Female Food Hero Marunda 1 : Habibah, Wajah Istri Nelayan Marunda Kepu

“Hari ini beberapa serok saya rusak karena terhantam ombak, jadi tidak bisa mengambil ikan di sana. Ombak terlalu keras. Seperti ini selalu musim angin barat. Padahal ini sudah bulan Maret. Biasanya angin barat selesai bulan Desember (dari November), tapi sekarang tidak bisa dikira lagi,” demikian jelas Habibah, 50, salah seorang perempuan asli Marunda, yang kini menjadi warga Marunda Kepu, Kecamatan Cilincing, Kelurahan Marunda Baru, Jakarta Utara.

Habibah dan suaminya, Ghobang, 51, seperti nelayan tersisa di Marunda pada umumnya tidak punya kesibukan yang padat di musim angin barat. Karena itu dia selalu punya waktu istirahat dan juga memasak buat keluarganya. Angin Barat dikenal kalangan nelayan adalah sebagai musim ombak di laut tengah tinggi-tingginya. Musim berbahaya bagi nelayan untuk mencari ikan di laut. Biasanya terjadi pada musim September-Desember. Namun hingga tulisan ini diturunkan pada bulan Maret 2013, Angin Barat masih dirasakan oleh nelayan. Termasuk para nelayan di Marunda.

Jika musim barat seperti ini, para istri nelayan di Marunda, termasuk Habibah, memulai kegiatan bekerjanya justru setelah maghrib. Dia akan berangkat ke Muara Tawar dan menjadi pengepul untuk kerang kacho (kerang pipih yang “berkaki”). Dari kacho in dia bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp 70.000 – 80.000/malam. Habibah biasa mengambil kacho bersama anak-anaknya di Muara Tawar.

Dulu sekali, sebelum menjadi pengepul, dia dan anak-anaknya sendiri turun ke laut. Meraup kacho, dan tangan-tangan mereka pun selalu terluka karena gesekan kulit kerang yang tajam. Ketika “panen” kacho, dia mengambil sedikit kacho untuk dikonsumsi keluarganya di rumah.  Biasanya dari hasil mengumpulkan kacho dari nelayan dia mendapatkan 1 kwintal kacho yang dijualnya di pasar Cilincing tiap pukul 04.00 – 07.00 pagi.

Kini tiga dari lima anak dewasanya telah menikah, jadi dia hanya mengerjakannya bersama suaminya, Ghobang, 51. Habibah dan Ghobang juga punya usaha serok (tancap/perangkap ikan) yang biasanya menjadi andalan mereka jika musim Angin Barat seperti ini. Namun naas, musim barat ini serok juga cepat rusak terhantam ombak.

“Kadang hilang bukan karena ombak, melainkan dicuri orang,” tambah suaminya, Ghobang.

Selain kacho, dia juga mendapatkan penghasilan dari mengepul ikan bandeng yang dijual berkisar Rp 17.000 – Rp20.000/Kg. Selalu ada yang membeli ikan di tiap harinya. Seorang pemilik tambak ikan bandeng mempercayakan Habibah mengelola tambak ikan dan menjualnya. Pengalamannya menjadi pengepul ikan, membuat Habibah kini semakin jeli dalam mengidentifikasi pelanggan yang benar-benar ingin membeli ikan, atau hanya ingin menipunya, seolah punya uang untuk membeli ikannya dalam jumlah banyak.

“Waktu awal-awal menjadi pengepul ikan untuk sebuah usaha ikan milik orang, saya sempat ditipu pembeli. Tapi saya kemudian belajar, dan tahu selahnya,” jelas Habibah,

Seperti nelayan di Marunda pada umumnya, jika musim Angin Barat mereka juga menambah penghasilan dengan mencari cilong (memulung bekas sampah plastik di muara, seperti gelas/botol air kemasan, bekas mainan) yang biasa menumpuk di muara sungai ujung Marunda Baru. Cilong sebenarnya singkatan panci bolong. Dulu nelayan sering menemukannya diantara onggokan sampah di muara laut. Namun karena kini sampahnya tidak sebatas panci bolong, maka semua sampah padat disebut sebagai cilong.  Mencari cilong menjadi kerjaan umum yang dilakukan para perempuan Marunda dan juga laki-laki nelayan yang tengah tidak melaut. Satu kg bisa dihargai sebesar Rp 2.000. Biasanya mereka memulung cilong di muara dari pukul 12.00 – 16.00 WIB, saat air laut sudah surut.

Jika musim Angin Barat seperti sekarang pasangan nelayan (suami – istri) akan mencari remis (kerang). Nelayan setempat menyebutnya ontay. Mencarinya di saat laut surut dari pantai Marunda yang hitam. Biasanya Jam satu siang mereka menggali pasir lalu mencabut ontay berwarna hijau keabuan di sela-sela pasir padat basah yang mereka gali. 1 ember ontay bisa dihargai Rp 10,000,-.

Habibah dan anak tertuanya, Farida, 28, juga meluangkan waktu siangnya dengan memulung cilong dan mengambil ontay. Bila lagi “rajin” , Farida, misalnya, bisa mendapatkan empat karung cilong. Tapi jika sekedarnya hanya mendapatkan 2 kg. Sementara jika mencari ontay dilakukan dari jam satu siang hingga senja, Habibah dan Farida akan mendapatkan dua setengah ember ontay.

“Jika angin timur tiba kegiatan saya lebih padat. Dari pagi hingga pagi lagi. Karena memang musim ini jauh lebih ramah mendapatkan ikan. Meski hasil ikan tidak begitu banyak seperti puluhan tahun lalu,” jelas Habibah.

Kegiatannya pada musim angin timur dimulai usai sholat Shubuh. Dia mengepul ikan dari nelayan dan menjualnya. Jika beruntung dia bisa mendapatkan lebih dari 10 Kwintal aneka macam ikan dari kembung, tongkol dan bandeng dari tambak.

“Dulu sayalah yang berjualan ikan keliling dari rumah ke rumah. Karena tidak punya gerobak atau pikulan. Jadi ikan saya sangkutkan di sekeliling pinggang saya dan dua tas yang saya tenteng. Tapi sekarang Alhamdulillah saya sudah jadi pengepul ikan. Jadi saya dan suami tidak perlu lagi mencari ikan. Kadang kami mendapatkan titipan ikan juga untuk dijual,” jelas Habibah yang hanya lulus kelas V SD ini.

Siangnya di musim Angin Timur, Habibah pun menjadi buruh kupas kerang yang dibayar Rp 1.500/Kg oleh pengepul. Biasanya dia hanya berhasil mengupas sebanyak 4-7 kg saja. Banyak para perempuan istri nelayan melakukan pekerjaan sampingan ini. Sore harinya bersama suaminya dia bisa melihat hasil tangkapan dari serok. Jika mujur ada rajungan dan aneka jenis ikan.  Malam harinya, Habibah akan membuat terasi dari udang rebon yang dibeli suaminya. Angin timur dianggapnya selalu membawa rejeki yang baik baginya dan keluarganya..

Habibah dikenal oleh warga setempat sebagai pembuat terasi yang ulung. Dulu, saat hasil udang rebon berlimpah, sangat mudah bagi Habibah membuat terasi dalam jumlah yang banyak, sehingga bisa memberikan penghasilan yang baik bagi keluarganya. Hal itu berlangsung di tahun 80-an hingga awal tahun 2000-an. Bukan hanya rebon tetapi juga hasil laut lainnya, terutama saat hutan mangrove di sekitar Marunda masih lebat. Tetapi sekarang dia hanya membuat terasi rebon seadanya saja.

Habibah adalah gambaran perempuan istri nelayan tersisa yang ada di Marunda. Mereka menghabiskan waktu bekerja untuk mengurus rumah dan menambah penghasilan keluarga lebih banyak dari suaminya. Harian Tempo mengutip Studi Kiara, perempuan yang tinggal di pesisir utara Jakarta melakukan pekerjaan tak kurang dari 17 jam setiap harinya. Studi Kiara juga mengungkapkan 48 persen pendapatan keluarga nelayan dihasilkan dari aktifitas ekonomi perempuan nelayan. Mulai mengupas kerang, mencari cilong, menjual ikan hingga menjual terasi.

Tidak ada keluhan bagi Habibah ketika melakukan semua pekerjaan tersebut. Dia sudah terbiasa hidup dalam keluarga nelayan yang harus bekerja keras. Meski dulu kondisi Marunda masih alami dan dipenuhi hutan mangrove dan mencari ikan tidaklah susah bagi nelayan, namun di antara keluarga nelayan lainnya, keluarga Habibah termasuk nelayan miskin. Ayahnya tidak punya perahu sehingga penghasilan yang diperolehnya pun sedikit.  Habibah pun akhirnya tidak pernah lulus Sekolah Dasar, karena sekolah sangat mahal bagi keluarganya. Ketika akan ke sekolah pun menjadi beban, dia harus berjalan jauh sehingga sering terlambat masuk sekolah, karena orang tuanya tidak sanggup memberinya ongkos transport.

Sayangnya kondisi yang dialami Habibah kecil, kini juga dialami anak-anak Habibah sendiri. Pendidikan kelima anak Habibah paling tinggi adalah kelas enam SD. Beberapa diantaranya bahkan berhenti sebelum kelas enam SD. Kondisi yang dialami Habibah juga banyak dialami keluarga nelayan Marunda pada umumnya. Banyak anak nelayan di wilayah di sini terancam putus sekolah. Namun  Farida, 28, anak pertama Habibah menerimanya dengan ikhlas. Karena memang kondisi orang tuanya tidak bisa diandalkan. Farida juga dinikahkan cepat oleh orang tuanya, pada usia 15 tahun, seperti Habibah dinikahkan pada usia 17 tahun oleh orang tuanya.

“Saya marah dan sering kabur. Tapi selalu kembali ke rumah, bagaimana pun mamak adalah ibu saya. Kini saya sudah menerima dengan ikhlas, dan berjanji saya tidak akan melakukannya kepada anak-anak. Saya tidak mau mereka seperti saya. Saya ingin mereka bisa sekolah lebih tinggi. Saya dan suami akan membuat yang terbaik bagi pendidikan anak kami. Apa pun saya lakukan asal halal, “ ujar Farida yang kini juga aktif bersama ibunya, di Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI).

Farida juga mengingat masa sekolahnya yang tidak begitu membahagiakan. Dia sering telat ke sekolah karena harus berjalan kaki hingga memakan waktu setengah sampai satu jam dari rumahnya. Seragam sekolahnya juga selalu kumal, karena air untuk mencuci pakaian di wilayah Marunda juga tidak bagus. Jika mereka harus mennyetrika pakaian, maka harus beli arang terlebih dulu dan kadang tidak terbeli. Hal ini membuatnya rendah diri dan sering jadi bahan ejekan teman-teman di sekolahnya. Jika mengingat masa itu dia sangat sedih, dan tidak berharap anaknya mendapatkan nasib serupa dengannya.

Mimpi Koperasi dan Terasi

Habibah dan suaminya saling bahu membahu dalam bekerja baik mencari ikan, mengupas kerang dan mengepul ikan. Tiga tahun lalu, Habibah harus menjadi tulang punggung keluarga, karena suaminya sempat mengalami  lumpuh. Itu terjadi karena kecelakaan lalu lintas saat pulang dari pasar. Habibah hanya luka ringan, suaminya lumpuh. Perlu waktu delapan bulan untuk memulihkannya kembali seperti sekarang.

Ada kalanya Habibah mengalami rasa letih tentang kehidupan seperti yang dialaminya sejauh ini. Harus ada jalan keluar untuk meningkatkan perekonomian keluarga yang baik. Dia sedih tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga selesai. Sekarang ini masih ada anak bungsunya yang masih duduk di Sekolah Dasar. Dia ingin anak terakhir ini bisa sekolah tuntas. Kakak si bungsu, Faisal, bahkan telah berhenti sekolah karena masalah biaya.

Ketika sekelompok aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta dan Kiara datang ke perkampungan mereka. Dia tidak paham sepenuhnya, tapi begitu mendengar bahwa  Walhi dan Kiara tengah memperjuangkan wilayah pesisir Marunda, hatinya tergerak.

“Dari mereka saya baru sadar, kita tidak bisa begini terus.  Mengalah, tergusur, miskin. Makanya jika mereka ajak demo, ketemu sama bapak-bapak menteri atau ke Komnas Ham, saya dan anak saya Farida, selalu ikut. Karena ini penting buat kita” ujarnya. “Saya ingin mereka bantu nelayan. Saya sendiri  lagi membentuk kelompok perempuan nelayan yang diberinama  Mekar Baru. Anggotanya baru 20 orang. Kami baru saja memulai. Dari kelompok ini saya akan membentuk koperasi simpan pinjam,” tambahnya.

Seperti kehidupan nelayan pada umumnya, Habibah dan orang Marunda Kepu, jika krisis pasti datang ke tengkulak. Bank keliling. Banyak nelayan terjerat yang uangnya habis hanya untuk bayar hutang saja. Dia berharap kelak jika koperasi simpan pinjamnya jalan, maka nelayan bisa mandiri. Ide membentuk kelompok dan koperasi tersebut diperolehnya dari pelatihan koperasi simpan pinjam yang didukung penuh oleh  Kiara beberapa waktu lalu.

“Sejauh ini saya sudah mengajak ibu-ibu untuk ikutan. Banyak yang mau. Tetap berharap pemerintah dari perikanan bisa bantu juga.  Saya sendiri tidak tahu harus mulainya dimana. Tapi ada mimpi saya nanti punya pabrik terasi dan balai pengobatan gratis yang bisa kita kelola bersama.” tandasnya.

Musfarayani/Oxfam

Tulisan ini telah dijadikan bahan media untuk Female Food Hero, Program Grow Oxfam, pada 8 Maret 2013, dan menghasilkan publikasi media sbb :

1. The Jakarta Post :   Habibah: Inspiring Fisherwoman from Marunda,   http://www.thejakartapost.com/news/2013/03/15/habibah-inspiring-fisherwoman-marunda.html (Nani Afrida).

2.  Lensa Indonesia : Tujuh Wanita Pejuang Pangan Berbagai Cerita di Hari Perempuan Sedunia, http://www.lensaindonesia.com/2013/03/09/tujuh-wanita-pejuang-pangan-berbagi-cerita-di-hari-perempuan-sedunia.html, Mohammad Ridwan.

3.  Viva.co.id : Nelayan Serukan Penghentian Reklamasi Pantai Marunda, http://metro.news.viva.co.id/news/read/396232-nelayan-serukan-penghentian-reklamasi-pantai-marunda

Advertisements
Categories: ARTIKELKU, PROFIL ZERO To HERO | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: