Merdeka! Kerja di hari merdeka #Catatanadvokasimedia

Minggu, 16 Agustus 2015. Pagi buta saya sudah harus ada di bandara Soekarno Hatta sebelum Shubuh, dan kalau ibu saya tidak membangunkan saya, sudah pasti saya terlambat naik pesawat. Saya tidak suka mendapatkan tiket penerbangan pagi-pagi buta. Tapi menurut teman saya, tiket tersisa hanya pada jam segini. Jelang 17 Agustus yang jatuh pada hari Senin, menjadikan banyak orang yang bekerja memanfaatkannya untuk liburan panjang ke berbagai tempat eksotis di Indonesia. Lombok adalah salah satunya yang sudah dipastikan banyak orang menjadikan tujuan liburan panjangnya.

Terus terang saya sudah sangat terlambat ke Bandara Soekarno Hatta, jika ibu saya tidak membangunkan saya tadi sudah pasti saya tidak berangkat hari itu. Saya termasuk beruntung masih punya orang tua yang sudah sepuh tapi masih mau punya energi, ‘bela-belain” juga mengantar saya ke bandara. Iya,  saya yang sudah berumur ini diantar ke bandara oleh bapak dan emak saya, hehehehe. Saya tidak meminta tapi keduanya selalu ingin melakukannya. Jadi saya membiarkannya. Saya menginap di rumah mereka karena perjalanan pagi ini. Jika dari Setiabudi, sudah dipastikan saya terlambat.

Saya sudah lama tidak naik pesawat non-Garuda Indonesia. Tapi hanya tiket Lion Air saja yang tersisa dan tentu saja murah, karena lembaga yang meminta saya melakukan perjalanan ini mempunyai budget terbatas, Awalnya, saya tidak bisa diberangkatkan karena keterbatasan budget yang dimiliki mereka itu. Lalu saya diminta memandu melakukan mobilisasi media melalui jarak jauh dan membimbing staf mereka yang ada di Lombok. Saya malah suka memberikan semcam “mentoring” langsung kepada stafnya untuk melakukan kerja-kerja media relation. Sehingga ke depan mereka bisa melakukannya sendiri tanpa saya.  Tapi karena yang sekarang menjadi momen penting yang tidak mungkin diurus dengan orang yang jam terbangnya di bidang ini belum tinggi,  jadi mereka mencarikan tiket untuk saya agar bisa mengawal media briefing secara langsung. Tapi hanya untuk sebatas acara ini, setelahnya saya harus pulang lagi. Karena ada acara training yang mesti saya kawal.

Tiba di Bandara Soekarno Hatta pagi buta, suasanya bagaikan pasar. Waktu menunjukkan setengah lima pagi. Jadwal pesawat saya akan take off pukul 05.00 WIB. Tapi antrian check in panjaaaang, dan tidak beraturan. Padat sekali orang, kayak orang mau nonton konser musik rock begitu. Saya sudah bisa mengindentifikasi para calon penumpang ini akan menuju ke tempat seperti apa.  Sebagian besar terlihat memakai pakaian gunung dengan sepatu gunung dan keril-keril besar, sebagian lagi berpakaian siap liburan ke pantai dengan membawa alat-alat snorkling. Hanya saya saja yang berpakaian kasual dengan ransel laptop. Saya pergi ke Lombok untuk kerja bukan untuk liburan.  Lombok jelas menjadi target sasaran  orang muda kantoran Jakarta menuju Rinjani atau pun gili-gili yang eksotis. Itu yang membuat antrian check ini pagi ini antri. Kenapa semua orang memilih jadwal penerbangan pagi buta? Karena mungkin penerbangan pagi buta biasanya tiketnya jauh lebih murah. *sok tahu hahahaha.

Saya gelisah melihat antrian panjang dan saya tahu terlambat. Saya ingin menerobos dan menjelaskan petugas tentang jadwal saya yang sudah mepet. Tapi tiba-tiba beberapa petugas check in di depan berteriak, “Yang naik jam lima, jam lima ke sini!”  Saya spontan tunjuk tangan, dan saya tidak sendirian. Saya langsung menerobos ke depan. Cepat saja. Seorang tukang sapu (karena dia membawa sapu dan pengki sampah) ada di samping saya dan seperti ingin membantu saya mendapatkan pelayanan yang cepat. Terus terang saya tahu maksudnya dia berepot-repot seperti itu. Tapi saya tidak mengusirnya juga tidak menggubrisnya. Saya santai saja.  Saya membiarkannya sibuk memastikan saya dapat ruang antri, meski sebenarnya dalam hal ini sebenarnya saya bisa mengurus segalanya sendiri tanpa bantuannya atau siapa pun.

Jika sudah mepet seperti ini jangan harapkan sebuah keramahan dan senyum. Semua petugas check ini muka sibuk semua, tegang dan panik. Bahkan yang melayani saya tidak memandang saya sedikit pun, dia cepat saja dan meminta saya bergegas menuju Gate 11, karena sesungguhnya pesawat saya sudah boarding. Saya bergegas dan tukang sapu itu mendahului saya seolah mau menunjukkan jalannya kepada saya. Saya membiarkannya juga. Saya tidak mau memulai pagi dengan “menyemprot” orang. Begitu ada di Gate 11 saya tahu “bantuan” tukang sapu bukanlah gratisan. Dia berharap sesuatu dan saya akan kena makian dalam hatinya jika saya tidak memberi atas “jasanya,” dan tentu saja saya tidak menginginkannya itu mengiringi perjalanan saya. Jadi saya memberikan “tips’ Rp 10,000 kepadanya. Saya tahu, saya telah memberikan “kebiasaan” yang menyenangkan bagianya kelak kepada lainnya. Tapi saya tidak ada waktu untuk berpikir di tengah ketergesaan ini. Saya sudah langsung masuk gate 11 dan orang yang akan ke Lombok sudah antri masuk pesawat lewat ruang boarding dan saya antri paling belakang.

Saya duduk paling belakang dekat toilet. Sudah lama sekali saya tidak naik Lion Air.  Hampir 10 tahun barangkali. Tapi terlepas dari kekurangannya, hari ini berjalan sesuai dengan waktunya. Begitu dapat duduk dan menempelkan kepala di belakang kursi, saya tidur pulesss. Saya tidak menggubris pasangan muda-mudi saya yang sepertinya warga keturunan memanfaatkan duduk paling belakang dengan saling pegang, pelukan dan sebagainya. Saya begitu mengantuknya hingga tertidur pulas sampai pesawat mendarat di Lombok. Yah, saya bukan “orang pagi,” berangkat pagi membuat saya selalu mengantuk  dalam perjalanan dan membuat saya tertidur pulas dimana saja begitu dapat bangku, dan langsung blas molor.

Tiba di bandara Lombok, saya sempatkan minum segelas kopi di Indomaret di ujung pintu keluar sambil menunggu jemputan. Saya lihat etalase-etalase Bandara Praya sudah ramai dengan  tampilan-tampilannya. Tentu saja jika dibandingkan Bali yang penuh corak dan warna, yang terlihat sederhana di Praya saja,  juga sudah lumayan.  Setahun lalu saat ke Rinjani, bandara ini masih lengang, “kosong tanpa wajah.”

Kawan-kawan saya yang punya gawe baru mendarat pada pukul 08.00 WITA. Jadi saya punya waktu membuka leptop dan membalas email-email kerjaan saya. Memberikan arahan melalui daily TOR kepada Social Media Campaigner saya yang memegang Sosmed KEHATI. Memastikan mitra kerja saya Luluk untuk membuat Concept Note untuk program MCA. Yah, akhir pekan itu tetap hari kerja buat saya. Jadi jika ada yang bilang kerjaan saya “jalan-jalan” terus, yah…jalan tapi penuh kerjaaan. Saya juga sempatkan mengirimkan undanga Media Briefing lagi kepada media di Lombok melalui sms, whatsapp dan email.

Begitu kawan-kawan saya muncul di jam 8 pagi saya  berangkat bersama mereka  menuju Mataram. Mereka membawa segala macam barang. Saya hanya kagum dengan tim yang isinya cuma tiga orangan ini yang mengurus event besar semuanya hanya mereka bertiga. Jangan ditanya tingkat tekanan dan juga emosinya terutama dalam menghadapi orang-orang. Karena itu saya hadir hanya sedikit membantu meringankan kerjaan mereka di sini, dan saya senang bisa membantunya meskipun hanya sedikit saja peran saya.

Terus terang saya gelisah, karena belum pernah melakukan melakukan persiapan media briefing tanpa persiapan dan pendekatan ke media bersangkutan secara langsung seperti sekarang.  Saya tidak mengenal media di Mataram. Siapa saja mereka dan bagaimana mereka dan apakah mereka tertarik dengan isu ini. Saya tidak tahu sama sekali. Bahkan awalnya saya tidak punya kontak satu pun dari mereka. Saya tidak punya jaringan. Ketika diminta untuk bisa mengawal media di tempat ini dengan isu yang sangat berat di tengah akan adanya Pilkada, ini menjadi tantangan tersendiri buat saya. Apalagi saya tidak diberi kesempatan untuk ke acara tersebut secara langsung dan hanya mengawal di kejauhan di Jakarta.  Karena itu ketika diminta bantuannya oleh kawan saya, saya pun mengiyakan dan ingin melihat kemampuan strategi  yang saya buat, apakah bisa dilakukan atau tidak dengan situasi yang serba enggak ideal tersebut. Saya akan ambil resiko ini meski record reputasi saya akan dipertaruhkan.

Gimana caranya. Tentu saja cara pertama saya harus punya kontak medianya lebih dahulu. Tapi jika belum pernah ke sana dan  berhubungan gimana mendapatkan kontaknya. Saya langsung ingat saja kawan-kawan media di Bali. Satu-satu saya hubungi mereka melalui whatsapp. Ternyata mereka orang baik semua. Jadi mereka memberikan informasi kontak-kontak media yang ada di Lombok. Dari sana, saya dengan mudah memperkenalkan diri dan menggali perspektifnya sambil kenalan dan ngobrol di telpon. Dalam sehari saya sudah mendapatkan 20 kontak media dengan media-media sasaran yang saya inginkan.

Sebelum telpon, tentu saja sudah harus disiapkan materi-materi media untuk bisa mereka baca dan pelajari. Materi-materi itu sudah dibahas dan didiskusikan oleh kawan-kawan yang mempekerjakan saya. Saya sudah buatkan dalam format untuk dikirim melalui email, sms, dan whatsapp. Hal ini pula yang memudahkan kawan yang akan mengawal kegiatan ini ke depan jadi lebih mudah.

Setelah materi untuk media dipersiapkan, maka jauh sebelumnya sudah didiskusikan tentang skenario media briefingnya seperti apa. Karen ini menyangkut isu komunitas lokal dan indigenous people, maka sangat penting jika menyertakan komunitas lokal dan indigenous people Lombok disertakan. Talking point, dan isu yang akan digali sudah disepakati dan ditentukan bersama. Hingga bentuk makan siangnya juga seperti apa juga telah ditentukan. Jadi sebenarnya memang sudah ada rencana dan persiapan yang telah dipersiapkan dengan baik untuk media briefing ini. Selain itu, juga yang perlu diperhatikan jam media briefing. Catatan saja yah, jangan pernah melakukan kegiatan dengan media di pagi hari jika isumu tidak kuat dan narsummu bukan menteri, artis terkenal atau presiden. Lebih aman adakan kegiatan dengan diawali makan siang bersama.

Yang saya suka dari tim saya ini meski tampaknya serba mepet, kami jalani dengan santai, dan selalu ada canda. Sebenarnya mungkin lebih pada pasrah. Terpenting segalanya sudah dipersiapkan dan direncanakan. Jika nanti hasilnya kurang memuaskan yah, jadi pembelajaran aja.  Kami berpisah ke tempat lainnya, dua orang menuju Lombok Timur untuk melihat persiapan Field Visit di hari ketiga acara, sementara saya dan kawan saya Meinar, yang akan ditugaskan mengawal media selama kegiatan ini di Lombok langsung menuju tempat kegiatan. Meski sederhana saya tetap pastikan mike, makanan, bentuknya dan sebagainya yang detil.

Saat acara, ada sekitar 15 media dari 20 jurnalist yang diundang hadir. Saya selalu senang berhubungan dengan media-media di daerah. Melihat kebiasaan dan karakter-karakternya. Di Lombok, saya menemukan kejutan yg menarik dalam media  briefing untuk kegiatan ICCA’s (Indigenous People’s Community Conserved and Territories) South East Asia Knowledge Sharing and Capacity Building event, yang saya fasilitasi. Ajang itu telah menjafi ajang dialog dan diskusi menarik. Karena kawan-kawan media tidak hanya mendengarkan dan melakukan pertanyaan  yang tidak normatif tapi juga terlibat diskusi juga berbagi informasi. Saya pun bangga, ketika mengetahui bahwa kawan-kawan media yang saya undang dan hadir memang pada dasarnya punya kepedulian tinggi terhadap berbagai kasus lingkungan dan mereka siap digunakan untuk berpihak kepada komunitas ICCA. Tapi sayangnya, idialisme mereka tertindas kepentingam penguasa dan pemegang modal besar negeri ini. Wassalam…

Nanti lebih jauh berbicara tentang media-media di daerah saya bahas pada tulisan lainnya. Seneng banget semua kegiatan ini bisa berjalan dengan baik.

#Catatanperjalanan #catatanmediaadvokasi

View on Path

Advertisements
Categories: CATATAN HARIAN, CATATAN PERJALANAN | Tags: , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: