Mas Fabby “Guru” Energi Terbarukan

Saya tahu selama bekerja di bidang enggak jauh dari isu-isu yang saya geluti sekarang pasti akan ketemu orang-orang yang itu lagi dalam lingkarannya. Salah satunya kali ini saya bertemu dengan Mas Fabby Tumiwa. Lepas bekerja sosial dan kemanusiaan dari Aceh, saya langsung bergabung di lembaga kecil yang saya baru pertama kali mendengarnya. Namanya IESR. Apa itu, hingga sekarang pun saya eggak pernah apal singkatannya, hahahaha.  Lembaga ini kecil saja dan diisi hanya lima pekerja. Tapi semuanya adalah “anak-anak jenius” yang kadang untuk oranng biasa kayak saya, mereka jadi terlihat emang “aneh.” Hahaha. Tapi saya suka. Banyak belajar seperti biasa dari mereka. Bos mereka, adalah Fabby Tumiwa yang kemudian saya juga bekerja untuk lembaga yang dipimpinnya.

Dari Mas Fabby, meski saya bekerja singkat saja di sana, cuma delapa bulan, banyak hal dia membawa saya untuk bisa melihat dari sisi-sisi lain mazhab=mazhab aktivis dan LSM Indonesia.Tapi lebih dari itu, setiap ada kesempatan, saya bisa berdiskusi lama tentang hal-hal yang saya kurang pahami dan kuasai dengan baik. Misalnya energi terbarukan. Saya menyerap dengan baik penjelasan-penjelasannya. Termasuk soal dunia tambang dan juga pendanaan perubahan iklim dan sistem keluar masuknya uang dari para donor dalam putaran mata uang dunia.

Dari Mas Fabby juga saya dipinjami beberapa buku kunci yang membuka saya pada peta dan skema alurnya dana internasional untuk pembangunan di Indonesia. Bukan itu saja dari isu energi terbarukan, saya juga dibawanya untuk mengenal energi nuklir. Nyaris saya menjadi kampanye khusus ini. Saya menolak, enggak percaya diri.Merasa bukan bidang saya.

Di tempat ini pula, saya membangun sistem media dan komunikasi yang saya merasa senang mengerjakannya. Karena saya mengerjakan dari awal. Dari yang enggak ada, jadi sesuatu yang ada dan membawa organsasi ini sedikit demi sedikit dipahami publik. Saya keluar, karena ingi n mendapatkan pengetahuan lainnya. “Beguru,” dengan lainnya.Meski Mas Fabby tidak suka dan tidak bisa menerima saya keluar, tapi dia tahu pilihan itu ada pada saya.

Hingga akhirnya pada titik hari kemarin, saya dipertemukan lagi.  Tidak ada yang berubah, kecuali badannya yg makin melebar, hahahhaa.

 

View on Path

Advertisements
Categories: Tak Berkategori | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: