Masak Makananmu Sendiri

Sebelum berdoa mari kita selfiekan makananmu sendiri. Hahahhaha. Makan malam kali ini sop jamur dan telur puyuh. Masakan sederhana yg bisa dimasak sendiri. Repotnya yah, potong2 sayuran, dan mengupas kulit telur puyuh yg kecil-kecil itu perlu kesabaran yahh…. Sop, ayo berikan cengiran terbaikmu!!😀😄 #masakmakananmusendiri

Sudah hampir tiga tahun terakhir ini, saya membiasakan diri untuk memasak makanan saya sendiri. Terutama di akhir pekan, atau jika ada kawan baik saya yang ingin menginap, atau mampir ke rumah saya. Saya senang kebiasaan berkumpul di rumah dibandingkan di kafe. Kami bisa duduk seenaknya, bisa berselonjor, berbaring dan nonton bersama. Saya mulai mengurangi melakukan pertemuan dan hengot dengan kawan-kawan di kafe atau tempat makan jika tidak ada urusan kerja berjumpa dengan klien, atau membicarakan projek yang saya minati. Kegiatan saya yang dilakukan diluar bersama teman (teman-teman baik saya) biasanya, lari keliling GBK setelah pulang kerja setidaknya seminggu sekali, tiap Selasa (jika tidak ada tugas keluar kota), saya berlatih yoga, selebihnya cepat kembali ke rumah, untuk….tentu saja di sana selalu ada National Geographic Channel, buku-buku dan musik….juga kucing liar yang suka mampir untuk minta makan dan tanaman-tanaman saya di balkon,

Saya juga senang sekali belanja di pasar tradisional dan menemukan hal-hal baru di sana, misalnya seperti sayuran lembayung yang dulu sepintas saya lihat seperti sayur bayam. Saya yang waktu itu akan memasak pecel, sempat menawar untuk mengambil bayam tersebut. “Ini bukan bayam, neng. Ini daun lembayung…” kata abang penjual sayur. Saya malu sekali. Begitu saya melihatnya, ternyata memang ada perbedaanya…dan banyak bedanya hahahaha. Dia memiliki daun mirip bayam hanya lebih panjang dan lebar, dahannya lebih mirip pohon katuk. Jadi memang beda.

Hal lain yang baru adalah, ketika saya akan membeli telur. Kebiasaan beli telur ukurannya ada kilo. Tapi itu untuk telur ayam “negeri” atau boiler. Tidak untuk telur ayam kampung. Begini kebodohan dan akhirnya hal baru yang aku pahami di pasar. “Bang telur ayam kampung ini sekilonya berapa, yah….” si abang penjual telur menatap saya. Dia dan kawannya saling menatap. Saat itu saya paham ada yang enggak beres. Tapi saya masih enggak mudeng.

“Kalau telur ayam kampung hitungan harganya butiran, mbak…” katanya tersenyum. Mukaku merah kayak kepiting rebus, keliatan banget jarang ke pasar.

“Kalau begitu saya beli lima butir aja, bang. Kadaluwarsanya sampai kapan ini bang?” tanyaku serius, Karena teringat terakhir beli ayam kampung di supermarket ada tulisan masa segar atas telur itu. Sempat membuka telur yang melewati masa dan hasilnya kuning telur pecah dan berbau. Makanya kutanyakan itu. Tapi si abang saling tatap lagi sambil menahan geli. Saya tahu ada yang enggak beres…

“Yah, kalau telur mungkin dua minggu sampe nyaris sebulan jika disimpan di kulkas….”

Karena malu, jadinya setelah membayar saya menghindari belanja di bagian ada kios telur itu. Tapi inilah yang aku menjadi mulai tahu dan merasakan asiknya belanja di pasar tradisional. Di sana juga ada banyak hal, dan tentu saja tempat makan bakso yang rasanya enaaaak. Selalu ada kan ya….

Di Pasar tradisional terus terang aja saya tidak bisa megukur mahal atau tidaknya sebuah barang, karena bagi saya semuanya murah dan fleksibel. Misalnya beli bumbu dapur, dengan harga Rp 2000 rupiah saja saya bisa mencampur aneka macam bumbu dapur yang saya minati. Saya juga bisa beli Rp 1000 untuk beberapa butir bawang putih dan bawang merah dicampur beberapa cabe merah dan rawit, untuk kepentingan saya menumis.Yah, saya tidak membeli banyak-banyak, karena kegiatan memasak saya kan hanya seminggu sekali. Mencampur berbagai rempah dan bahan bumbu yang saya minati dalam satu “paket” bumbu dengan harga ekonomis tidak mungkin saya dapatkan di Supermarket. Saya juga bisa membeli tomat, wortel atau kentang dengan harga yang menurut saya murah dibandingkan di Supermarket. Lah iya lah murah. Kan, belinya di sini dengan kemringet, karena tidak ber-AC dan tidak perlu bayar pajak. Hahahhaha.

View on Path

Advertisements
Categories: Tak Berkategori | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Masak Makananmu Sendiri

  1. It looks cool !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: