Terkapar di Rumah Sakit

Akhirnya dilepas juga jarum-jarum infusnya. Setelah delapan hari di rawat di rumah sakit telah menyisakan berupa bengkak-bengkak di punggung telapak tangan saya yang kemudian meradang dan menimbulkan warna lebam menghitam. Ada Lebih lima kali tusuk dan empat kali berubah posisi infus. Hal ini disebabkan, kata si penusuk-  si Mbak perawat- pembuluh darah saya, urat-uratnya terlalu halus dan ketipisan.

Tersiksa sekali buat saya yang tidak pernah mengalami penginfusan apa pun di anggota tubuh saya  dalam waktu lama. Alhamdulillah semua kini berakhir. Meski menyisakan bengkak-bengkak setelahnya …Tapi dalam beberapa hari, katanya, akan kebentuk semula. Kendati begitu saya  bersyukur banget karena masih  diberi kesempatan untuk sehat lagi. Selama sakit ini saya seperti dibersihkan dalam berbagai hal yang ada di dalam tubuh saya. Selama di rawat inap di rumah sakit pula membuat saya juga banyak merenung tentang hidup dan mati, Mungkin saya berlebihan sampai berpikir demikian, padahal sakitnya hanya tipus dan magh akut. Tapi yah, itu yang saya rasakan.

Orang  meninggal itu kan, bisa disebabkan dengan kondisi apa pun. Ada yang diberi sakit dulu, ada yang sedang tidur, ada yang kecelakaan, macem-macem. Mungkin benar juga yang pernah dikatakan Rasulullah dalam hadist yang diriwayat Imam Al-Bukhori, sakit itu bisa menjadi penghapus dosa…..Meski tidak tahu juga bagaiman bisa demikian.

Mungkin karena sakit telah  memberikan ruang untuk diri sendiri lebih dekat ke Tuhan. Sakit di dunia sebagai penebus dosa-dosa.  Kalau kita bersabar dengan sakit kita sendiri, dan memanfaatkannya lebih banyak dengan beristighfar, jadi makin banyak waktu mengingat Tuhan.

Itu terjadi juga sama saya.  Ternyata ada baiknya juga yah terkapar di rumah sakit.

Saya bersyukur juga dikasih sakit, membuat tubuh saya istirahat meski pikiran saya tidak bisa diistirahatkan. Menikmati momen proses pengobatan dan memahami penyakit kita sendiri. Malu sebenarnya saya berada di Rumah Sakit. Tapi yah ada saatnya kita disuruh menyerah, dan disuruh istirahat- secara paksa.

Saya juga berpikir kenapa saya dikasih sakit meski jawabannya jelas memang saya terkena tipus. Tapi penyakit saya mungkin akumulasi dari 10 pekerjaan terakhir saya di suatu lembaga pemerintahan yang baru di bentuk oleh Jokowi. Saya harus menghadapi hal-hal tergila yang belum pernah terjadi selama bekerja. Saya juga harus menghadapi birokrasi pemerintahan yang luar biasa menguji kesabaran saya yang jelas tidak pernah bisa jadi orang sabar. Melihat banyak orang berebutan posisi dan begitu jumawa dengan posisinya. Muak dan tidak bahagia. Seiring saya menegaskan menolak memperpanjang kontrak bekerja di sana, dan setelah tahun baru usai dimana saya akhirnya punya kesempatan kumpul dengan keluarga, saya langsung jatuh sakit. Waktu saya bilang ke bapak saya bahwa saya tidak bekerja di lembaga tersebut bapak saya malah senang. Dia bilang, “Baguslah Nak. Kerja sampai sedemikian dihargai bos mu pun tidak malah meremehkan. Lagipula sejak kapan kamu kerja dan makan gaji uang negara. Keluarga kita tidak hidup di sana. Sudah benar kamu resign menjauh dari orang-orang berkarakter busuk, culas, dan berhati kasat. Bisa rusak kamu jika lama bekerja dengan dia. Kamu lebih baik dari itu dan kamu bukan orang semacam itu,” kata bapakku yang semakin membuat mantap keputusan.

Meski kemudian puncak dari rasa kemuakan dibersihkan dengan sakit ini. Uang saya banyak terkuras selama pengobatan dan perawatan di Rumah Sakit. Saya berpikir rupanya uang yang membuat saya tidak bahagia juga dikuras sekalian untuk biaya obat ini. Alhamdulillah kalo gitu.  Jadi saya bisa memulai lagi dengan yang baru. Dengan uang yang “halal” tanpa disumpahi keluh kesah dan kesedihan.

Memang ada bagian  mengesalkan ketika di rawat inap di rumah sakit.  Apakah itu? Yah itu tadi,  ketika harus diinfus dan berganti-ganti posisi infusnya. Untung saya  di rawat di Rumah Sakit Jakarta hanya delapan hari. Enggak bisa bayangin lebih dari itu dan saya yakin tidak ada tempat lagi di tangan saya bisa menerima infusan. Tidak kebayang lagi jika yang sakit adalah anak-anak bayi, atau anak Balita yang masih kecil-kecil. Aduh….Termasuk tidak terbayangkan jika kucing-kucing saya mengalami hal semacam ini.

Terakhir pertama kali saya di rawat di Rumah Sakit untuk pertama kalinya adalah waktu usai  mengerjakan skripsi. Ada kista di payudara bagian kiri dekat ketek saya.  Saya ingat banget yang memeriksa dan mengoperasi saya adalah Dr Evert D.C Poetiray, Sp.B. Saya ditangani dokter terkenal dalam bidang penanganan kanker. Dia dokter yang bijak juga dan tidak “mempermainkan” pasiennya dengan obat-obat sponsor. Dia bahkan tidak menyarankan saya menginap lama di rumah sakit setelah operasi jika saya dianggap telah membaik. Alhamdulliah kista yang diangkap sebesar biji salak itu tidak berbahaya kata dokter. Selama satu tahun saya disarankan untuk menjadi vegan. Saya menurutinya, dan sempat melakukannya selama setahun, dan rusak pola makan saya ketika bekerja menjadi wartawan di Solo.  Hahaha. Yah itu  saja pengalaman saya lama dan menginap di rumah sakit. Setelah puluhan tahun kemudian saya diberi sakit lagi yang pake menginap di rumah sakit segala.  Ih, inii ceritanya memanjang kemana-mana.  Saya memang dikenal sebagai orang yang jarang sakit. Tapi giliran sakit biasanya parah. Penyakit kambuhan saya adalah radang tenggorokan, dan magh. Serta migrain yang berlebihan jika menjelang mensturasi.

Nah pengalaman di rawat di Rumah Sakit juga seru buat saya. Pertama soal makanan. Teryata sakit tidak mempengaruhi nafsu makan saya. Apalagi setelah rasa mual-mual dan eneg sudah terobati. Bahkan untuk masakan rumah sakit yang katanya enggak enak, saya memakannya dengan lahap juga. Yah, karena enggak ada pilihan sementara perut lapar. Meski kepengennya makan bakso, mie ayam, soto dan sejenisnya….Mie instan juga salah satunya, hahaha.

Menyenangkan lagi jika sakit dijengkuk kawan-kawan baik. Kawan baik yang menyempatkan datang  menjenguk di tengah kesibukannya. Hampir semua kawan baikku sibuk luar biasa. Jadinya saya langsung mudah terharu ketika mereka datang. Tentu saja, yang selalu ada menenami dan ada di saat nelangsa begitu adalah orang tua. Emak dan bapak saya selalu ada untuk saya.

Karena saya sudah dewasa, saya tidak memperkenankan orang tua atau saudara saya menginap di rumah sakit. Apalagi sakitku tidak parah-parah banget. Kasihan. Mengnap dan menjaga orang sakit itu perlu energi tersendiri. Capek. Saya idak ingin setelah mereka menjaga saya lalu setelahnya gantian sakit. Lagipula sudah ada suster-suster dan saya sendiri mampu bangun, berdiri dan berjalan jika ingin ke kamar mandi. Bahkan mampu juga unuk shoat lima waktu dengan berdiri tegap tanpa harus di kasur.  Selain itu juga memberikan waktu untuk diri kita sendiri merenung dan berkontemplasi….ciee……hahahhaa.

Alhamdulillah, semuanya selesai kini…..

 

 

 

 

View on Path

Advertisements
Categories: CATATAN HARIAN, Tak Berkategori | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: