Beri setengah saja cintamu

“Cintailah orang yang engkau kasihi sekedarnya saja karena boleh jadi kelak engkau akan membencinya. Bencilah orang yang engkau benci juga sekedarnya saja karena boleh jadi kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai” – Ali bin Abi Thalib

Lebih baik begitu jika tidak ingin terluka dalam. Ada masa dimana kita mencintai seseorang begitu totalnya. Sehingga terasa begitu sesak. Ada dimana kita mencintai seseorang begitu membaranya, sehingga membakar lalu menghanguskan. Cinta semacam itu sembuhnya lamaaa. Lagipula cinta sedemikian rupa ke manusia, tidak akan pernah abadi. Ada umurnya. Kematian. Itu lebih parah lagi sembuhnya,

Membenci. Banyak cerita cinta dimulai justru dari rasa membenci. Nah, bisa diberikan contohnya…Ok, lagi mengingat….Ok enggak ingat. Hahahhahaa.

Sebenarnya ada kejadian yang membuat aku langsung mengingat dengan nasihatnya Ali bin Abi Thalib. Aku punya banyak sekali lingkaran kawan. Ada satu titik, cerita-cerita terputus-putus, dan tercecer-cecer dalam ingatan sepintas, kemudian menjadi cerita utuh dalam sebuah ketidaksengajaan.

Ada kawan cewek yang masih belia, bercerita kepadaku bahwa dia mendapatkan “jackpot” malam-malam. Sebuah pesan dalam inbox di instagram. Sang pengirim pesan, “seorang cewek,” memperkenalkan dirinya secara jelas sebagai “pacar”nya cowok, yang menjadi kawan muda teman saya ini. Mereka semua teman saya. Jadi saya tahu. Tahu juga soal perilaku cowok yang diceritakannya. Bukan seorang romantis. Cewek pengirim jackpot ini merasa cowok ini adalah cowok abadinya. Sehingga seperti tidak bisa menerima bahwa cowoknya punya ketertarikan juga dengan lainnya.

Entah cinta atau obsesif. Si cewek yang dikiriminya jackpot ini distalking dan diintip terus kegiatannya melalui sosial media. Tentu saja pasti sibuk sekali dia mencari tahu hal apa pun soal ini. Habis waktunya untuk itu, dan menjadikannya seorang obsesif daripada seorang yang mencinta.

Cinta itu enggak bisa dipaksa, apalagi diikat dengan cara paksa. Itu bukan cinta, itu obsesif, yang akan berakibat pada “sakit jiwa.” Apalagi sudah membuka komunikasi yang “mengintimidasi.” Jika kamu percaya cowoknya sayang sama dia, dan kuat cintanya, kenapa dia melakukan hal-hal rendah semacam itu.

Bukan itu saja, ketika cowoknya terlibat dalam kerja dengan saya, si cewek mengeceknya melebihi dari “emak-emak” yang takut anaknya diculik. Bukan hanya mengecek, tapi seperti memberi “peringatan.” Misalnya begini, “Apa benar malam ini akan meeting dengan kakak? Sebab kerjaan dia di sini belum selesai. Ini mau lama, atau mau sebentar?” Ditanyakan dengan nada dan tekanan mengancam.

Ketika di konfirm ke cowoknya, cowoknya bingung. “Kerjaanku udah selesai, kok.  Santai aja enggak usah buru-buru,” jelasnya yakin.

Saya mendengarkan semua ini. Obsesif itu bukan cinta. Obsesif itu narsistik yang menimbulkan fantasy yang seolah nyata. Seolah semua cowok yang didekat dan sering bergaul dengan kita adalah milik kita. Itu bukan cinta, itu tanda orang begitu kurang kasih sayang dalam hidupnya.

Cerita ini kemudian membuatku teringat nasihat Ali bin Abi Thalib ini…mungkin salah satu maksudnya seperti itu, yah…

 

 

View on Path

Advertisements
Categories: CATATAN HARIAN, Tak Berkategori | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: