Anakin Skywalker Sejatinya Jedi

Desember ini, kawan-kawan saya penggila Star Wars sudah berburu aneka pernak pernik tentang Star Wars. Mereka semua ada di event-event kegiatan yang “mempromosikan” film lanjutan Star Wars, “The Force Awaken.” Film pertama dari Trilogi sekuelnya Star Wars. Artinya ke depan akan bercerita tentang cucu-cucunya Anakin Skywalker, sepertinya.

Saya hanya bisa memandang foto-foto kawan-kawan saya di sosial media yang berseliweran  sambil lalu dalam perjalanan tugas, baik di mobil atau lagi jelang tidur. Nina kawan saya  misalnya, pecinta Darth Vader itu mulai memasang fotonya bersama figur Darth Vader kesukaannya itu. Dia nyengir lebar foto bareng dengan Darth Vader yang mengenakan jubah hitam, dan masker hitam. Entah itu di mana dan di event apa. Nina, tampak bangga dan bahagia. Sepertinya sudah sah untuk disebut sebagai penggemar Star Wars sejati. Saya lihat di Path, ada beberapa kawan-kawan saya tampak bahagia mendapatkan figur-figur Star Wars dalam bentuk gimmick. Mereka juga lebih sering saya lihat pose bersama dengan figur-figur Stormtroopers yang berpakaian robot putih-putih. Para troopers  ini bisa dibedakan bagiannya dengan jenis helm yang dipakai. Ada troopers untuk di wilayah salju, sahara, angkasa, atau  bahkan api. Termasuk troopers pilot atau komandannya. Pembedanya itu di helm dan warna “seragam.” Lebih keren sahnya lagi jika mereka pada pose dengan “action” memegang lightsaber. Bah!!

Yah, saya ngiri sih, liatnya, hahahaha.  Tapi yah gimana lagi, jarang banget ada di Jakarta. Lebih banyak di jalan dan luar kota. Dari bandara ke bandara, dari hotel ke hotel, dari pelosok ke pelosok. Itu pun, beruntung banget kalo ada sinyal, sehingga bisa lihat kabar-kabar terkini. Bahkan saya hanya bisa mengucapkan selamat ulang tahun ke bapak saya di awal Desember lalu melalui telepon ketika menuju Bandara Soerkarno Hatta, pagi-pagi sekali.

Saya bahkan enggak tahu, apakah saya akan bisa menjadi yang paling pertama menonton film ini begitu ditampilkan di bioskop. Nonton film James Bond, Spectre, aja enggak sempet hingga film itu enggak tayang lagi di bioskop. Akhirnya saya nonton film ini di streaming online, ketika saya mendapatkan waktu luang dan santai dalam perjalanan tugas saya.

Meski saya tidak memiliki segala atribut Star Wars, bukan berarti saya bukan penggemar sejati film ini. Saya termasuk penggemar film ini secara militan, loh. Secara idiologi, bahkan. (Hahahaha, pengen banget diakui *ngok!). Meski, saya tidak punya foto-foto semacam itu seperti yang ditampilkan kawan-kawan saya di sosmed, yang tujuannya yah tahulah, pengen dilihat sebagai penggemar Star Wars yang fanatik. (*ngiri lagi, hahahaha)

Terus terang ini film saya saat remaja dulu. Film yang besar bersama saya. Saya yakin banyak generasi saya juga merasakan hal yang sama (generasi “senior” maksudnya yaaaak :D)  Tentu saja saya melihat Indiana Jones lebih dahulu dibandingkan film ini.  Saya menggemari ceritanya, karakternya, filosofi hidup yang dipegang masing-masing tokoh. Khas film-filmnya George Lucas, sepanjang yang saya ikuti selalu begitu. Film aksi ini dikemas apik. Visual canggih yang membangkitkan fantasi tentang dunia antar galaksi (tema yang selalu saya suka sejak kecil), alur cerita, keseriusan tapi ada unsur lucunya, canda dan percakapan cerdas yang dibangun cair dan ringan.

Bukan itu saja, “film perang” ini sudah seperti cerita film Bharatayudha yang epik itu dari ‘trah’ Skywalker dalam membela “Force” atau mendukung “Sith-Dark Side”, juga peran melawan penguasa yang bathil paling berkuasa se-antar galaksi. Semua tokoh diperlihatkan dengan karakter khasnya. Pejuang sejati, oportunitis, si licik, politisi dsb. Di antara perang selalu ada “The chosen one” “Yang terpilih,” dari kalangan biasa yang diramal “orang suci” kalangan Jedi. Jadi, memang seperti cerita para Nabi dalam kitab suci juga. Seperti Nabi Musa, Nabi Muhammad SAW, hingga Nabi Ibrahim. Mereka sudah ditempa menjadi seorang “pengembala,” terbuang, dan dijauhkan dari hingar bingar penguasa.

Begitu juga “The Chosen One”-nya Trah Skywalker. Anakin kecil dikenal sudah mahir dalam mengutak-atik mesin, serta  bakat pilot jenius yang alami. Anakin terlahir sebagai anak seorang budak. Sementara Luke-anaknya Anakin,  yang sengaja dibuang ke Tatoine pun demikian. Tinggal bersama paman tirinya, dan hanya mengurus rongsokan mesin- seperti ayahnya – secara by default dia juga  jago mengutak-atik mesin, membuat robot, dan pilot yang hebat.

Orang-orang yang mengetahui “tanda-tanda” anak terpilih yang kelak akan menjadi “the chosen one” selalu menjadi garda terdepan yang melindunginya. Karena akan banyak orang yang tidak menyukai bahkan ingin  mencelakakannya.

George Lucas menciptakan hal sama dalam film tokoh Frodo Baggins di Lord of The Rings, dan Anakin-Luke Skywalker di Star Wars. Sosok jelata, jauh dari penampilan jagoan atau keturunan bangsawan, namun muncul menjadi tokoh utama pergerakan. George Lucas selalu menampilkan sosok pahlawan jauh dari mainstream- tidak selalu harus keturunan ningrat, ganteng, cakep, atletis, kekar dan pendekar. Dia juga bisa berasal dari keluarga budak, orang biasa banget kayak Frodo. Muka biasa, pendek, bahkan tidak tahu bagaimana menggunakan pedang dan berkelahi. Itu tercermin di Lord of the Rings juga Star Wars.

Saya menonton Star Wars pertama kali saat  film ini dikemas dalam bentuk video betamax. Jarang sekali mendapatkan film barat semacam itu  di bioskop masa betamax dulu (*ketahuan kaan, tuanya, hahahhaa). Bioskop kita didominasi dengan film-film Indonesia yang hits waktu itu. Untuk menonton film barat biasanya kami menyewa film dalam kemasan video betamax. Tiap pekan ayah saya biasanya membawa kami ke rental-rental video betamax, dan memilih film yang kami sukai sendiri.

Sama seperti saat waktu pertama nonton Indiana Jones. Bagi saya George Lucas dan Steven Spielberg adalah pahlawan saya, karena memberi fantasi, mimpi, dan juga hiburan selain TVRI (kasihannya jaman saya, hahahaha). Saat saya sudah mandiri dan berpenghasilan, ketika film ini dikemas dalam kemasan dvd asli, saya pun termasuk pengkoleksi militan pertamanya. Bukan hanya dijadikan koleksi tapi memang saya suka menontonnya berkali-kali jika saya ingin melihat lagi adegan-adegan yang menjadi favorit saya.   Menonton film adalah kegemaran saya sejak kecil, karena ayah saya juga gemar nonton film, selain membaca.

Setelah lengkap menonton semua filmnya, figur favorit saya tetap saja Anakin Skywalker. Dia adalah tokoh Jedi favorit saya. Meski akhirnya- dia memilih kegelapan untuk hidupnya. Tapi menurut saya dia tokoh paling manusiawi diantara para jedi lainnya. Dengan sejarah hidupnya yang getir- sebagai keturunan budak. Ketika dia ditemukan oleh Jedi Qui-Gon Jinn, sesungguhnya Master Yoda sempat meragukannya. Dalam The Panthom Menace, Yoda menangkap sisi “gelap” Anakin kecil, saat di kamp pelatihan. Rasa marah, sedih, dendam, gelisah yang tidak berkesudahan, mengkhawatirkan Yoda dari diri Anakin yang akan menghalangi Anakin menjadi seorang Jedi sejati.

Yoda : How feel you?

Anakin : Cold, Sir.

Yoda : Afraid, are you? (*Yoda keturunan Madura, ngomong dibalik-balik)

Anakin : No, Sir.

Yoda : See through you we can

Mace Windu : Be mindful of your feeling.

Ki-Adi-Mundi : Your thoughts dwell on your mother

Anakin : I miss her

Yoda : Afraid to lose her I think, hemm…?

Anakin : What that has got to do with anything?

Yoda : Everything! Fear is the path to the dark side. Fear leads to anger. Anger leads to hate. Hate leads to suffering. I sense much fear in you…

Kata-kata Yoda terakhir kini menjadi kutipan paling monumental dan legendaris yang dikenal  oleh kalangan penggemar Star Wars sejati. Termasuk favorit saya tentu saja. Kata-kata itu bisa ditujukan kepada siapa saja yang masih belum bersih hatinya. Kurang lebih demikian dalam ilmu tasawuf..(*haiyaahh!)

Tapi nasihat Yoda kepada Anakin menurut saya mungkin terlalu dalam untuk bisa dipahami oleh Anakin kecil. Lagi pula secara psikologis, dia terbiasa hidup dalam dunia perbudakan sejak lahir. Banyak kepedihan pastinya. Jadi, menata kejiwaan Anakin kecil dan langsung fokus melatih diri menjadi Jedi, itu seperti mengkarbit mental dan jiwanya. (Bener, enggak, sih? *gw serius bahasnya wkwkwkwkwkk…

Saat dia bebas dan menjadi “santri” di pesantren Jedi,  ibunya masih menjadi budak. Susahlah hatinya.  Mungkin ini kesalahan memproses Anakin jadi Jedi, tanpa memahami tekanan kegelisahan jiwa Anakin  yang masih kecil hingga remaja. Kadang kan bisa aja metode, dan kurikulum pesantren jedi tidak selalu sesuai dengan para jedi kecil. Akhirnya terbukti kemudian, Anakin menuju dark path– yang ditakuti Yoda. Tapi menurut saya, itu yang justru menempatkan Anakin menjadi sosok paling manusiawi dari para Jedi itu. Jadi sufi itu enggak gampang. Eh, maksud saya,  jadi seorang jedi itu tidak mudah. Tapi menurut saya memilih kegelapan untuk melindungi yang tercinta itu pengorbanan yang sufistik juga. (*gw bahas film apa ilmu tasawuf siih…)

Anakin selalu menjadi “sosok lemah” jika menyangkut memilih melindungi orang yang dicintai. Dia pun “terhasut bisikan setan” kekuatan gelap. Membisikannya dalam mimpi buruk tentang akan tewasnya Padme Amidala, istrinya. Hal ini  membuatnya “menggila.” Lalu menjerumuskannya dalam dunia kegelapan yang dalam sehingga membawanya berperang melawan Jedi- saudara sesama santri. Dia bahkan tega membunuh para jedi kecil, yang makin menyeretnya dalam kegelapan yang tidak bisa ditolong. Membuat Obi Wan Kenobi, Sang Mentor- partnernya – terpaksa berhadapan dan melawannya dalam pertempuran sengit di dekat kawah gunung api. Nah. bagian Anakin yang harusnya tewas terbakar lahar dihadapan Obi Wan ini juga bikin hancur hati melihatnya.

Obi-Wan : You were the chosen one! It was said, that you would destroy the sith, not join them. You were to bring balance to the force, not in leave it in darkness.

Anakin : I HATE YOU!! (*dalam sekarat yang menyedihkan)

Obi-Wan: You were my brother, Anakin. I loved you…

Anakin pun tubuhnya terbakar lahar, namun Sith membawanyanya dan menghidupkannya kembali. Dia seperti mumi modern. Tubuhnya dibungkus besi dan masker yang membuatnya tetap hidup. Hidup tapi telah mati, mati tapi tetap hidup, menjadi tokoh gelap Sith Lord, Darth Vader. Menjadi The Darkest Knight secara total.

Adegan menyedihkan ini bisa dilihat di sini :

 

Saya menyalahkan Obi-Wan yang meninggalkan Anakin dalam kesakitan dan ketidakberdayaan. Sebagai Jedi, gak bisa kayak gitu. Justru Darth Sidious yang menyelamatkannya. Pada titik inilah yang memastikan Anakin menjadi Dark Knight nomor satunya kemudian, dimana semua perang dimulai lebih membara.

Tapi apakah Darth Vader memang “Segelap,” dan “sedingin” itu hingga tega membunuh siapa pun, bahkan orang yang pernah berjasa untuknya. Terbukti, di bagian akhir hidupnya, kembali dia mengorbankan dirinya untuk melindungi orang yang dicintainya. Darah dagingnya sendiri,   Luke Skywalker. Tahu dong, adegan paling mengharukan yang ada di  Return of The Jedi ini.  Saat Luke Skywalker yang telah disiapkan menjadi Jedi oleh Obi Wan Kenobi dan di Mentorin langsung oleh Master Yoda untuk memerangi kemungkaran ayahnya sendiri.

Darth Vader yang sudah mengetahui Luke adalah anaknya,  mencoba membujuk anaknya untuk mengabdi pada kegelapan. “I’m your Father..” Tahu dong reaksi kagetnya Luke. Terus terang waktu nonton pertama adegan ini seru dan dramatik banget. Tapi pas ditonton berulang-ulang jadi mau ketawa sendiri. Kayak Sinetron aktingnya. “Noooooooooooooo!” teriak Luke begitu dapat konfirmasi yang lebih akurat bahwa Dart Vader adalah ayahnya dan dan memilih menjatuhkan dirinya ke dasar. *untungnya selamat. Hahahaha.

Luke kembali lagi ke empire, menyerahkan dirinya ke ayahnya. Maksudnya bukan untuk memerangi tapi dia merasa yakin ayahnya bisa kembali ke jalan yang benar, dan ikut memerangi Dart Sidious – Penguasa Kekaisaran Galactic Empire.

Darth Vader : The Empire has been expecting you

Luke : I know, Father.

Darth Vader : So, you have accepted the truth?

Luke : I’ve accepted the truth that you were once Anakin Skywalker, my father.

Dart Vader : (marah) That name no longer has any meaning for me!

Luke : It is the name of your true self. You’ve only forgotten. I know there is good in you. The emperor hasn’t driven it from you fully.That  was why you couldn’t destroy me. That’s why you won’t bring me to your emperor now.

Nah, pada adegan mereka saling berhadapan dengan lightsaber masing-masing, itu menjadi “hiburan”  bagi  Penguasa Galactic Emperor, Sheev Palpatine yang dikenal sebagai Darth Sidious. Ketika ada kesempatan Luke mengalahkan ayahnya di ujung lightsabernya, yang berhasil memotong tangan Darth Vader, Palpatine mencoba memicu kemarahan Luke untuk menuju kekuatan gelap dengan menuntaskan membunuh ayahnya.

Palpatine : your hate has made you powerfull. Now, fulfill your destiny and take your father place at my side.

Luke : ( Luke  melihat ayahnya yang tidak berdaya. Dia lemparkan lighsabernya )  Never! I’ll never turn to the  dark side. You have failed, your highness. I’m a Jedi, like my father before me.

Palpatine : So beat it, Jedi!

Palpatine bernafsu menyerang Luke yang tidak melawannya sama sekali dengan kekuatan light dari tangannya. Darth Vader mengekornya dari belakang. Dari bahasa tubuhnya jelas dia dalam persimpangan nurani. Apalagi mendengar Luke yang tidak berdaya menahan kesakitan sambil memanggil ayahnya, “Father, please…. help me….!”

Sementara Palpatine dengan bernafsu terus menyakiti Luke untuk membunuhnya. Darth Vader kemudian mengangkat tubuh Palpatine dengan kekuatannya, dan membiarkannya terkena serangan Palpatine. Dia melemparkan Palpatine ke reaktor  di dasar hingga tewas terbakar seketika. Setelah itu Darth Vader terjatuh, sekarat.

Paham kan, kenapa Anakin Skywalker menurut saya itu Jedi sejati. Memilih kegelapan adalah bagian pengorbanannya. Pada bagian akhirnya pun, dia rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan anaknya hingga menempatkannya kembali kepada kekuatan force yang baik. Menjadi Anakin Skywalker sang Jedi itu. Dia merasa bagian akhir hidup menyelamatkan anaknya sendiri adalah  pembebasan sekaligus kebahagiaan.

Bagian sesi ini paling mengharukan membuat waktu saya pertama menontonnya  meneteskan air mata, sesungukkan dan idung ingusan. (Apa sih gw, nonton Film King Kong jatuh aja gw nangis….Hadeeuh). Tapi sekarang agak aneh melihatnya. Terutama backsound musik yang mengiringi adegan ini menganggu banget. Entah kenapa, waktu pertama lihat adegan ini waktu itu saya pake nangis segala, yaaak. Hahahahaha. Terutama adegan Luke membopong ayahnya, dan ingin membawa pulang ayahnya yang terluka. Tapi Anakin meminta Luke meninggalkannya. Apalagi dia tahu dia sudah sekarat. Ini nih adegan mengharukannya (waktu pertama menonton, hahahahhaa):

Anakin : Luke, help me take this mask off.

Luke : But, you’ll die!

Anakin : Nothing can stop now. Just for once, let me look on you with own eyes. (Luke membuka topeng masker ayahnya. Tampak wajah asli ayahnya yang pucat dan nafas mulai tersengal-sengal. Untuk pertama dan terakhir kali Luke melihat wajah asli bapaknya sendiri).  Now, go my son. Leave me…

Luke : No. You’re coming with me. I won’t leave you here. I’ve got to save you.

Anakin : (Tersenyum lembut ke anaknya)  You already have, Luke. You were right about me. Tell your sister, you were right...(lalu meninggal tersenyum).

Luke : Father, I won’t leave you….

Bisa lihat adegannya di sini :

 

Akhir dari cerita ini, Luke bisa tersenyum tenang dan bahagia ketika dia melihat spirit ayahnya dengan pakaian jedi, menatapnya di kejauhan dalam senyum penuh damai berdampingan bersama Master Yoda.

Yah, saya militan cerita ini. Saya termasuk sekian ribu orang yang besar dan dewasa bersama dengan film ini. Kini menanti film lanjutannya diputar pertengahan Desember ini. Setelah itu baru menonton Star Trek. Salam Kaum Vulcan! #eh

images

View on Path

Advertisements
Categories: CATATAN HARIAN, RESENSI FILM | Tags: , , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Anakin Skywalker Sejatinya Jedi

  1. Septa

    Wah sepaham bgt nih sama mimin 👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: