“Jebakan Batman” Salon

Saya termasuk yang suka ke salon. Tidak sering dan rutin, sih. Cuma jika ada waktunya dan kondisi saya lagi penat, capek, dan pegal-pegal.  Terutama di bagian kepala dan punggung, dan rambut sudah dirasa tidak segar dan bugar. Maka biasanya saya akan ke salon.

Saya termasuk peduli dengan kesehatan rambut saya. Apalagi saya memakai jilbab. Seharian rambut ditutup. Ada bagusnya memang dengan jilbab ini, rambut saya terlindungi dari debu dan polusi, tapi disisi lain jarang terkena sinar matahari. Makanya jika ada waktu lama di rumah, saya biasanya usai keramas, saya menjemurkan diri saya di balkon dan membiarkan matahari pagi atau sore mengeringkan rambut saya secara alami. Saya juga tidak pernah memakai dalaman jilbab secara berlebihan misalnya dengan mengikatnya keras-keras atau hingga berlapis-lapis.

Saya pikir menggunakan jilbab itu untuk kesederhanaan, jadi jilbab saya juga sederhana  saja. Tidak pernah dilibat sana sini, atau berkain panjang hingga berlapis-lapis dengan model-model masa kini.  Hal ini memberikan ruang nafas buat kulit kepala dan rambut saya. Terus terang ketika banyak pemakai jilbab mengeluh rambut rontok, saya tidak mengalaminya. Ketika seumur saya sudah banyak beruban, rambut saya masih hitam legam dan sehat.

Maka ke salon juga jadi penting untuk perawatan sekali-kali. Tapi tujuan saya ke salon, yah lebih ingin mendapatkakan pijatan-pijatan kepala dan punggung. Kadang pijatan ini pula yang menstimulasi tumbuhnya rambut dengan baik. Di hair spa-demikian istilah sekarang dalam merawat rambut dibandingkan creambath. Aroma hair spa dan pijatan-pijatan itu memang membuat rasa santai dan enteng. Kalau penat dan sakit punggung datang maka otak saya memanggil-manggil mengingat rasa nikmat di pijat.

Tapi urusan ke salon ini juga perlu tips tersendiri. Karena, hair spa kadang bikin “kecanduan-pijat,” itu artinya harus punya budget tersendiri. Jadi sebelum ke salon pastikan benar bawa uang yang pas, dan produk apa yang diinginkan.

Nah, tempat saya menyalon untuk hair spa adalah Inan Salon. Sebuah salon yang hanya dikhususkan pelanggan perempuan. Karena sekarang saya tinggal di Setia Budi, maka saya bisa ke Inan Salon yang ada di Benhil. Setiap Sabtu dan Minggu, salon ini selalu ramai, antri. Kadang kita harus booking dan pesan lebih dahulu lewat telpon.

Nah, ada kebiasaan gini nih tiap kali datang. Sang pelanggan akan antri di front desk. Di sana ada dua embak-embak yang akan mengatur  kebutuhan kita dan dengan siapa kita akan ditangani. Lalu kita membayarnya tagihannya langsung di sana. Tapi setiap orang selalu mendapatkan perlakuan yang sama. Si mbak dengan suara dan wajah disetel manis itu  akan mencatat. Biasanya disertai pertanyaan.

“Yah, Mbak. Mau perawatan apa?”

“Hair Spa.”

Lalu si mbak melihat kita. Jika dia pake jilbab, dia akan bertanya lagi.

“Rambutnya semana, bisa dibuka jilbabnya…” Kenapa demikian. Karena dari pendek dan panjang rambut itulah yang akan menentukan harga bayar hair spa, selain produk yang kita pilih untuk dipakai. Tentu saja semakin panjang rambut kita semakin mahal bayarnya. Setelah itu dia akan melihat rambut kita.

“Mau pakai produk apa, mbak? Tambah vitamin atau tonik? Rambut mbak akan lebih bagus lagi jika menggunakan produk perawatan B (sebut saja demikian-pen). Biar lebih kuat. Apalagi pake jilbab,” diucapkannya bak seorang ahli, dan dengan nada yang simpatik.

Awal-awal saya kayak terhipnotis. Mendengarkan, lalu menyetujuinya. Bret, langsung bayar 300-500.  Begitu juga kalau mau jenis perawatan apa pun. Baik itu facial, medicure dlsb.

Bagi saya mbak-mbak front desk ini yang menaruh “jebakan batman,” bagi pelanggan.

Sekarang karena sudah hapal kebiasaannya, saya biasanya abaikan. Apalagi saya sudah tahu harga-harganya. Saya sendiri sebenarnya cenderung tidak peduli produknya, karena terpenting kalau ke hair spa itu adalah mbak yg akan “pegang” kepala kita. Di Inan Salon Benhil saya hanya ingin dipegang oleh mbak Ayu, mbak Elis atau mbak Wina.  Saya tidak mau mau yang lainnya. Di sana mungin ada 20-an pelayan salon.  Tapi tidak semuanya “tangannya” pas dalam memegang saraf-saraf kepala dan punggung kita. Bagi saya ini bagian paling penting dari hair spa, yaitu pijatan. Yess, mijat kepala dan punggung. Hair spa itu bonus aja, hahahaha.

Makanya si mbak penerima pelanggan Inan Salon, begitu liat muka saya di depan mejanya, mukanya yang tadinya disetel senyum manis, berubah datar, dan tanpa tanya, dia langsung mencatat dan memanggil diantara tiga nama yg biasa pegang kepala dan punggung saya. Saya tidak pernah masuk “jebakan batman” si mbak penerima pelanggan itu..maaf yah, mbaaak. 😀

View on Path

Advertisements
Categories: CATATAN HARIAN | Tags: , , , , , , , , , , | 1 Comment

Post navigation

One thought on ““Jebakan Batman” Salon

  1. nice info mbak musfarayani…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: