Pejabat gaptek sosmed. Norak!

Malam ini ada cerita menggelikan sekaligus memuakan. Padahal saya baru aja ingin menikmati akhir pekan saya,  setelah sekian bulan saya bekerja di pelosok terus. Namun jadi  rusak karena masuknya SMS dan juga whatsapp yang akhir kalimatnya ditandai dengan tanda pentung banyak. Enggak banyak sih, cuma tiga. Isinya: Siapa yang update Instagram itu. Bahasa Inggrisnya ngaco. Memalukan. Hapus segera!!!! *empat pentungan ternyata.

Saya mengernyitkan muka. Sekali baca saya yakin benar, tim saya tidak akan melakukan kecerobohan bodoh semacam itu. Karena perintah saya sangat jelas, ini lembaga negara Indonesia, semua postingan sosmed harus menggunakna bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya juga percaya dengan tim saya. Saya hanya mengira dan juga  langsung tahu yang bersangkutan pasti baru menjadi instagramer pemula. Bisa dipastikan juga jempolnya terlalu gendut, dan kecepatan memencetnya tidak sinkron dengan otaknya. Sehingga dia memencet terjemahan otomatis.

Tapi saya tetap memeriksa kembali akun yang dikelola tim saya untuk lembaga negara ad hoc ini. Semuanya tidak berbahasa Inggris, Masih seperti sebelumnya. Lalu saya membalas pertanyaan pentungan itu dengan whatsapp dan sms. Menjelaskan bahwa tidak pernah ada postingan dalam bahasa Inggris. Semua postingan di sosmed selalu dengan bahasa Indonesia melalui proses persetujuan supervisor, jadi tidak pernah ada yang luput dari pengawasannya. Satu-satunya yang terlihat kenapa jadi berubah menjelma menjadi bahasa Inggris yang ngaco adalah ketikan jempol kita atau layar yang kita buka secara otomatis membaca dan memencet menu terjemahan pada aplikasi tersebut.

Nah, lucunya lagi dia tanya lagi begini:  nah, apakah menu terjemahan itu bisa diapus atau enggak?  Lah, saya jadi ketawa bacanya. Dia enggak tahu kali, kalau instagram baru saja mengumumkan mereka menyediakan menu terjemahan untuk mempermudah 300 juta penggunanya  di luar amerika serikat agar bisa paham postingan pengguna wilayah lainnya. Masalahnya adalah instagram enggak tahu juga bahwa menu terjemahan yang disediakannya itu keluaran terjemahannya ngaco banget. Jadi saya menjelaskan panjang lebar lagi. Lalu dia bilang ada terjemahan yang tidak terlihat lagi setelah diedit apakah bisa diedit semua. Saya bilang enggak bisa. Lalu saya mulai jengkel dan letih dengan pertanyaan konyol dan juga hal-hal enggak penting kayak gini. Sekarang ini menu terjemahan emang disediakan di setiap sosmed. Jika dia telah mengatur tampilan teks sosmednya dengan bahasa Inggris atau bahasa lainnya maka seringkali yang muncul terjemahan per-kata yang kesannya jadi kacau banget. Tapi itu tidak akan pernah terlihat di postingan aslinya, melainkan hanya terlihat pada hp kita sendiri.

Saya mulai tidak sabar melayani pertanyaan enggak penting ini. Terlebih, sepertinya saya diarahkan untuk melayani apa yang menjadi “kemarahan” seseorang yang punya posisi lebih tinggi dari kepala badan di istana -katanya-  sehingga membuat orang merasa panik dan  bersalah. Saya pun memutuskan soal tanya jawab tersebut. Lalu menanyakannya kembali,  siapa sih, sebenarnya yang menanyakan ini? (sehingga – seolah- menjadi soal, dan yang dipersoalkannya sebuah kekonyolannya sendiri? *tentu saja bagian ini enggak saya tanyakan ke dia).  Katanya yang menanyakan ini kepala lembaga karena dia juga ditegur oleh salah satu staf istana yang selama ini memantau kerja lembaga tersebut melalui sosmed. Kening saya jelas makin berkerut, mulai emosi dan merasa tidak lucu lagi.

Lalu di ujung whatsapp itu bertanya: Kita jawab apa yah, dan apa solusinya? Saya jadi terbelalak bacanya. Saya sebenarnya muntap. Mau marah dan menelpon langsung sambil memberikan penjelasan. Tapi saya tahu pasti saya akan telpon dengan nada tinggi dan kata-kata tajam yang bikin orang di ujung jempol hp bakalan sakit hati parah berdarah. Jadi saya memutuskan menjawabnya melalui WA juga. Lalu saya tulis: Bilang aja apa adanya seperti yang telah saya jelaskan di atas. Kita enggak pernah postingan dalam bahasa Inggris, bahwa yang bersangkutan telah memencet menu terjemahan atau telah mengatur sosmednya dalam terjemahan sehingga membuka otomatis terjemahan dalam bahasa  yang dipilih. Saran saya, lain kali sebelum ngeklik, gunakan jari kelingkingnya aja agar jempol gajahnya enggak salah pencet lagi. * saya ketawa sendiri baca teks yang saya kirimkan.

Di sana tidak membalas. Lalu saya menulis lagi : Saran berikutnya, sebagai staf istana yang kepo di sosmed, sebaiknya dia dibekali terlebih dahulu tentang tata cara menggunakan sosmed yang baik dan benar. Saya bersedia memberikan peningkatan kapasitas staf istana untuk itu, biar rasa keponya dilakukan dengan benar dan enggak bikin malu, karena ketahuan gagap sosmed. *Mau nambahin sekalian kursusin kelas kepribadian bukan menjilat.

Di WA dia menjawab : Ngaco kamu.

Lalu saya screen shoot-kan salah satu akun resmi orang nomor satu negeri ini. Saya sudah klik terjemahannya dan langsung diterjemahkan per kata sehingga hasil terjemahanya yang keluar ngaco. Sambil saya tulis ke pesan di WA: Sampaikan juga kepada yang bersangkutan yang lagi marah-marah. Daripada dia sibuk ngurusin sosmed orang lain suruh liat dia akun ini. Lebih parah lagi.

Diam di ujung sana.

Lalu saya mulai serius : Saya bingung. Di tengah urusan negara yang maha dahsyat dan besar ini, masa koordinasi tingkat istana ngomong sama seorang kepala tentang update-an sosmed? Salah pulak dia. Enggak penting banget menurut saya. Saya pikir bahasannya obrolan koordinasi mereka adalah tentang regulasi apa agar bisa mendisiplinkan perusahaan-perusahaan sawit agar mau eroperasi sesuai aturan. Misalnya.

Lalu di sana menjawab : Anggap ini sebuah kritik. Kalau enggak mau dikiritik jangan lakukan apa-apa.

Saya marah membacanya dan mulai menulis : Kalau seperti tadi, bukan kritik namanya, melainkan mencari kesalahan orang. Konyolnya lagi untuk sesuatu yang enggak substansial dan dia salah dan tampak bodoh banget. Saya pikir mereka akan bahas soal hal-hal penting yang lebih bernegara di level itu.

Saya enggak tahu politik soal posisi-posisi dan jabatan-jabatan. Saya enggak peduli bagaimana orang mencari muka untuk sebuah penilaian dan jabatan. Tapi kalau dia menyentuh kerjaan saya dengan cara yang ngaco kayak tadi, maka kelak batas sabar saya enggak bisa dikendalikan.  Mau dia kepala badan atau staf istana, saya enggak akan bisa lagi melepaskan karakter saya yang asli sesungguhnya sangat temparamental. Terutama menghadapi kedunguan yang dilakukan seorang “pejabat.” Kalau sudah demikian saya enggak pernah lagi melihat orang itu siapa. Demikian. Sekarang sekedar tahu aja.*masalahya dia tahu kita kagak kayak apa??

View on Path

Advertisements
Categories: CATATAN HARIAN | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: