Tentang Anak Kucing – Datangnya Si Kucing Garong

Sejak kedapatan buangan anak kucing, beberapa hari ini saya punya rutinitas pagi berbeda. Abis sholat Shubuh enggak tidur lagi. Itu membuat kepala saya kadang masih belum terbiasa, sehingga suka pening ketika mulai kerja. “on”nya perlu lama untuk mulai kerja. Tapi tidak punya pilihan, masalah kucing-kucing ini kan, masih anak-anak. Masih bayi malah. Mana bisa mengurus makan, minum, sendiri. Bahkan ngepupnya pun masih sembarangan. Nah, ini bagian paling repot dan perlu kesabaran tinggi.

Nah, pagi tadi saya memberi mereka makan yang telah saya olah sendiri. Ikan cuek dan telur ayam kampung rebus, yang saya tumbuk halusss sekali. Biar itu anak-anak enggak keselek. Mungil-mungil banget anak-anak itu. Lalu saya tinggal beberes kamar dan juga masak air untuk minum teh hangat buat diri sendiri. Biasanya sambil ngeteh saya buka jendela, dan memperhatkan anak-anak kucing yang lagi makan. Tapi saya dengar suara geraman berbeda. Mata saya awas dong. Kaget banget, di sana ada kucing besar berwarna abu-abu tengah memperhatikan mereka dipojokan balkon.  Mungkin dia tengah lewat dari genteng ke genteng lalu mencium aroma ikan. Wajah si kucing dewasa ini sangat garong.

Berpikir apa dia bapak dari anak-anak itu. Saya enggak tahu. Tapi saya enggak suka gelagatnya. Saya hanya ingat saja kejadian setahunan lalu yah.  Pernah ada seekor kucing garong meletakkan anak kucing yang dua kaki belakangnya diputus rapih, dan lehernya robek karena gigitan. Itu tanda teritori kucing garong yang tersinggung karena saya mencegahnya memakan lima anak kucing yang dibuang entah oleh siapa. Rupanya dia mengikuti saya,dan keesokan paginya dia meletakkan itu sebagai tanda ancaman. Entah anak kucing siapa yang dikorbankannya.

Mengingat itu saya bergidik. Jadi saya buka pintu dengan gerakan kasar. Kucing garong kaget.  Anak-anak kucing entah kenapa langsung menghentikan makan dan lari ke arah saya. Mereka berdiri di belakang kaki saya. Entah kenapa saya adu pelototan dengan itu kucing garong. Dia menggeram, saya ikutan. Saya baru bangun tidur, jadi rambut saya masih kayak rambut singa dong. Jadi bisa bayangin seramnya saya.

Karena saya manusia lebih berkuasa, jadi saya menunjukkan “kekuasaan”, “keunggulan” saya dari si kucing garong. Dengan gerak cepat, saya timpuk dia dengan sendal jepit. Nyaris kena, karena dia berkelit cepat dan kaget. Dia langsung lari pergi ke balkon lainnya. Saya harus membuat dia trauma meski tidak melukainya. Setidaknya si kucing garong juga harus tahu batas teritorinya. Dia berani-beraninya masuk teritori saya.

Tapi sepanjang kerja jadi enggak tenang. Memikirkan apakah dia bawa “pasukan,” lalu menculik anak-anak kucing yang masih kecil dan tidak bisa melawan itu. Apa dia akan melakukan balas dendam barbar ala perkucingan seperti waktu itu. Saya juga penasaran apakah yang saya lakukan cukup membuatnya kapok. Meski pertaruhannya besar, saya meyakini tindakan saya tadi pasti telah membuatnya trauma.

Tapi yang jelas, saya harus mencari orang lain lagi yang akan mengasuh tiga anak kucing sisanya lagi ini. Lagipula saya sepertinya bukan ibu kucing yang baik bagi anak-anak kucing. Apalagi ini rumah lebih sering ditinggal pergi keluar kota….

I

View on Path

Advertisements
Categories: CATATAN HARIAN | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: