Tentang Kucing: Ibu meong korban KDRT

Sekarang ini tiap pagi dan  malam, balkon saya selalu didatangi ibu hamil ini. Badannya kurus kering, dan dia bunting. Setiap buka pintu balkon pagi hari jam 7, dia selalu muncul, juga tiap malam belakangan ini. Dia menatap saya dengan muka penuh kesedihan, memelas, bunting pulak. Siapa tega.

unnamed

Emm, sepertinya saya mengenal kucing ini. Entah kapan saya pernah melihatnya berkeliaran di lorong-lorong kampung padat tersisa Karet Gusuran, Setiabudi. Tapi saya ingat. Saya berpapasan dengannya waktu saya menuju pangkalan ojek sebelum pergi kerja. Dia berdiri di pojok warteg, dan langsung menjadi perhatian saya karena ada bekas luka di bagian paha atasnya yang mulai mengering. Membuat bagian itu memitak. Saya mengira mungkinkah itu bekas ke(di) siram air panas oleh manusia. Saya memandangnya. Dia menatap saya. Ah, dia seekor kucing betina yang cantik. Molek.  Badannya tidak sehabis ini- kurus kering, melainkan masih berisi dan iya, cantik. Gimana menggambarkan kucing cantik….warna kuning kecokelatannya masih bersih dan bersinar, wajahnya meski sendu, tapi lembut dan feminim (*kucing atau manusia, sih?). Tidak heran mungkin, para pejantan tangguh, bermuka kucing-kucing garong penghuni seantero Karet Gusuran menyukainya. Karena kapan waktu saya melihatnya lagi, sepertinya dia selalu hamil. Tapi saya tahu, setiap melahirkan dia selalu kehilangan anaknya, dan tidak ada satu pun manusia sudi menampungnya saat anak-anaknya dilahirkan. Sementara anak-anak kucingnya terancam diterkam dijadikan makanan kucing garong.

Kehidupan kucing didaerah padat Jakarta sekeras manusianya. Saya melihat mereka seperti mempunyai sistem sosial sendiri terhadap wilayah dan juga atas para betina yang tampaknya sedikit dibandingkan pejantannya di wilayah itu. Darimana saya menghitungnya? Emmm….yah aku enggak menghitung satu-satu. Tapi setiap lewat saya bisa menandai kucing-kucing yang bersileweran di tiap gang. Kadang yang jantan-jantan ini suka berkelompok kadang sendiri-sendiri. Tapi mereka “preman.” Kadang suka memakan salah satu anak-anak kucing yang baru dilahirkan. Darimana tahunya, karena salah satu dari mereka menandai saya ketika saya menyelamatkan empat anak bayi kucing yang tampaknya baru dibuang entah oleh siapa.

Waktu itu, empat kucing jantan, entah yang mana bapaknya, saling menggeram seperti memperebutkan bayi-bayi kucing itu. Saya mau mengabaikannya tapi saya melihatnya. Karena saya manusia – yang pasti mereka tahu makhluk paling kejam di dunia kucing-  para pejantan langsung ngibrit ketika saya menerebos dan mengambil empat bayi kucing dan saya masukkan dalam tas. Salah seekor kucing jantan itu menatap saya geram. Besok pagi di balkon saya sudah ada satu sosok mayat anak kucing. Dua kaki belakangnya dimutilasi rapih, dan lehernya terkoyak. Anak kucing itu mati bukan dikonsumsi sebagai makanan itu jelas, tapi dipersiapkan untuk memberikan tanda peringatan buat saya.  Sejak itu saya tahu ini kucing telah menciptakan sistem sosial yang paling barbarik di dunia  perkucingan. Saya pun menandai kucing yang mengajak perang dengan saya . Kucing abu-abu berbadan kekar dan besar. Muka gemuk dan sangarnya ada bekas codet melintang dari pipi hingga telinga. Seangker-angker dan sepremannya kucing, tetep aja manusia menang. Sekali liat saya timpuk dia pake sendal. Sendal orang entah siapa yang ada di tempat. Dia langsung ngibrit dan sejak itu setiap melihat saya, dia langsung ngacir.

untitled

Kini saya melihat si ibu kucing cantik ini lagi. Saya sedih melihat wajah cantiknya memudar. Dia hamil lagi. Tapi badannya habis. Saya melihat ada bekas luka – mau kering- di bagian dekat kemaluannya. Saya hiba sekali. Otomatis saya ingin menyentuh dan mengelusnya. Saya ingin menunjukkan niat baik saya untuk bisa mengobati lukanya itu. Tapi apa nyana, waktu tangan saya akan menyentuh kepala dan ingin mengelus sayang. Dia mendesis serak, dan dengan gerakan cepat dia mencakar tangan saya, yang seketika langsung bergaret panjang dan berdarah. Saya kesakitan, tapi saya melihatnya mata si ibu kucing lebih sedih lagi, dan dia mengkeret takut. Saya paham, kucing ini telah sering kali mendapatkan perlakuan jahat dari manusia sekitar sana, sehingga ayunan tangan seperti tanda saya akan menyerangnya. Saya tidak berani menyentuhnya lagi.

Bahkan dia juga tidak ingin didekati Gray. Mungkin dia menganggap Grey adalah kucing laki-laki yang kelakuannya sama saja dengan para jantan yang dia kenal selama ini. Dia lupa Grey badannya aja bongsor, padahal Grey masih kecil. Lagipula Grey itu pejantan yang sopan. Dia enggak berani memaksa waktu si ibu itu menggalakinya. Grey sudah saya “didik” dengan baik.  Hahahha. Grey hanya mengawasi dan menjaganya di kejauhan.

Yah sudahlah ibu hamil, aku kasih kamu kenyamanan dan keamanan aja di sini. Semoga selalu sehat..

View on Path

Advertisements
Categories: CATATAN HARIAN | Tags: , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: