Waktu saya menjalani puasa di bulan Ramadhan di Banda Aceh, saya pasti merindukan Jakarta. Bukan hanya karena orang-orang tercinta ada di sana, tapi saya merasa benar-benar merasakan arti “berpuasa.” Puasa di Jakarta itu tantangannya besar banget. Cium bau makanan, lihat teh botol yang berembun dingin di kulkasnya warung-warung kalau kita lagi lewat, cium bau kopi yg langsung menstimulan hidung, otak dan perut yang langsung bergejolak, dan hiruk pikuk Jakarta yang menguji kesabaran. Jadi kalau kita sampai bisa bertahan berbuka hingga maghrib itu rasanya luar biasa. Kerasa banget itu…

Waktu di Banda Aceh, enggak ada tantangannya itu. Warung makan tutup semua. Jadi jangan harap ngiler-ngiler, hahahaha. Bahkan mencium aroma makanan pun enggak bakal ada. Pernah waktu itu cari makanan di warung bersama kawan di bulan puasa. Yah, namanya perempuan kami ada masa dispensasi boleh gak berpuasa. Kami tahu ada warung tertentu berjualan di bulan puasa dengan pintu dan jendela ditutup. Suatu kali kami ke sana mau makam siang, warung tutup dalam arti sebenarnya. Kata pemilik warung ada tetangga mengadukan kepada polisi syariah karena mereka merasa puasanya terganggu dengan bau makanan. Teman saya menggerutu, “Manja banget orang puasa di sini, gak mau melawati tantangan. Apa selemah itu imannya, sampe perlu bantuan polisi syariah menegakkan imannya,” katanya

Yah itu kenyataan terjadi. Enggak mengganggu saya, sih. Tapi saya sepakat dengan kawan saya, apa serunya berpuasa tanpa melewati tantangan dan godaan.

Tapi di Jakarta, saya juga rindukan suasana teraweh di mesjid-mesjid di Banda Aceh. Saya biasanya mencoba terawehan di mesjid-mesjid berbeda, hingga mesjid di kampung-kampung yang ceramahnya menggunakan Bahasa Aceh, Meski ngertinya sedikit saja, tapi nuansa aura syahdu ramadhannya terasa bangetss. Saya selalu terkagum-kagum dengan para imam mesjidnya yang mempunyai suara dan kesyaduan membaca ayat demi ayat, yang bikin kita takjim. Saya juga senang di setiap mesjid yg saya kunjungi untuk terawehan memberikan shaf khusus untuk anak-anak kecil. Ada yang mengawal mereka juga. Menarik, karena mereka diajarkan adab beribadah di mesjid.

Di Jakarta-ingat kelakuan saya waktu kecil juga-kerjanya mengacau. Kalau imam udah akhir alfatihah, langsung pada teriak,”Aaaaaaaaaaaaaaaaamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin!!!” Panjang, nyaring, ngelengking, sampe ada orangntua kasih tanda batuk-batuk agar kami stop beramin. Kami diam jika ada yg batuk-batuk. Makanya saya suka nahan geli kalo ada gerombolan anak-anak kecil pada ikutan teraweh trus Aminnya panjaaaang. Masih sama kelakuannya. Nyaring banget bikin kuping pengeng. Enggak semua mesjid sih disantronin bocah2 tengil gitu. Hahahhaa,

Rindu ramadhan lainnya di Banda Aceh adalah makanan-makanan khas yang hanya keluar pada saat bulan puasa Ramadhan. Yang udah pernah merasakan bulan puasa di Banda Aceh pasti paham maksud saya. Seru yah. Enggak ada itu di Jakarta.

Jadi mending puasa dimana yah…..

View on Path

Advertisements
Categories: Tak Berkategori | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: