Semalam ditelpon bapak. Dia bilang, “Farah, bapak minta maaf yaa…” katanya. Saya langsung tanggap. Oh iya, ini sudah Sya’ban. Mau puasa. Orang sibuk minta maaf sebelum puasa untuk menyucikan hati. Saya langsung bilang minta maaf lahir bathin juga ya, pak.

Lalu kalimat agak susah diucapkan dari sebrang telpon. “….Bapak minta maaf lahir bathin. Fara jangan marah ya…”

Saya nebak-nebak, ada apa. Tumbenan.

“Bapak kecelakaan. Mobilnya rusak parah. Beberapa hari lalu kecelakaannya…”katanya. Saya mencerna kalimat tersebut.

Mengerti sudah. Agak lega, karena kalau bapak menelpon dia setidaknya masih ada. Itu yg membuat saya tenang.

“Bapak terluka enggak? Ada yg cedera enggak? Udah di cek ke dokter?” Kata saya ingin memastikan secara fisik bapak saya enggak apa-apa.

Dia cerita dadanya agak memar, kakinya agak sakit. Besok mau ke dokter diantar adik saya. Lalu dia bilang, “Nanti mobilnya bapak perbaiki…”

“Udahlah, enggak usah mikirin mobilnya. Kayaknya untuk ke depan bapak gak usah bawa mobil lagi yah….pelajaran aja, kalo bapak itu udah harus sadar sama umur,” kataku masgul. Mau marah karena sudah sekian kali kami anak-anaknya gak ngijinin dia nyupir. Ketika kami mau sediakan driver, dia malah tersinggung. “Emang bapak kamu ini udah jompo apa? Mau kemana juga bapak masih sanggip.” Katanya tersinggung selalu.

Gitulah bapak. Dia enggak mau dikategorikan uzur atau jompo. Dia menolak itu, meski ketahanan tubuhnya berkata lain. Kami melihatnya, beberapa kali dia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Belakangan ini saya dengar dari emak saya, dia jatuh karena matanya enggak awas, sehingga jatuh. Kadang lupa. Iya, dia pernah lupa mobil diparkir dimana. Pelan-pelan banget untuk ngingetin dia, supaya dia enggak tersinggung dan mutung panjang. Tapi mobil yg saya hadiahkan buat dia membuatnya merasa lebih muda dan bugar seperti usia 30 tahunan. Itu salah saya juga mungkin. Kata adik-adik, saya terlalu memanjakannya. Mungkin benar….

Ke depan, kayaknya enggak peduli dibilang durhaka, daripada bapak yang keras kepala dan kadang nyebelin ini, celaka lebih fatal, saya tidak akan bisa memafkan diri saya sendiri. Ijin atas mobil itu untuk dia akan saya cabut.

View on Path

Advertisements
Categories: Tak Berkategori | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: