Capaian Advokator Media #EkspedisiMediaEnrekang

 

Well, berita-berita seperti ini telah membawa komunitas petani setempat ini  menjadi perhatian utama pemerintahnya. Ooo bukan hanya pemerintahnya, tapi juga menyadarkan semua warga di desa sekitar Pasui dan Wai-Wai. Dimana itu? Nahh, pada enggak tahu, kan. Itulah salah satu yang saya suka dari kerjaan saya ini.  Setidaknya, dengan tugas untuk “nusa bangsa ini,”  makin menambah pengetahuan saya -bukan hanya kegeorgafian semata tapi juga pengetahuan soal isunya sendiri.  Karena untuk menyiapkan mereka jadi cerita “besar” di media sekelas Kompas dan Metro tv, saya juga harus banyak baca, diskusi dengan orang yang ahli dalam bidang pertanian, perubahan iklim.

Saat ini saya tengah menyiapkan ekspedisi media lainnya. Tepatnya ketiga dalam setahun terakhir ini untuk seri cerita adaptasi perubahan iklim. Kali ini adalah giliran  Desa Bismo, Batang, Jawa Tengah. Bagian ini akan saya ceritakan nanti.

Bah, sudah jam dua pagi. Tapi demam bukannya membuat saya ngantuk. Yah, hari ini lagi demam, dan flu berat. Jadi susah tidur, karena idung mampet. Otak saya aktif terus. Jadi, saya mau gunakan untuk menulis dokumentasi hasil kerja media advokasi yang dilakukan.

Oktober lalu, tepatnya usai Idul Adha, ekspedisi media untuk mengangkat cerita kearifan lokal, adaptasi perubahan iklim, terkait embung, yah, berjalan sesuai rencana. Ini media advokasi ketiga yang saya lakukan atas konsep, dan strategi yang saya buat. Tidak lagi ada ikut campur “advisor-advisor” yang ahli itu, dengan konsep yang sangat tidak mendidik media, instant, kaku dan birokratis feodal abis itu. Saya senang “advisor” saya yang baru ini, bule Jerman, yang cenderung enggak peduli apa yang saya lakukan. Saya juga malas menghampirinya untuk meminta “saran dan nasihat,” karena hasilnya pada akhir bikin “emosi.”

Well, bolehlah dia bule, tua pulak, pengalaman segudang dalam hal dunia sanitasi marketing dan sebagainya. Tapi begitu diajak bicara dunia media dan komunikasi untuk media advokasi (bukan hanya sekedar media relation), itu enggak selalu nyambung. Cenderung meremehkan.

Tapi saya masih seneng advisor kali ini,  dia jadinya enggak peduli dengan yang saya lakukan, hingga dia kaget sendiri.  “Big bos”nya- “Ndoro donor” yang menggajinya memberikan pujian selangit atas berita-berita yang mengangkat program mereka, di media-media bergengsi. Tentu saja dia tahu dia tidak punya peran sama sekali terhadap itu semua. Dia tahu, itu adalah kerjaan belakang layar saya, yang selama ini dia tidak ingin tahu dan tidak mau tahu.

Saya senang, meski sudah berakhir pun ekspedisi media, silaturahmi saya dengan orang-orang di sana masih berjalan dengan baik.  Pak Ichsan kini menjadi “champhion.” Pemerintahnya bangga punya petani kayak dia.

 

Ekspedisi media membawa dampak yg baik bagi komunitas petani. Meski telah mendapatkan publikasi yang baik, dia tetap bersahaja. Tetap menjadi petani, menjadi warga desa Wai-Wai serta menjadi inspirator bagi masyarakatnya.

#ilovemyjob

 

View on Path

Advertisements
Categories: CATATAN HARIAN, CATATAN PERJALANAN | Tags: , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: