Di bandara tadi selepas maghrib antrian panjang di bagian penumpang taksi biru. Enggak tau deh apa ini pengaruh dr demo pagi-siang tadi. Daripada lama antri nunggu taksi, akhirnya pilih naik DAMRI deh. Tiba di Gambir disambut para tukang ojek sambil bilang hari ini gak ada taksi dan ojek online. Setau saya dalam kebiasaan, semakin susah warga Jakarta mengakses transport maka akan jadi sasaran empuk kena “tembak,” tukang ojek atau taksi berargo kuda- biasanya. Sialnya hp juga drop jadi gak bisa coba online. Karena gak punya pilihan tanya dong harga. Si ojek mukanya udah kebaca banget mau “meres” konsumennya. Bener aja biasanya ojek paling mahal 30 ribu langsung ditembak 70 ribu. Senewen banget.

“Jangan keterlaluan bang. Kami penumpang ini tau jarak, harga dan kondisi. Enggak bisa kamu cari rejeki dengan cari kesempatan dalam kesempitan begini. Itu sama aja duitnya jadi enggak halal,” dengan nada tajam dan tatapan menusuk *Pisau kalee tajam, langsung menghapus cengiran licik abang ojek. Kalo mau ngoceh lagi tuh abang ojek artinya ngajak berantem. Ternyata dia langsung gak berani lagi “meres. ” dia ngalah dan mau dengan harga standar.

Aduh…kerasa sekali, kerasa sekali bedanyaaaaaa….

View on Path

Advertisements
Categories: Tak Berkategori | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: