Tulisan 5 PRB Sangihe : Masyarakat Lebih Percaya Peringatan Kuncen

Gunung Awu di Kejauhan dari Desa Kendahe, Sangihe. (Foto: Dokument Musfarayani)

Jika Gunung Merapi, Yogya, selalu dilekatkan dengan sosok kuncen (penjaga gunung) bernama Mbah Marijan, maka Gunung Awu (1320 mdpl), di desa Bahu, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, juga selalu dilekatkan dengan sosok Marjun Samau (almarhum, 2006).


Tapi Marjun bukanlah satu-satunya kuncen untuk Gunung Awu. Masih ada empat kuncen lainnya dari desa berbeda di sekitar kaki Gunung Awu yaitu di desa Beha, Mala (keduanya Kecamatan Tabukan Utara), Talawit (Kendahe), dan Kolongan (Tahuna Barat). Para kuncen ini dianggap mempunyai kemampuan supranatural yang diwariskan secara turun temurun.

“Setiap ada masalah dengan gunung api, mereka ada dan menunjukkan kemampuan terkait. Terutama jika akan meletus. Mereka turun ke kawah, dan masyarakat melihat, lalu dipercayakan tugas-tugas “menjaga” (mengawasi) gunung untuk mereka,” ungkap Lukman Makapuas, tokoh adat dan budayawan Sangihe.

Tentu saja para kuncen ini tidak langsung “ahli” dalam sekejap. Terutama dalam membaca tanda alam ketika Awu akan meletus. Ada proses panjang yang harus dilalui. Biasanya itu dimulai saat mereka masih belia, lalu ayah, paman atau kakak mereka yang juga mempunyai kemampuan menjadi kuncen sering mengajak mereka ke Gunung Awu.

Kuncen Gunung Awu-Hakim : Hanya kuncen yang didengar dan dipercaya masyarakat setempat. (Foto-Musfarayani)

Kuncen Gunung Awu-Hakim : Hanya kuncen yang didengar dan dipercaya masyarakat setempat. (Foto-Musfarayani)

Pengalaman tersebut diingat benar oleh Hakim Rimpulaeng , 50, yang kini dipercaya sebagai kuncen Gunung Awu dari Desa Beha, Kecamatan Tabukan Utara, (5 km Gunung Awu).

“Sejak kecil saya biasa diajak bapak ke gunung Awu. Saya melihat yang dikerjakannya. Saya tidak bisa mengatakan ada begini begitu sehingga saya bisa menjadi kuncen, karena hanya kuncen saja yang tahu (rahasia). Tapi dari bapak dan pengalaman itulah saya semakin memahami tanda-tanda alam Gunung Awu jika akan meletus secara langsung,” jelas Hakim yang juga merupakan Ketua Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) Beha.

Senada diungkapkan Abbas Samaun dan Tertulus Samauan, adik kandung Marjun Samaun. Menurut mereka, kakaknya menjadi kuncen karena ayah mereka mewariskannya. Mereka tidak tahu percis caranya, namun sejak Marjun belia, ayah mereka sering membawa Marjun ke gunung.

Kendati sudah ada petugas Pos Pengawasan Gunung Awu, masyarakat lebih mendengarkan Marjun dan Hakim atau kuncen lainnya di masing-masing desa tersebut. Terutama dalam memastikan mereka perlu mengungsi atau tidak terkait dengan status awas Awu yang dikeluarkan secara resmi pemerintah berdasarkan pengamatan pos pengawas Gunung Awu.

Hal ini bisa dimaklumi karena dalam Protap (Prosedur Tetap), petugas Pos Pengawasan Gunung Awu hanya melaporkan informasi perkembangan Gunung Awu kepada Pemkab (Bupati). Bukan kepada masyarakat. Informasi ini disebarkan melalui proses birokrasi hingga tingkat Kecamatan lalu disebar melalui aparat desa. Karen para kuncen hidup dekat bersama masyarakat, maka masyarakat pun lebih menyukai menanyakan informasi status Gunung Awu kepada Kuncen setiap saat. Mereka mendengarkan dan menuruti apa pun yang menjadi “wejangan” kuncen.

Hal ini terjadi ketika Gunung Awu dinyatakan pemerintah setempat “berstatus Awas” (2004).  Status awas berarti gunung berapi tersebut akan segera, sedang atau keadaan kritis yang siap meletus dan akan menimbulkan kerusakan. Letusan ini berpeluang meletus dalam waktu 24 jam, ditandai dengan letusan pembuka yaitu abu dan asap. Pemerintah setempat di Kabupaten Sangihe telah memerintahkan masyarakat sekitar Gunung Awu segera mengungsi.

Tapi perintah tersebut tidak langsung dijalani oleh tetua adat dan aparat desa terkait (apalagi masyarakat). Dalam situasi tersebut mereka  malah memanggil kuncen guna memastikan jadi atau tidaknya Gunung Awu itu meletus.

Dinihari Hakim dipanggil ke mesjid oleh tetua adat dan elit desa guna memastikan bahayanya bagi masyarakat. Lalu Hakim mengatakan, dia tidak bisa memberikan “analisa”nya jika tidak langsung melihatnya ke puncak. Dia pun menawarkan beberapa orang untuk ikut bersamanya ke puncak. Delapan orang secara sukarela mengikutinya ke puncak di saat Awu dinyatakan awas oleh pemerintah setempat. Hingga di puncak dia sendiri turun ke kawah dan melihat langsung kondisinya. Dia melihat air di dekat kepundan mengering. Sebagai tanda Awu memang akan meletus.

kawah di puncak Gunung Awu - (sumber foto : pengawas vulkanologi Sangihe)

kawah di puncak Gunung Awu – (sumber foto : pengawas vulkanologi Sangihe)

“Hari itu, Gunung sebenarnya sudah melepas tenaga (energi) tapi sedikit saja. Bunyinya seperti ada yang diisap, lalu ada bunyi bum, keluarlah kepundan panas menggelembung di tengah. Saya bahkan menggambar kondisinya dalam sebuah kertas. Kalau muncul seperti itu berarti gunung tidak akan meletus seperti di tahun 1966, jadi tidak berbahaya,” jelasnya.

Ketika dia kembali ke desa, dia menginformasikan temuannya tersebut dan mengatakan bahwa Gunung Awu tidak membahayakan. Karena itu, dia dan keluarganya memilih untuk tidak mengungsi. Tindakan yang sama juga dilakukan Marjun. Namun dia juga tidak menyerukan dan memaksa orang-orang untuk mengikutinya. Tentu saja melihat kuncen dan keluarganya tidak pindah membuat masyarakat juga tidak ikut mengungsi.

Pada 9 Juni, para kuncen dari lima desa tanpa dikomando dan berkomunikasi sebelumnya, bertemu di puncak bersama sejumlah warga lainnya yang ikut secara sukarela. Padahal Gunung Awu sehari sebelumnya baru saja “meletus”. Saat itu para kuncen mengenakan baju koko putih, dan ikat kepala berwarna putih pula. Hakim juga membentangkan kain putih sepanjang empat meter dekat puncak yang menandakan dia berada di sana.
“Kami tidak janjian, ketemu begitu saja di puncak dalam waktu yang sama. Lalu kami turun, berdoa bersama sesuai dengan keyakinan masing-masing, memohon agar tidak ada bencana untuk desa kami. Tapi memang tonjolan lumpur panas yang muncul di tengah kawah itu sebenernya hanya tanda lahir. Meletus besarnya mungkin masih lama,” jelas Hakim.

Fenomena itu, menurut Hakim mirip sekali dengan kejadian yang diceritakan ayahnyadi tahun 1952. Ada sesuatu yang muncul di permukaan kawah saja. Seperti ditemukannya di tahun 2004. Gunung Awu meletus dahsyat di tahun 1966 bukan di tahun 1952.

Terlepas masuk akal atau tidaknya penjelasan Hakim atau para kuncen dengan berbagai caranya dalam menganalisa tanda alam akan meletusnya Gunung Awu, mereka tetap dianggap penting posisinya di tengah masyarakat yang hidup dekat gunung api aktif ini. Warga juga lebih mendengar kuncen untuk urusan Awu.

Karena sikap Hakim  inilah membuat Camat setempat terpaksa harus memanggil dan menegurnya. Bagaimanapun seruan pemerintah tidak bisa diabaikan begitu saja, apalagi status AWAS adalah status merah yang membahayakan keselamatan jiwa.

Mengawasi untuk Menyelamatkan Warga

Naiknya masyarakat bersama kuncen ke puncak Gunung Awu di saat gunung itu dinyatakan bersatus Awas, cukup membuat petugas pengawas Gunung Awu prihatin pada waktu itu. Namun juga tidak mampu mencegahnya.

“Bayangkan,  statusnya sudah awas, tapi alat (seismograf) kami setiap hari menangkap adanya gerakan manusia beraktifitas menuju puncak Gunung Awu. Mungkin masyarakat ingin meyakinkan dirinya bahwa Gunung Awu tidak akan meletus. Tapi sesungguhnya mereka membahayakan dirinya sendiri. Ibu Camat sampai bingung dan menangis menghadapi “kenakalan” warganya sendiri,” jelas Endi T Bina, Kepala Pos Pengamatan Gunung Awu.

Petugas pengawas

Endi T Bina, Kepala Pos Pengamatan Gunung Awu.

Menurutnya, boleh saja mendengarkan kuncen, tetapi juga harus mengedepankan keselamatan diri dan keluargan lebih dulu. Jika pemerintah sudah mengatakan status awas, seharusnya masyarakat terdekat sudah harus dievakuasi.

“Kita tidak bisa bertaruh tetang kondisi alam seperti gunung api meski kita bisa mempelajari tanda-tandanya,” tandas Endi.

Menurutnya, masyarakat memang harus diberi pengetahuan secara terus menerus terkait dengan ancaman dan bahaya gunung berapi. Terutama memastikan agar masyarakat paham ketika pemerintah memberikan pengumuman level status bahaya gunung api. Karena itu pihaknya dengan senang hati memberikan dukungan untuk program PRB, terutama dalam memberikan pengetahuan ilmiah tentang Gunung Awu kepada 14 desa dampingan yang mendapatkan program PRB (Pengurangan Resiko Bencana) ini.

Sementara menurut Sulung Bakari, salah seorang tetua adat Bahu, memadukan pengetahuan kuncen dengan informasi yang dikeluarkan pemerintah melalui pos pengawas Gunung Awu, akan jauh lebih baik bagi kesiapsiagaan masyarakat untuk masa kini.

“Kalau informasinya dipadukan kemudian dikoordinasikan malah sangat baik dalam mempersiapkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bahaya gunung api,” jelas Sulung Bakari.

Masih belum teruji, apakah kelak saat Gunung Awu menunjukkan “Gejala” meletusnya lagi, masyarakat lebih mendengarkan kuncen atau petugas pengawas Gunung Awu?

Musfarayani (catatan perjalanan pendokumentasian proses pengurangan resiko bencana di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Pendokumentasian ini didukung penuh oleh Oxfam Indonesia)

Advertisements
Categories: ARTIKELKU, CATATAN PERJALANAN | Tags: , , , , , , , , | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “Tulisan 5 PRB Sangihe : Masyarakat Lebih Percaya Peringatan Kuncen

  1. Luar Biasa !

  2. ochay zainal tatambihe

    foto dari beha ini bukan dari kendahe

    • Oh, ya? Saya sudah agak lupa. Sudah empat tahun lalu. Tapi seingat saya, selalu mencatat dan menanyakan warga setempat setiap lokasi yang saya kunjungi. Tapi mungkin saja itu Beha. Ok. Terimakasih koreksinya

  3. deky richard ogelang

    beha ni bukan kendahe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: