Tentang kucing : Resmi memelihara kucing *tepuk tangan semuanya…

Yah, sudah sebulanan ini saya resmi memelihara kucing. Kucing kampung. Saya namai dia Si Grey, atau si Upik Abu, atau si Mpus. Karena warna dominannya abu-abu dan badan dalamnya putih bersih.  Setelah  sekian kali dihadapkan pada situasi mendapatkan “titipan” buangan kucing dari anak-anak kecil tetangga saya, dan terakhir kematian kucing kampung buduk di RS Hewan Ragunan, yang memukul dan mengecewakan saya, akhirnya, saya memutuskan mengambil satu anak kucing yang saya temukan tengah terlunta-lunta di jalanan jelang lebaran lalu. Saya berniat memeliharanya dengan serius. Meski enggak yakin benar, tapi sudah sebulanan ini saya berhasil memeliharanya di tengah kesibukan saya yang menggila. Si Grey tumbuh sehat dan lincah kayak yang yang memeliharanya. Hahahhaa.

Grey saya temukan di dekat kali kecil dekat apartement yang baru jadi di Setiabudi one. Saat itu dinihari dan rintik hujan, sepi. Kuping saya menangkap sayup suara anak kucing meong-meong yang kedengeran bagi saya seperti suara anak menangis. Saya berupaya mengabaikannya. Terakhir si Brownis yang saya temukan, kucing kampung budukan yang  saya minta dirawat di RS Hewan Ragunan mati. Saya kecewa sekali. Padahal saya sudah niatkan akan merawat dan menyehatkannya. Makanya saya berusaha menutup kuping agar saya tidak bisa melihat kesedihan kucing itu.

Almarhum (mah) Brownis saya temukan di pintu gerbang Bentara BUdaya Jakarta saat saya akan mendampingi relawan di acara Cerita Tenun Tangan. Begitu turun dari ojek dia berjalan tertatih-tatih dan badan gemetaran. Umurnya saya perkirakan baru tiga bulanan.  Terenyuh seketika. Saya mendekat, dan terlhat kulit punggungnya ada pitak dan bekas-bekas luka. Kupingnya pun demikian. Lusuh, dekil mengenaskan. Saya mengira kucing ini lapar, jadi saya berikan jatah makan siang saya. Saya tahu selama di jalanan ini dia tampak bertahan dengan baik. Saya tidak berniat memelihara atau membawanya. Gimana saya harus merawatnya, sementara esok harinya saya harus pergi ke Sibolga selama sepekan.

Saya berharap makan siang saya membuatnya kuat kembali. Benar saja dia makan gemetaran dan antusias. Lalu saya sibuk lagi dengan pekerjaan dan kegiatan saya. Malam abis Isya saya pamit pulang dan keluar dari pintu kantor BBJ. Lalu, di sana, satu meter dari pintu, kucing itu sudah duduk tegak menunggu saya. Begitu saya melangkah dia langsung duduk di atas sepatu saya. Terenyuh sekali hati saya. Saya pun bertekad memeliharanya. Tapi karena keesokan hari hingga seminggu ke depan saya harus tugas ke Sibolga saya berpikir ada baiknya dia dirawat di rumah sakit hingga sehat sehingga begitu saya kembali dia sudah membaik. Tapi nyatanya begitu seminggu kemudian, saya mendapatkan kabar kucing saya sudah mati.

Saya kecewa dan sedih sekali. Marah. Marah sama Rumah Sakit tapi saya tahu percuma. Saya hanya merasa bersalah. Saya hanya berpikir andai waktu itu saya cuekin itu kucing pasti dia masih hidup. Sejak saat itu saya enggak peduli lagi. Mata saya berusaha “buta” telinga saya “tulikan.” Tapi ternyata enggak bisa.

Makanya begitu melihat Grey yag tersembul di antara semak taman, dan menggigil kedinginan, langkah saya pun terhenti. Dia menatap saya dengan mata yang sedih. Saya menunggu dan melihat sekeliling. Siapa tahu ada induknya atau apa. Lama, ternyata tidak ada. Saya berusaha mengabaikannya dan berjalan lagi. Dia meong keras lagi dan mengikuti saya. Saya eggak tega maka saya langsung berbalik dan mengambil si Grey tanpa pikir panjang. Karena libur panjang hingga lebaran,saya punya waktu banyak merawatnya. Besok paginya saya sudah memborong makanan kucing, membeli pipet, dan hal-hal yang dibutuhkan kucing. Terutama pasir untuk buang air.

Saya senang kini dia tumbuh sehat dan baik. Saya bangga dengan diri saya sendiri. Grey pun telah menjadi bagian dari keluarga besar saya sepanjang lebaran. Yah, meski orang tua saya kecewa karena lebaran tahun ini saya masih enggak bawa calon mantu bagi orang tua saya melainkan anak kucing, Hahahahha. Tapi aku senang bapak saya cukup terhibur juga dengan kehadiran s Grey. Dia ngomong ama kucing, hahahaha. Anak ama bapak sama gilanya. Ngomong ama kucing 😀

Melihatnya tumbuh berkembang dan cerdas saya bangga banget. Saya sibuk, tapi nyatanya saya bisa memelihara anak kucing juga. Lihat dia seperti anak kecil pada umumnya, punya rasa antusias. Seperti hari ini dia penasaran dengan cicak-cicak. Dia loncak-loncat dan ingin memastikan. Rasa ingin tahunya besar, hingga dia naik-naik ke meja TV. Yess….dia kucing kampung saya…kucing kampung yang cerdas kayak yang memeliharanya. *tepuk dada ala  King Kong .

Advertisements
Categories: CATATAN HARIAN | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: