Tokoh antagonis dibalik runtuhnya kerajaan Majapahit?

Sejarah itu ditulis oleh pemenangnya – Winston Churchill.

Selalu demikian, sejarah ditulis oleh “sang pemenangnya.” Tapi buku Tokoh Antagonis. Dharmo Gandhul- Tragedi Sosial Historis di Penghujung Kerajaan Majapahit yang ditulis Nurul Huda, menceritakan versi lain dari “yang kalah.” Bukan sang pemenang. Sebuah buku sejarah yang diambil dalam Serat Dharmo Gandhul yang menceritakan latar belakang runtuhnya Kerajaan Besar Majapahit sekitar abad-15 (1478 M). Cerita kekalahan  Brawijaya oleh penakluknya, anaknya sendiri, Raden Patah,  yang kemudian menggantikan masa emas Majapahit menjadi kerjaaan Islam yang berpusat di Demak. Lahirnya “kerajaan Islam,” setelah Majapahit ini, konon juga dibantu oleh para Wali masa itu.

Dharmo Gandhul saya temukan di salah satu toko buku di dalam ruang tunggu Bandara Internasional Achmad Yani Semarang. Toko bukunya kecil seukuran kios 3X3 dengan buku-buku Kejawen dan tampilan cover enggak menarik. Tapi saya masuki juga, karena saya lagi enggak bawa buku bacaan, sementara saya akan menunggu lama di bandara. Saya susuri raknya satu-satu. Memang ada buku dengan judul-judul berbau kejawenan, dan mistis, Tapi ada satu rak dengan rentetan judul-judul buku yang menurut saya menarik. Buku-buku tasawuf Jawa,  sejarah-sejarah seputar jatuhnya Majapahit, Syekh Siti Jenar, dan judul buku yang sepertinya saling terkait satu sama lainnya. Mata saya mulai berbinar. Saya berada di ruang “harta karun.”

Dari sederet buku yang ingin saya sentuh, buka dan saya baca semua itu, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada buku foto di atas, yang sebelah kiri. Saya tidak kenal Nurul Huda. Dalam bukunya tidak ada data penulisnya. Tapi saya lihat daftar pustaka yang menjadi sumber tulisan ini, cukup menjelaskan buku ini bukan ditulis asal dan sembarangan. Fiksi juga bukan. Karena buku ini mengupas  sebuah “serat.” Serat Dharmo Gandhul. Sayang di buku ini tidak dijelaskan Dharmo Gandhul itu siapa, dan gurunya Ki Kalamwadi itu siapa. Tiba-tiba sudah langsung pada penuturan tanya jawab “murid dan guru.”

Suatu hal aneh sebenarnya, setidaknya sejumlah kitab-kitab sejarah Jawa jelas penulisnya, bahkan profesinya. Sehingga kita bisa memastikan keabsahan penuturannya tersebut, serta memahami kenapa dia menuliskannya demikian.  Bisa jadi ini ditulis oleh seseorang yang mempunyai imaginasi tinggi. Tapi inilah yang menjadi pokok menarik dalam bahasan buku ini, tentang Serat Dharmo Gandhul.

Saya lihat halaman depan tentang tahun terbitan. Ternyata tahun 2005. Hehhehe, kemana aja saya ini. Buku tahun 2005 baru saya baca dan baru saya bahas. Tapi tak apalah, ini bahan bacaan menarik menambah khasanah pengetahuan saya soal Majapahit. Saya hanya ingin tahu apakah buku ini juga memberikan jawaban atas pertanyaan saya tentang Perang antara Demak dengan Majapahit.

Namanya perang, pasti banyak hal nestapa dan mengerikan terjadi, misalnya, orang-orang yang terbunuh, kehancuran. dan orang-orang tersingkir bagaimana diperlakukannya. Lebih dari itu, Majapahit-Demak sesungguhnya “negara” berkerabat. Karena Raden Patah yang keturunan Cina itu adalah anak Prabu Brawijaya Raja Agungnya Majapahit. Bisa dibayangin dong dampak peperangan anak-bapak ini. Bayanginnya aja ngeri.

Lalu saya baca buku halaman pertamanya, baru beberapa baris, saya pun langsung larut. Buku ini langsung memberikan tuturan tentang percakapan antar Dharmo Gandhul dengan Ki Kalamwadi. Paragraf pertama sudah mencantumkan pertanyaan yang mungkin mewakili pertanyaan banyak orang  “Bagaimana ceritanya Orang Jawa bisa meninggalkan agama Buda (Budha) dan masuk agama Islam?” Hal pertama ini dimunculkan juga memunculkan pertanyaan juga. Ini yang menulis sudah langsung “mengarahkan.”

Dalam bacaan buku sejarah saya kecil dulu, tidak detll terkait emosi dan latar belakang. Hanya disebutkan disebarkan para pedagang dari Gujarat adalah penyebar agama Islam selain para Waliullah.  Tuturan buku yang mengutip hampir sebagian besar di Serat Dharmo Gandhul ini cukup membumi bahasanya, sehingga membacanya seperti melihat sebuah adegan-peradegan sebuah film.

Saya mesti mengakui buku ini cukup memberi perspektif berbeda tentang masa runtuhnya Majapahit. Meski harus diakui juga serat Dharmo Gandhul menurut saya masih belum jelas benar keabsahan ceritanya. Mungkin ada benarnya pula, tapi mungkin ada beberapa yang ditambahkan untuk tujuan-tujuan tertentu. Mungkin memang penulisan sejarah tidak pernah selalu benar, jika ditulis oleh orang yang kalah maupun orang yang menang. Apalagi jika serat ini ternyata didapat dari hasil kopian misionaris Belanda. Kita tidak pernah tahu benar kebenaran sejatinya.  Tapi sebagai penikmat buku, saya menyukai bahasan dan tuturan yang diungkapkan.

Saya cukup terharu biru ketika diceritakan pada bagian Brawijaya akhirnya wafat nelangsa. Saya mau nangis bacanya. Karena dia tidak menyangka diserang, dinistakan sendiri oleh anaknya. Dia besarkan, dia naikkan martabatnya dengan menempatkannya sebagai Patih di Demak, dibebaskannya dia memilih agama menjadi Islam seperti istrinya, Putri Chempa, memberi kuasa dan tanah pada guru-gurunya, Sang Waliullah. Lalu, dia diserang karena dianggap kafir, atas bujukan para Sunan terutama Bonang dan Giri. Ketika dia mengetahui akan diserang, dia bahkan memerintahkan Gajah Mada untuk menghadapi sekedarnya saja karena itu anaknya. Dia hanya kecewa, jika kuasa menjadi Raja diinginkan Patah, dia bahkan rela memberikannya. Apalagi dia juga merasa sudah menua. Pada saat ditemukan Sunan Kalijaga dalam pelariannya menuju Bali, dia menjelaskan, yang paling melukainya dalam perang ini adalah itu dilakukan anaknya sendiri. Sedih banget, saya membaca “adegan” yang dituturkan dalam buku ini.

Pada bagian lain soal Waliullah terutama Sunan Bonang dan Sunan Giri yang digambarkan sebagai tokoh antogonis di sini dan dianggap “sebagai biang kerok,” runtuhnya Majapahit, Karena di serat ini digambarkan betapa Sunan Bonang dan Giri – adalah orang Arab- begitu hasut dan hasatnya. Cukup mempengaruhi prasangka saya juga, orang berjubah putih belum tentu hatinya putih. Buku ini jika ditelan mentah-mentah memang akan membuka ketidakjernihan pada sejarah Majapahit itu sendiri. Andai penulis serat ini jelas identitasnya, sehingga kita bisa menelusuri latar belakangnya, dan kenapa dia menuliskannya,  mungkin kita  bisa melihat nilai objektifitas dan subjektifitas penulisnya kenapa serat ini ditulis. Sehingga tidak perlu ada penyangkalan dan keraguan. Terus terang, buku ini mengejutkan saya sebagai Islam yang awam yang selalu didogma bahwa Waliullah, para Sunan itu suci, berbudi pekerti. Lupa pula, sunan adalah manusia biasa.

Saya juga cukup terharu dengan percakapan antara Raden Patah dengan  neneknya, Nyi Ageng Ampel. Babah Patah, demikian panggilan sayang Raden Patah,  mendapatkan kekecewaan, kepedihan dan juga kemarahan neneknya setelah dia meminta ijin untuk menjadi Raja. Bukan kegembiraan yang menyambutnya. Dalam diskusi panjang, serius dan dalam, antara nenek-cucu, sang nenek berkata : ……Orang mengembara (Sunan Bonang dan Giri-orang Arab) kok diturut perkataannya, (tapi) yang mendapat celaka kamu sendiri. Itu pertanda pengetahuanmu masih mentah. Berani kepada orang tua karena keinginanmu menjadi raja. Kamu ini bukan santri yang tahu sopan santun, hanya mengandalkan surban putih, tetapi putihnya kuntul, putihnya hanya di luar, di dalam .

Tidak tahu nilai kebenarannya yg mana dari sejarah ini. Tapi saya takjub juga pada penuturan di bagian perdebatan yang sangat dalam antara  Sunan Bonang dengan seorang pemimpin alam gaib – makhluk halus bernama Buta Locaya. Kedua tokoh menunjukkan penguasaaan ilmu kebajikan, ketauhidan, tradisi juga kemanusiaan.Perdebatan soal ketauhidan, agama, tradisi ini justru ditampilkan di sini  Sunan Bonang sebagai yang “picik” dibandingkan “demit sholeh” bernama Buta Locaya. Tapi saya menyukai kedalaman perdebatan mereka, terutama cara pandang “lawan” Waliullah Sunan Bonang Ketika dalam perdebatan ini menyebut nama-nama tempat kejadian, dan disebutkan kini tempat tersebut masih ada dengan nama aslinya, sepertinya jika ada waktu, saya akan menyusurinya suatu saat nanti.

Perdebatan soal ketauhidan, dan agama antara Brawijaya dan punggawa setianya Sabdapalon (menurutku dia semacam Merlin di kerajaan Majapahit), ketika Brawijaya akhirnya memilih Islam, setelah mendapat pencerahan dari Sunan Kalijaga, juga sufistik banget. Diceritakan juga sebab kenapa Sunan Kalijaga lebih memilih berpakain hitam daripada putih seperti sunan lainnya, dan apa latar belakang Sunan Giri membunuh Syeh Siti Jenar- yang menolak ikut bersukutu menyerang Majapahit tanpa alasan yg jelas.

Begitu juga argumen Brawijaya dan Sabdopalon yang ternyata adalah penjaga “raja-raja” Majapahit yang umurnya sudah 2000 tahunan seperti dituturkan dalam percakapan ini. Buku ini diperlihatkan “hal-hal manusiawai” yang ingin menjelaskan orang suci itu belum tentu suci juga. Karena kita tidak pernah tahu hatinya seseorang. Itu pula, menarik banget, kan.

Saya tidak henti menghabiskan membaca buku ini, hingga saya mendengar panggilan akhir pesawat saya yang akan ke Jakarta. Nama saya juga dipanggil lewat pengeras suara yang artinya saya penumpang akhir itu. Saya langsung membayar buku itu dengan harga Rp 80 ribu dengan terburu-buru, BIasanya saya rewel menawar dalam membeli buku meski di toko pun, tapi kemarin karena sudah mepet waktu saya langsung membayar dan berlari. Tidak peduli orang sepesawat melototin karena saya penumpang akhir yang ditunggu itu. Saya hanya tidak sabar ingin segera duduk dan melanjutkan baca. Saya pulang hari Sabtu sorean dan buku ini sudah tuntas saya baca hingga hari Minggu siang.

Lalu sore tadi saya sempatkan ke Blok M. Saya ingin membeli buku bacaan lagi.  Mata saya tertuju pada buku Thothokkerot. Buku kucel seperti tidak berarti. Tapi saya tahu, dan abang penjualnya juga tahu, itu buku langka.  Saya mengambilnya dan mulai baca di tempat. Saya pun langsung ingat buku Dharmo Gandhul, tentang patung yang dirusak Sunan Bonang dan Locaya menjelaskan arti patung bagi orang Jawa- yg bukan untuk disembah. Patung itu juga ada sejarahnya sendiri. Makna-mana filosofi sejak jaman Jayabaya ada, dan bukan diperuntukkan sebagai sesembahan seperti yang dipikir Sunan Bonang- dalam cerita di buku.  Penggambaran patung  yang diceritakan di serat Dharmo Gandhul ada pada buku Thothokkerot. Saya tidak melihat pada foto dokumen tentang patung itu terbelah kepalanya. Harusnya  patung itu kepalanya terbelah oleh tongkat Sunan Bonang seperti yang  diceritakan Dharmo Gandol. Tapi itu utuh. Memang rusak, tapi pada bagian kepala utuh.

Saya merasa beruntung sekali mendapatkan dua buku ini dalam rentetan yang pasti bukan kebetulan. Karena buku kedua yang saya beli tidak tebal hingga tengah malam pun buku itu sudah selesai saya baca. Hal ini saya sebut kemewahan. Me time istimewa yg mewah, Hingga saya rela enggak mandi pun wkwkwkkwkwwk…..

View on Path

Advertisements
Categories: CATATAN HARIAN, SINOPSIS BUKU | Tags: , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: