Ditulis mendalam oleh wartawan senior seperti ini, yang menggambarkan kisah dibalik selembar kain tenun. Di sana ada manusia yang penuh dedikasi, dan segenap hati dalam menguntai benang sehingga menjadi tenun yang indah. Judulnya yang singkat menggambarkan hasil akhir semua proses dalam maknanya, “Kain yang berjiwa . ” Puitis banget. Menjadikan tenun seperti kain yang puitik…*aihh!! Gw nulis apaan niii…

Tidak mengira, kegelisahan, kepedulian, lalu ide untuk mencari jalan mengangkat desa yg baru terpuruk ekonominya setelah hancur dari tambang marmer, mulai menjadi gerakan kreatif. Sempat lama vakum, mentok sana sini. Akhirnya diantara yang suram kami menemukan harapan dengan warna warni tenun yang biasa digunakan orang Timor. Disitulah ide dimulai, karena dari tenun sesungguhnya perjuangan itu dimulai sendiri oleh para mama dari Molo. Sayangnya banyak kendala untuk menjadikannya sebagai gerakan bersama. Menjadikannya sebagai isu publik.

Tapi semangatnya terus menggenang di kepala orang-orang yang gelisah. Meski terpisah jarak dan waktu, semangat ini dimunculkan lagi dalm bentuk konkret dan gerakan yg mungkin kecil. Semangat ini dimulai kembali di desa Biboki, TTU. Ada kawan baik saya Mbak Nin ada Dudu. Menyatukan kembali ide-ide dari kepala orang-orang yang sempat terlibat dalam diskusi kegelisahan ini sejak lama. Ditambah lagi gerakan kuat dari kawan-kawan muda dreamdellion Yogya. Semuanya bekerja menonjolkan tenun dan penenun, bukan dirinya. Gerakan kecil ini merajutkan diri menjadi “tenun” yang saling terkait dan membentuk cerita tenun untuk kehidupan. Gerakan kecil ini terbukti membantu para siswa di TTU bisa sekolah, dan menghidupkan dapur. Memberikan harapan bagi penenun di desa Sumberarum, di Moyudan Yogyakarta.

Dari Moyudan ke Bentara Budaya Yogyakarta lalu Jakarta. Sebuah kesempatan yang kami nekat mengambil momemntnya. Meski kami tahu, kami harusnjungkir balik mewujudkannya. Tapi mengaitkan semua orang dalam tenunan dan ingin memastikan semuanya bisa terlibat dalam gerakan yang baik ini, itu yg buat nekat. Alam semesta memang punya caranya sendiri dalam mempertemukan orang-orang yang juga punya niat baik. Relawan hingga wartawan…cerita tenun tangan membuka mata dan hati.

Senang saya bisa masuk dalam bagian gerakan ini sejak ide-ide bersama menggenang di kepala itu hingga menjadikannya sebagai gerakan milik publik. Semoga….

*Catatan malam selesai. Kita packing dulu krn besok shubuh meluncur ke Sibolga…

View on Path

Advertisements
Categories: Tak Berkategori | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: