Tentang Kucing – Ketemu Tante Rika yang baik hati

Hari ini dapat kiriman foto lewat WA dari Tante Rika yang mau merawat si Grey aka Upik Abu selama sepekan ini. Tante Rika itu bukan saudara, bukan teman, intinya tidak ada relasi apa pun dengan saya. Tante Rika baru saya kenal seminggu lalu, saat saya ke Klinik hewan peliharaan (anjing kucing) di Pejaten. Saat itu saya bingung, karena akhirnya sampai juga pada situasi dimana saya harus tugas panjang keluar kota. Sementara saya memelihara seekor anak kucing yang giginya baru tumbuh dan saya enggak yakin apakah dia bisa mencari makanan sendiri jika selama sepekan saya lepas begitu saja keluar. Saya bisa saja menitipkan ke adik atau kakak saya. Tapi mereka tidak suka kucing. Bukan benci, tapi mereka geli dan merasa kucing itu hewan jorok. Kencing dan BAB sembarangan.

Kalau punya hewan peliharaan maka kita wajib menjaganya dengan baik dan jangan sampai melalaikannya. Saya tidak mau menjadi orang tidak bertanggung jawab terhadap mahluk hidup yang telah menjadi tanggungan  kita. Sibuklah saya menelepon kawan-kawan  komunitas pecinta kucing kampung yang selama ini menolong saya jika saya kedapatan buangan kucing di balkon (*entah kenapa selalu begitu). Biasanya mereka membantu mencarikan orang yang akan mengadopsi dsb.. Waktu itu mereka selalu berkata, “Kayaknya kamu memang ditakdirkan harus memelihara kucing, deh. Kenapa tidak kamu rawat sendiri,” demikian kata mereka. Waktu itu saya ketawa sambil menggeleng. Bukan karena saya tidak suka kucing, saya suka kucing juga. Tapi saya tidak berniat memelihara atau menjadikan mereka hewan peliharaan. Hakikat hewan kan bukan dipelihara. Tapi diliarkan menjadi dirinya sejati, seekor kucing. Iya, gak sih. Selain itu faktor utama saya tidak bisa memelihara kucing atau hewan lainnya karena kerjaan saya yang menuntut harus keluar kota dalam waktu yang lama.

Kalau dia kucing besar kan, bisa mencari makan sendiri dan menjaga dirinya sendiri. Nah, kalau kucingnya masih bayi dan anak-anak, bagaimana dia bisa mandiri cari makan sendiri. Tapi  sekarang saya memeliharanya dan kawan-kawan penyayang kucing kampung pada bersorak penuh kemenangan. Hahahah. Mereka pun membantu saya merekomendasikan tempat-tempat penitipan hewan. Salah satunya di Pejaten dimana akhirnya saya ketemu Tante Rika.

Saya pun membawa Grey. Sumpah ini pengalaman baru saya membawa hewan ke klinik hewan dan saya merasa malu. Kok, gaya banget pake bawa ke klinik. Menuju Klinik saya menggunakan  Grab Bike. Grey saya masukkan dalam tas ransel di depan. Kancingnya saya buka sehingga dia bisa menongolkan kepalanya dengan antusias sementara saya sibuk memastikan kepalanya tidak terlalu keluar dari tas karena bisa menjadi perhatian orang sejalanan. Dia meong-meong sih. Tapi karena jalanan lebih riuh jadi yang mendengar meong-meong tentu saja hanya saya dan tukang ojek. Saya tidak punya tas atau kandang gaya untuk kucing. Memang saya bukan pemelihara kucing. Saya pun tidak mengurung kucing di rumah. Karena enggak punya kandang juga. Lagipula buat apa kucing dikandangi? Sifat aslinya kan, aktif.  Melompat ke sana kemari dan berpetualang.

Begitu tiba di klinik saya jadi agak minder. Karena didalamnya….. Semuanya  bukan seperti kucing saya. Mereka kucing “ningrat.”  Grey memandangi mereka, sambil mengencangkan cengkraman di bajsu pada dada saya (saya melepaskannya dari tas dan menggendongnya). Saya menenangkannya, dan mendudukkannya di pangkuan saya sambil mengelus leher dan pundaknya sehingga dia tenang. Dia bahkan diam dan duduk manis di pangkuan saya, sambil menunggu giliran. Seolah paham.

Begitu tiba giliran saya, seorang petugas- eh ternyata pemilik klinik yang juga dokter hewan menanyakan ke saya tentang profil kucing. Ketika di tanyakan umur kucing, saya jawab tidak tahu. Lalu saya jelaskan bahwa kedatangan saya ke sana untuk menitipkan kucing.

“Apakah kucingnya sudah di vaksin?” tanya dokter hewan tersebut. Saya menggeleng. Vaksin? Ok, kenapa jadi sejauh ini. Saya cuma mau menitipkan kucing untuk dijaga selama saya pergi tugas keluar kota, karena menurut saya dia belum bisa cari makan dan menjaga dirinya sendiri.

“Kita tidak ingin ambil resiko. Di sini kan, banyak kucing yang juga dititipkan. Khawatirnya kan, kena virus.” tambahnya.

“Kalau gitu vaksin aja, sekarang,” kata saya, tdak ingin berbelit setelah mendengar manfaat vaksin bagi kucing. Lalu dia bilang seperti halnya bayi manusia, anak kucing yang baru di vaksin juga akan rewel, harus diperhatikan karena dia akan mengalami demam. Artinya harus ditemani.

“Nah, sementara mbak mau keluar kota. Kasihan nanti kucingnya.”

Ishhh…repot. Berpikir keras mau dibawa kemana ini kucing. Ingat kakak dan adik saya yang menolak merawat kucing saya membuat saya kesal bukan main. Sambil duduk saya lagi melist orang-orang- kawan-kawan saya yang mungkin bisa menolong saya. Lagi mikir, Tante Rika muncul dari ruang periksa. Dia mendengarkan percakapan saya dengan dokter hewan yang juga merawat kucingnya yang sakit di sana.

“Kalau mau dirawat di rumah saya aja. Saya banyak kucing di rumah. Nanti kalau kamu kembali dari tugas, kucing bisa diambil. Siapa nama kucing kamu?” kata Tante Rika. Mata saya jelas lanngsung berbinar dan berterimakasih banget. Enggak nyangka ketemu orang baik. Hari itu juga saya mengikuti Tante Rika dan suaminya ke rumahnya dengan menggunakan mobil yang di bawa suaminya. Dalam mobil, sepanjang jalan dia bercerita soal kucing angora hitamnya yang sakit dan kucing-kucing angora lainnya yang menggemaskan. Dia bahkan menunjukkan foto-foto kucing angoranya di dalam hpnya. Suaminya pun juga menimpali cerita soal kucing-kucing mereka itu. Saya lebih banyak mendengarkan, ” Ooooh…” “Masa sih, Tante.” “Wah, keren.” Yah komentar-komentar yang emang pengen saya bilang,” Gila yah, ada orang begitu penyayang kucing sampai demikian rupa. Grey, hanyut dalam belaian tangan saya dileher yang membuatnya langsung tidur di pangkuan saya sepanjang jalan. Tante Rika senang melihat kucing kampung saya terlhat manis dan penurut. Heheheh, belum tahu aja dia nanti.

Tiba dirumahnya yang besar di kawasan Rancho  Indah Resident, benar loh. Banyak kucing dan seekor anjing. Satu anjing yang duduk kalem di depan pintu dapurnya. Dia menceritakan sejarah dia mendapatkan anjing yang terlunta-lunta nyaris mati waktu itu. Lalu, bukan hanya kucing dan anjinng tapi juga dia memelihara Tupai, dan…landak?! Serius?? Ok….ini di luar kebiasaan. Ada lagi…..Siamang umur tiga tahunan. Ok, yang terakhir ini sepertinya dia sudah keterlaluan dan tidak tahu dilarang memelihara hewan macam Siamang. Saya pun kemudian ngenes melihat Siamang dikurung. Tapi saya menahan diri, karena tujuan saya agar Grey bisa dirawat dengan baik.

Intinya, (hingga kemudian), jika keluar kota, saya menitipkan Grey kepada Tante Rika. Enggak nyangka, kan. Masih banyak orang baik di Jakarta.

Dari kejauhan Tante Rika selalu memberikan kabar terkini tentang perkembangan Grey di  rumahnya. Membuat saya tenang bekerja, tapi sekaligus cemburu. Karena saya lihat si Grey kelihatan betah banget bersama tante Rika. Lihat foto di atas, tampak Grey  nyengir seneng.  Ishhh….nanti saya jemput dia masih kenal dan mau balik enggak ke saya.

View on Path

Advertisements
Categories: CATATAN HARIAN | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: