Catper Simelue 2011 – Erliana Perempuan Nelayan Di Sudut Pulau Simelue, Aceh

Ariani, demikian nama nelayan perempuan ini. Dia tengah bersiap mencari ikan di laut, sendirian. (Foto: Ashoon-Simelue, Aceh)

Ariani, demikian nama nelayan perempuan ini. Dia tengah bersiap mencari ikan di laut, sendirian. (Foto: Ashoon-Simelue, Aceh)

Sore itu matahari masih terik di dermaga kecil di desa Sambang, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Kepulauan Simelue, Aceh.  Dermaga ini  terletak 20 km dari pusat kota Simelue, Sinabang. Di ujung jalan dermaga, turun dari motor seseorang yang mengenakan  celana jeans biru sebetis yang telah pudar warnanya. Dia juga mengenakan kaos hitam berbalut  jaket kulit hitam yang bahan bagian luarnya telah mengelupas semua. Jaket itu terlihat kebesaran untuk tubuhnya yang kurus dan kecil. Kepalanya diikat dengan handuk lusuh menutupi rambut panjang hitamnya. Cahaya matahari mengiringinya ketika dia berjalan. Saya terpana melihatnya. Kendati dia memakai sandal jepit  dan membawa bensin dalam botol Coca Cola seliter, dia  tampak seperti ksatria dari dunia persilatan  entah berantah, apalagi dia juga membawa parang panjang.

Inikah ibu Erliana yang tadi siang saya wawancara? Siang sebelumnya, saya melihatnya sebagai sosok perempuan anggun dibalut jilbab dan pakaian kurung yang sangat sederhana. Dia berbicara dengan kerendahan hati dan suara begitu lembut. Kulitnya cokelat terbakar matahari yang menurut saya justru membuatnya terlihat eksotis. Matanya memancarkan semangat berpadu dengan kefeminiman seorang ibu.

Rasanya saya tidak percaya melihat transformasi perempuan ini. Yah, dia Ibu Erliana, 41, yang tengah akan bersiap melaut sendirian, sejauh 2 mil dari dermaga tersebut. Dia sudah mengubah “seragam”nya dari seorang perempuan, ibu rumah tangga – menjadi sosok “nelayan” yang siap melaut. Dia adalah perempuan nelayan satu-satunya di desa tersebut, yang membawa perahu ke laut, menjaring ikannya dari pagi hingga dini hari, sendirian.

Ariani, perempuan nelayan yang sempat saya temui di Sinabang, dengan pakaian kehariannya sebagai ibu rumah tangga (Foto : Ashoon-Simelue)

Ariani, perempuan nelayan yang sempat saya temui di Sinabang, dengan pakaian kehariannya sebagai ibu rumah tangga (Foto : Ashoon-Simelue)

Saya menyambut kedatangannya dengan kekaguman tanpa bisa saya tutupi lagi. “Ibuuu, terimakasih mau ditemui. Saya tadi tidak menyangka ini ibu, Ibu terlihat keren banget buat saya…” Begitu saja kalimat spontan yang norak dan konyol itu keluar dari  mulut saya. Spontan juga saya mendekati dan menyalaminya dengan hangat.

“Ah, biasa saja…,” katanya malu (mungkin risih melihat kelakuan norak saya). Dia semakin malu, ketika Ashoon -fotografer – kawan perjalanan saya (yang juga sama terpesonanya dengan saya), mulai menjeprat jeprit segala sisi Ibu Erliana.  Hadooh, si Ashoon, bukannya menahan diri, tunggu tenang dulu, baru jeprat jeprit…Aduuh amatir banget siiih.

Saya merasa terhormat dan beruntung bertemu dengan perempuan seperti Ibu Erliana. Karena belum pernah dalam perjalanan panjang saya  ke daerah pesisir di Indonesia  menemukan sosok seperti  ibu Erliana. Saya menemukannya juga secara tidak sengaja, ketika tengah mewawancarai Panglima Laot Sambay,  Tengku Muhammad Nazir, 63. Dia bercerita bahwa istrinya nelayan yang juga membantunya mencari ikan,  Dalam pikiran saya waktu itu, oooh, yah namanya juga istri nelayan, karena suaminya nelayan, dia pasti ngurus ikan-ikan suaminya. Bukan bekerja seperti nelayan, yang membawa kapal sendiri, menjaring ikan di “rimba lautan” seperti halnya para nelayan kita yang kebanyakan laki-laki.

Tapi begitu Pak Nazir menyebut beberapa kali tentang istrinya yang membawa kapal dan menjaring ikan, kening saya berkerut. Wait, wait….Apa maksudnya. Setahu saya itu pasti bukan sekedar menyeret kapal di air dangkal, dan hanya sekedar menjaring dengan serokan kayak di empang, jika kita bicara konteks masyarakat pesisir seperti ini. Saya menanyakan lagi maksud Pak Nazir tersebut.

“Maksud bapak, istri bapak nelayan? Nelayan yang bawa perahu ke lautan, melaut dan menjaring ikan di sana??” tanyaku tegas.

“Iya. istri saya membawa kapal kecilnya sendiri ke laut, melaut, dan menjaring ikan di sana, seperti nelayan pada umumnya,” katanya.

Saat itu saya langsung tertegun mendengar penjelasannya. Menatap Pak Nazir dengan tidak percaya, dan memastikan yang saya dengar adalah benar. Ooooo Maaaak!! Di sebuah kampong kecil, yang jauuuuuh terpencil, di pulau Simelue yang enggak dikenal banyak orang di Indonesia apalagi dunia (kecuali saat bicara tsunami). Dan di tengah dominannya sistem patriakhal wilayah ini, saya mendengar cerita seperti ini.

Setelah tuntas wawancara dengan Pak Nazir soal budi daya ikan krapu yang bentuknya menggelikan bagiku (ikan kok kayak biawak, hiiii ), saya pun dengan antusiasnya langsung menyatakan ingin bertemu dengan istrinya.

Keesokan harinya saya menemui istrinya yang tengah ada di kota Sinabang. Ibu kotanya Simeulue. Kebetulan, dia lagi ada acara mampir ke tempat salah satu keponakannya di sana. Saat itulah saya menemukan sosok dirinya seperti yang saya gambarkan di atas (berjilbab, berbaju kurung), lalu pada sore harinya berubah dengan transformasi yang pada sore itu saya lihat.

Erliana, dulunya hanya ibu rumah tangga biasa, seperti para ibu yang ada di desa Sambang, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Kepulauan Simelue.  Kegiatannya hanya  mengurus suami, dan dua  anaknya, serta pekerjaan rumah seperti mengelola kebun, masak, juga bebenah rumah. Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk bekerja selain menjadi ibu rumah tangga.

Hingga kebutuhan hidup keluarganya semakin meninggi, dan anak-anaknya harus melanjutkan sekolah ke bangku kuliah.  Jika mengandalkan penghasilan dari suaminya yang menjadi nelayan keramba maka tidaklah cukup untuk membiayai kuliah dua anaknya tersebut. Anak mereka,  Cut Fitri Permata Sari, 20, kini berkuliah di Universitas Syiah Kuala, jurusan perikanan. Sementara anaknya yang lain, Jaja Hartono, berkuliah di Purwokerto, jurusan Management. Semua itu membutuhkan biaya yang besar.

Erliana kemudian memutuskan menjadi nelayan, seperti halnya para lelaki yang ada di desanya. Bersama suaminya, dia bahu membahu bekerja keras untuk masa depan anak-anaknya. Awalnya, tentu saja tidak mudah, apalagi langsung  memutuskan  menjadi nelayan yang melaut, menjaring dan membawa kapalnya sendirian. Perlu proses panjang sehingga dia mengambil keputusan tersebut.  Hingga pada suatu malam dia melihat beberapa lelaki yang suka memancing di dekat dermaga, dan mendapatkan penghasilan yang cukup lumayan setiap malamnya.

“Lalu saya mencoba memancing ikan dulu di dermaga. Belum terpikirkan melaut. Saya minta izin suami saya, dan dia mengizinkanya.  Saya juga belajar memancing dari melihat para lelaki yang memancing ikan. Maka saya mulailah ikut memancing. Hasilnya lumayan. Satu malam saya bisa mendapat 20 ikat. Rata-rata satu ikat dihargai Rp 8.000,”jelasnya.

Sejak itu Erliana ketagihan memancing ikan. Dia pun semakin mahir menggunakan alat pancing dan mendapatkan ikan, dan hasil tangkapannya tiap malam semakin baik.  Lalu dia berpikir, jika memancing di tepi dermaga saja hasilnya lumayan apalagi mencari ikan dilautnya langsung, pasti hasilnya jauh lebih baik. Erliana pun mulai “mempelajari” cara para nelayan lelaki tetangganya yang melaut. Termasuk bertanya kepada suaminya, terutama dalam hal  menjaring ikan yang baik dan benar di laut.

“Saya hanya melihat-lihat, belajar sendiri. Lihat bagaimana orang membawa kapal, dan menjaring ikan. Sepertinya saya bisa melakukannya.  Lalu saya membicarakan niat saya untuk melaut kepada suami. Dia jelas keberatan, tapi begitu tahu niat saya agar anak-anak tidak putus kuliah, dia pun mengijinkan. Yah, sudah, yang penting suami mengijinkan saya tidak peduli dengan omongan orang lain. Ini pekerjaan yang baik,” jelasnya.

“Saya tidak pernah berpikir melaut itu memalukan buat saya. Ini saya lakukan demi masa depan anak-anak. Saya tidak gengsi, yang penting anak-anak selesai sekolahnya. Suami saya nelayan, tapi sudah tidak kuat melaut malam lagi. Jadi mengurus keramba. Penghasilan kami disatukan untuk biaya kuliah anak-anak” jelas perempuan yang menamatkan pendidikannya hingga SMP ini.

Demi pendidikan anak-anaknya apa pun dia lakukan. Dia pernah pula bekerja sebagai tukang bersih-bersih kantor, berjualan nasi, dan membuka warung. Tapi semuanya tidak bertahan lama.

Diakuinya,  dia sempat menjadi gunjingan sinis para tetangganya. Karena tidak pernah ada sejarahnya, perempuan itu melaut, menjadi nelayan. Tapi semua itu tidak dipedulikannya. Dia hanya ingin anak-anaknya tidak putus kuliah.

Pada minggu-minggu pertama melaut, sangat tidak mudah baginya. Karena menyeret perahu saja cukup berat  apalagi menjaring ikan. Ada rasa khawatir dan takut. Tapi dia menjalaninya juga. Pada tahap awal ini dia melaut tanpa pengalaman dan pengetahuan sedikit pun. Namun seiring dengan waktu, selama tiga tahun menjadi nelayan, dia pun mulai mahir membaca situasi perubahan cuaca, jalur ikan, dan insting jika ada sesuatu yang tidak beres di sekelilingnya. Semua itu dipelajarinya sambil berjalan.

“Waktu pertama, saya bingung dan takut juga. Tapi saya harus melakukannya. Mengangkat ikan-ikan yang terjala di jaring saja beraaatnyaaa. Sampai punggung dan pinggang sakit semua. Saya juga belum tahu dimana titik-titik ikan kemungkinan berkumpul. Saya tidak pernah tahu pasti, masih belum pengalaman saat itu,”jelasnya.

Setiap melaut dia hanya membekali dirinya dengan parang, makanan ringan seperti snack dan  roti juga air minum seliter. “Malam pertamanya” dalam menjala ikan cukup membuatnya semangat. Karena dia mendapatkan hasil yang cukup bagus. Dia bisa menjual ikan yang didapatkannya lebih dari Rp 1 juta, hasil melaut semalam. Melaut pun kemudian telah menjadi bagian hidupnya. Seiring dengan waktu, dia pun mulai  terlatih dalam melihat dan merasakan arah jalur-jalur ikan tiap kali dia menyebarkan jaring. Dia bisa membaca dan merasakan ikan keluar dan masuk dari “Sarang”nya, dan pergi ke arah-arah tertentu. Dia juga mulai memahami situasi iklim atau badai yang akan datang ke laut. Hanya pada saat cuaca buruk dan badai dia tidak akan melaut. Jika dia tidak melaut maka dia lebih memilih berkebun. Kini, ada tetangganya yang  perempuan juga tertarik melaut. Meski sekali-kali, dia senang ada kawan menemaninya di kapal selama melaut. Tapi lebih sering dia melakukannya sendirian.

Terkadang dia menghadapi hal-hal yang membuatnya ketakutan setengah mati. Misalnya, saat badai datang dan dia masih ada di laut. Biasanya dia tidak akan mengambil resiko dan memilih segera pulang. Termasuk kejadian yang nyaris membuat kapalnya terbalik.

“Saat itu saya ditemani kawan saya itu. Kami tengah menjaring ikan. Tapi tiba-tiba perahu kami agak oleng karena gelombang. Tidak ada badai saat itu.  Cuaca cerah. Kami melihat sekeliling. Rupanya ada ikan besaar, entah ikan apa. Kami sangat ketakutan, dan langsung melarikan perahu kami. Saya bilang ke kawan saya, “Cepat, angkat jangkarnya! Kita harus meninggalkan tempat ini,” cerita  Erliana. Saat dia menjelaskan tentang harus mengangkat jangkar, nada suaranya yang lembut berubah menjadi tegas, dan tandas. Saya yang mendengarnya langsung takjub. Membayangkan dia memberikan perintah ala Jack Sparrow itu. Eh, Jack Sparrow kan, konyol, yah. Tapi nada ibu ini tegas, mungkin tegasnya mirip Jean Luc Picard di film Star Trek…*halaah…makin enggak nyambung    *

Kini Ibu Erliana semakin mahir membaca tanda alam di lautan. Penghasilannya semalam tidak menentu. Kalau lagi apes, dia hanya mendapatkan ikan yang bisa dijual seharga Rp 300.000. Jika lagi beruntung dia bisa mendapatkan 300 kg ikan (Rp 1 juta). Pernah dia mendapatkan penghasilan lebih baik hingga Rp 3 juta dalam semalam jika dia mendapatkan ikan yang mempunyai harga jual tinggi. Ikan yang biasa kena jaringnya adalah tongkol, jenara, atau gembolo. Namun baginya baik sedikit maupun banyak, dia tetap mensyukuri hasil yang diperolehnya.

“Harus sabar, ada dimana saya hanya mendapatkan ikan sedikit saja. Tapi Alhamdulillah, Allah memberi rejeki dengan baik. Tiap malam selalu diberkahi ikan yang baik. Memang hasilnya tidak menentu juga, tapi selalu ada,” jelasnya.

Saat ini dia sangat membutuhkan jaring ikan yang lebih kuat dan lebih baik. Namun harganya terlalu mahal untuk dia jangkau. Tapi di tengah keterbatasannya dia masih tetap semangat untuk tetap melaut.

“Yah selama saya masih kuat saya akan tetap melaut. Harus bagaimana lagi. Anak-anak saya memang sempat sedih. Tapi saya sudah jelaskan ini untuk mereka. Lagipula, kalau saya diam di rumah trus, badan saya malah sakit-sakit. Jadi nelayan sekarang telah menjadi hobi saya,” jelasnya.

Ketika ditanyakan apakah dia juga harus menyelam untuk mendapatkan ikan tripang yang harganya mahal, dia menggeleng keras.

“Aduuh, saya berenang saja tidak bisa, bagaimana saya harus menyelam,” tandasnya.

Saya pun termangu mendengarnya…..Oh Tuhan, semoga engkau senantiasa melindungi perempuan ini, memberkahinya dengan kesehatan, dan memberkahinya dengan rejeki berlimpah. Amiin.

Musfarayani, #CatatanPerjalanan Simelue, 2011

Bangga bisa berfoto bersama dengan perempuan luar biasa ini

Ibu Ariani pamit kepada kami untuk melaut. Sampai jumpa Ibu. Semoga selalu diberkahi kesehatan dan rejeki yang berlimpah. Amiin

Ibu Ariani pamit kepada kami untuk melaut. Sampai jumpa Ibu. Semoga selalu diberkahi kesehatan dan rejeki yang berlimpah. Amiin

Advertisements
Categories: CATATAN PERJALANAN, PROFIL ZERO To HERO | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: