Temenggung Tarib dan KeIslamannya

Temenggung Tarib (2005)Temenggung Tarib (2005)Di rumah keluarga bersama anak (2004)Nongkrong bareng (2004)Temenggung Tarik Aka Zailani (2013)dengan anak-anak air hitam (2005)

Temenggung Tarib adalah pemimpin Orang Rimba,Sungai Pakuaji,
Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi.

Tarib dalam bahasa rimba artinya Bijaksana. Di saat kebanyakan Orang Rimba menyerah dengan kondisi dan keadaan yang menghimpit di tengah perubahan disekelilingnya,  Temenggung Tarib memilih tetap menjaga kearifan lokal Orang Rimba.

Dialah yang merintis dan membuat hompongan (semacam pagar hijau berupa kebun karet sebagai batas hutan (kehidupan) Orang Rimba dengan orang luar). Memberlakukan sanksi adat Orang Rimba bagi yang melanggar dan dia sangat keras ketika fungsi hutan (tempat tinggal Orang Rimba) sekelilingnya terancam perkebunan sawit bahkan illegal logging. Berkat beliaulah, kini keberadaan Orang Rimba dan kehidupannya dipahami oleh masyarakat sekitarnya yang selama ini melecehkannya dengan sebutan-sebutan menyakitkan, seperti kotor, kafir, barbar dan sebagainya.  Kelompok yang dipimpinnya ini pula kemudian menerima pendidikan alternatif yang ditawarkan oleh KKI Warsi, sebuah LSM yang bergerak dalam pemberdayaan indigenous people dan konservasi. Berkat kegigihannya dalam menjaga hutan Bukit 12, di tahun 2006 dia menerima penghargaan Kalpataru dari Pemerintah Indonesia.

”Ado rimba ado bunga, ado bunga ado dewo. Hopi ado rimba hopi ado bunga, hopi ado bunga hopi ado dewo”(Ada rimba ada bunga, ada bunga ada dewa, tidak ada rimba tidak ada bunga, tidak ada bunga tidak ada dewa)

Temenggung Tarib juga dikenal orang sekitar sebagai The Medicine Man. Dia memelihara sejumlah tanaman obat dari hutan yang dirawat dan dilestarikannya. Jika ada orang yang sakit keras, hingga sekarang, dia akan meramu obat dari tanaman-tanaman di hutan. Karena itu hutan baginya penting, Selain itu dari pohon-pohon dihutanlah anak-anak rimba ditandakan.

Pertama kali bertemu beliau di tahun 2004. Dia sempat menunjukkan sikap waspada dan tidak suka dengan keberadaan saya. Karena saya memakai jilbab, dan jelas dipahaminya sebagai Orang Islam. Ketika beberapa hari saya tinggal di area keluarganya di dalam hutan Bukit 12, Air Hitam, Jambi, dia baru sadar. Saya bukan Orang Islam seperti di prasangkanya selama ini.

Dia akhirnya berkata, “Ibu Pay, saya pikir seperti Orang Islam di dusun. Mereka suka menyebut kami kafir. Mereka juga suka merusak hutan kami. Mereka juga ingin mengIslamkan kami. Orang Islam itu suka merusak. Suka sekali memotongi pohon dan menipu Orang Rimba. Saya pikir ibu Pay mau mengajarkan Islam ke anak-anak kami. Makanya saya sempat khawatir. Ternyata ibu Pay Orang Islam yang baik. Betino baik,” katanya.

Sempat tertegun mendengar penjelasannya. Saya tidak menyangka Islam dalam pandangannya begitu buruk. Orang-orang dusun telah menunjukkan perilaku akhlak yang jauh dari islami kepada Orang Rimba. Saya bisa memahami jika Temenggung Tarib mengalami “traumatis” dengan sikap-sikap Orang Dusun sekitar Bukit 12 terhadap Orang Rimba. Syukurlah kemudian, kami jadi kawan yang baik.

Hampir 10 tahun tidak jumpa lalu kami dipertemukan lagi di tahun 2013. Tepatnya saya menemuinya ketika mendengar  dia ada di Jakarta untuk menghadiri di salah satu acara AMAN. Dia jelas sosok yang berbeda sekarang. Sangat berbeda.

Dia halus lembut perkataannya, dan masih menunjukkan sikap rendah hati.  Lalu dia menjelaskan sudah dua tahun ini memeluk agama Islam. Saya kaget juga mendengarnya. Saya curiga apakah beliau akhirnya dipaksa atau “diarahkan” menjadi Islam oleh pemimpin desa setempat, seperti yang terjadi pada beberapa Orang Rimba lainnya. Dia menandaskan dengan tegas, tidak ada satu pun yang menyuruhnya menjadi muslim. Menjadi Muslim dilakukan karena kesadaran diri sepenuhnya.

“Suatu hari awak mimpi seraaam. Awak dibakar oleh api. Panasss rasanya, sampai terasa. Ada malaikat besar meminta saya untuk mengubah hidup saya. Menjadi muslim. Saat bangun saya masih merasakan panas api itu. Saya ceritakan kepada mamak (istrinya). Lalu kami pergi ke Mesjid di Sarolangun untuk minta diIslamkan,” jelasnya.

Pilihannya menjadi Islam memberi kehebohan sendiri bagi delapan anaknya. Tapi Tarib mengatakan tidak akan ada yang berubah dari dirinya. Dia menandaskan, dia tetap Orang Rimba hanya telah menjadi Islam. Dia juga tidak memaksa ke delapan anaknya masuk Islam. “Tidak boleh memaksa orang. Harus dengan kesadarannya sendiri,” demikian katanya.

Saya ingat benar tentang komitmen Temenggung Tarib atas sikap dan konsistensinya dengan ucapan. Contohnya soal kebiasaan merokoknya. Seperti halnya Orang Rimba lainnya, Temenggung Tarib juga termasuk perokok berat. Rokoknya adalah kretek hitam. Kita selalu melihatnya dengan rokok. Suatu hari dia memutuskan untuk berhenti merokok. Karena dia merasa belakangan kondisi tubuhnya melemah dan batuk berkepanjangan. Dia tahu itu disebabkan oleh rokoknya, maka dia pun memutuskan dengan tegas berhentu merokok.

“Yah, berhenti, berhenti. Saya tidak menyentuh rokok lagi. Semua harus diniatkan dengan sungguh,” demikian kurang lebih artinya, ketika dia menjelaskan dalam bahasa Rimba kepada saya dan kawan-kawan guru rimba KKI Warsi yang waktu itu mengunjunginya.

Dia pun keluar dari hutan dan mendusun. Namun Orang Rimba memintanya tetap menjadi Temenggung Orang Hitam. Tidak ada yang bisa menggantikan ketaribannya. KeIslamannya tidak mengubahnya menjadi orang Islam dusun seperti yang dipahaminya dulu. KeIslamannya semakin mengukuhkannya menjadi Orang Rimba sejati yang bijaksana. (Musfarayani)

Advertisements
Categories: FOTO PERJALANAN | Tags: , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: