Namanya Sutrisno (paling kiri) dan Jumiati (tengah). Mereka dikenal sebagai pasangan aktivis nelayan dalam arti yang sebenarnya. Maksud saya dalam arti sebenarnya adalah mereka tinggal di kampung nelayan pesisir di Serdang Bedagai, Desa Sei Nagalawa , Sumatera Utara. Kerjanya memang menjadi nelayan bukan kerja di ngo. Jadi paham benar seluk beluk kepahitan yang dihadapi nelayan, yg kebanyakan tidak punya perahu sendiri, miskin, dan tergantung harga yng ditentukan toke. Mereka bahkan harus melawan perubahan iklim ekstrem sendirian, dan melawan kapal-kapal besar yg menggunakan trawl. Sejumlah kawan mereka tewas saat melawan kepentingan kapital langsung di laut. Kisah ini tidak banyak media yg tahu. Pemerintah tentu saja bukan ada di pihak mereka waktu itu.

Ketika Jumiati akan melahirkan anak pertamanya, Sutrisno seperti halnya nelayan didesanya tidak punya tabungan dan persiapan. Dikantungnya hanya ada Rp 3.000. Jumiati pun harus melahirkan dibantu dukun beranak bukan di rumah sakit atau dengan bidan. Dia harus memakan bawang putih sebanyak mungkin dan menggigit rambutnya sendiri, guna menahan sakit dari pijatan bidan di perutnya untuk mengeluarkan anaknya. Sutrisno sendiri harus mengetuk pintu tetangga dan saudara-saudaranya untuk meminta sumbangan pakain bayi. Keduanya kalau menceritakan kembali masa itu selalu matanya berkaca-kaca dan meneteskan air mata. Miskin, tidak punya perahu, terikat toke, melawan kapal besar, dan punya hutang, adalah kehidupan nelayan.

Sejak peristiwa itu keduanya bertekad untuk memutus kemiskinan itu. “Kami mengubah perjuangan. Lebih kooperatif dan membuka diri. Sehingga pemerintah jug tidak takut dengan kami. Kami juga tidak ingin anak kami hidup dalam kemiskinan. Mereka harus sekolah lebih tinggi dari orang tuanya” kata Sutrisno.

Tiga tahun lalu saya ketemu mereka dan menuliskan kisah perjuangan dan perlawanan mereka untuk Female food Heronya Oxfam. Tinggal bersama mereka dan melihat kehidupan mereka secara langsung dengan para melayan di sana, baik laki-laki dan perempuan. Saya menyusuri kisah-kisah hebat menggetarkan ini. Mereka menghidupkan pereknomian rakyat nelayan setempat dalam koperasi yg mereka rintis, ketika teman-teman saya yang aktivis di Jakarta sibuk ngoceh saja tentang ekonomi kerakyatan (secara teori), mereka berdua malah merintis dan mempraktekannya. Semua keuntungan menjadi milik nelayan. Mereka bahkan menghidupkan mangrove di sepanjang pesisir desa, yang dulu mati dan kini menjadi hutan mangrove yang lebat bahkan bisa menghidupi para nelayan. Mangrovenya menjadi kerupuk, teh, dan sirup. Mangrove yg mereka tanam dengan perjuangan ini juga kini menjadi tempat wisata yg diminati.

Bukan itu saja, dari kerja keras bersama nelayan-nelayan yg mereka pimpin ini, kini mereka punya perahu sendiri, motor, dan rumah yg kokoh. Mereka tidak perlu melaut jika musim bakat (angin barat). Mereka juga mengembangkan dirinya hingga kini. Mereka tidak perlu berhutang ke Bakrie (tukang kredit) dan tidak tergantung lagi dengn toke. Mereka juga senang peraturan Ibu Susi menghajar kapal-kapal yg menggunakan trawl telah membawa damapak baik bagi kehidupan nelayan.

Ketemu lagi dengan mereka di Jakarta, kemarin. Masih dengan kesederhanaan mereka. Mereka menceritakan perkembangan hutan mangrove yg mereka kelola, sejak saya datang terakhir dulu. Kini telah menjadi tempat belajar dan juga wisata yg elegan. Emereka mengembangkan dirinya dengan baik. Saya mendengarkannya dengan haru dan bangga untuk mereka.

“Kalau mbak ke Kualanamu, dan ada waktu, beritahu kami. Kami akan jemput mbak di bandara, langsung ke kampung kami lagi. Biar bisa lihat perkembangan yg baik di sana,” kata mereka.

Terharu, bangga dan ikut senang tentu saja. Enggak lupa saya minta foto bareng dengan mereka. Bangga saya pose bersama mereka…

View on Path

Advertisements
Categories: Tak Berkategori | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: