Nonton Film G30 S PKI Di mesjid-mesjid

Ke tempat Mbak Siti untuk mengantarkan jeruk bali yang dia  idamkan  karena bawaan jabang bayi di perutnya. Iya Mbak Siti tengah hamil 4 bulan. Meski tidak bekerja lagi untuk saya, tapi hubungan kami masih baik. Dia senang sekali dan tidak menyangka saya memenuhi ucapan saya yang disangkanya cuma becanda. Waktu ke rumahnya hanya dia saja yang menjaga warung kecilnya. Ketika ditanyakan anak sulungnya kemana, Mbak Siti bilang tengah ke mesjid. Aku kagum banget mendengarnya. Jaman kayak gini jarang ada anak-anak remaja mesjid mau ke mesjid.

“Ada acara apa di Mesjid Mbak?” Tanyaku.

“Ikut marawis, sekalian nonton film 30 S PKI,” jawab Mbak Siti.

“Nonton Film 30 S PKI di Mesjid?” tanyaku ingin ketegasan.

“Iya, ada nobar nonton film 30 S PKI untuk anak-anak remaja,” katanya lagi.

Aku terdiam tergugu. Berusaha mencerna.

Memang jelang akhir September dalam waktu lima tahun terakhir ini jadi drama tersendiri. Isu bangkitnya hantu PKI terus merebak demikian santer sejak Presiden Joko Widodo terpilih menjadi Presiden. Semakin drama lagi ketika mantan Panglima TNI Jenderal Gator Nurmantyo menyerukan untuk dipertontonkannya lagi film ini di tingkat Babinsa, RT, RW…(*tapi hingga mesjid? Saya baru tahu). Isu ini jelas ada muatan politik yang cukup kental, meski Pemilu Presiden tahun 2019 cuma tersisa dua tahun lagi. Mesjid-mesjid belakangan ini pun tampaknya harus ikut memperkuat barisan politik atau termakan isu yang dihembuskan simpatisan partai dengan sadar atau tanpa disadari. Mungkin. Saya tidak tahu pasti benar. Saya tidak ingin menulis berpanjang dengan riset literatur seperti biasa. Jadi saya biarkan dulu ceritanya seperti ini.

Daripada menceritakan hal ini, saya ingin menceritakan tentang sosok Mbak Siti aja deh/ Hampir tiga tahun lalu Mbak Siti membantu saya dalam merapihkan dan membersihkan rumah. Termasuk menyuci dan menyetrika baju saya. Hasil pekerjaannya membuat saya nyaman selalu setiap ada di rumah.

Nama asli Mbak Siti sebenarnya Painten. Nama Siti diambilnya agar lebih mudah saja dan agak lebih “mengkota” menurut Mbak Siti. Ketika mendengar jawabannya saya pun bergumam, “Siti yah kota Mbak,” kataku bergurau dan Mbak Siti bingung maksudku. Saya semakin suka dengan Mbak Siti karena dia bekerja dengan jujur. Saya selalu melihat uang diletakkan di atas meja televisi yang dibeberkan. Seperti bekas dikeringkan. Rupanya itu uang kembalian jajan saya yang suka saya sempalkan di kantung celana atau baju saya. Kadang kalau pulang kerja saya main buka enggak cek lebih dahulu isi kantung celana atau baju saya. Mbak Siti kadang begitu juga, main cuci begitu saja sampai uang receh jatuh dan nongol uang kertas di kantung. Dia mengeluarkannya, mengangin-anginkannya, dan membiatkannya di atas meja televisi. Saya bahkan kadang tidak mengngat bahwa ada uang kembalian di sana. Jika Mbak Siti mengambilnya pun saya tidak ingat.

Dia juga selalu bilang jika mengambil makanan saya sedikit pun, atau tidak akan menyentuh buah-buahan yang tersedia  hingga membusuk jika saya tidak memberitahukannya lebih dahulu dia boleh memakan dan mengambil semua makanan buah saya tanpa harus meminta ijin dari saya.

Dia juga menginformasikan saya jika ada salah satu kancing di baju saya yang lepas, atau secara tidak sengaja saat menggosok dia tidak sadar terlalu panas sehingga jilbab atau baju saya gosong atau bolong karenanya. Saya tidak marah untuk itu semua meski yang terkena baju atau jilbab mahal. Cuma sebuah barang saya bisa membelinya lagi. Saya malah bersyukur karena barang-barang itu semakin saya mengenal sosok Mbak Siti. Saya sangat sayang sama Mbak Siti karenanya. Saya bahkan tidak ragu memberikan baju-baju yang masih bagus yang sudah tidak saya kenakan lagi.

Mbak Siti juga seorng yang shalihah. Perlu waktu lama meyakinkannya bahwa tidak apa dia membuka jilbab dan mengganti semua bajunya dengan yang ringkas selama bekerja di rumah saya apalagi enggak ada laki-laki. Masalahnya tidak ada AC, kadang serasa panas. Kadang saya saja memilih mengenakan celana pendek dan kaos tipis.

Tapi sejak saya memelihara Grey dan Brownies kecil dulu, Mbak Siti memutuskan untuk berhenti selain niat dia juga ingin berkonsentrasi ingin punya bayi lagi setelah 10 tahun anak tunggalnya kini telah beranjak remaja. Berat bagi saya tanpa Mbak Siti. Dia bekerja dengan baik sekali. Bukan itu saja dia sangat jujur, dan tidak pernah membicarakan kejelekan orang lain. Dia juga perhatian dengan kesehatan saya, sering sekali dia membawakan makanan. Tapi saya tidak bisa memaksanya jika harus berhenti kerja.

Oh iya kembali ke cerita di atas. Aduh jadi panjang menceritakan sosok Mbak Siti. Aku tanya dong dimana mesjid yang menayangkan film tersebut.

Advertisements
Categories: CATATAN HARIAN | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: