa yang tidak bahagia hidup sesuai dengan mimpi kita….hahahaha.

View on Path

Advertisements
Categories: CATATAN HARIAN | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: