Caper Simeulue 2009 : Death Note Penyesat Sejati

Di Simeulue, perkembangan berita Cicak vs Buaya juga menjadi perhatian masyarakat setempat. Di warung-warung makan, bahkan kantor-kantor pemerintah setempat yang ada di sana misalnya, mereka melihat acara langsung dengar pendapat Komisi III dengan Kejakgung terkait kriminalisasi KPK, kemarin. Tidak ada komentar yang keluar dari mulut mereka. Tapi mereka semua fokus melihat acara tersebut.

Sambil makan siang, aku mungkin satu-satunya pengunjung yang paling nanar menatap layar TV. Bukan karena aku  sudah lama tidak melihat televisi, tapi, yah gregetan aja dengan kelakuan dan bebalnya Kejakgung kita. Tentu saja aku berusaha keras menahan diri tidak berkomentar. Apalagi, misalnya aku baru lihat Jakgung-nya masih sama dengan Jakgung periode sebelumnya. Itu yang mengagetkanku, dari sekian kasus suap dan korupsi di tubuh Kejakgung pada periode sebelumnya, dan si bapak ini dipilih kembali menjadi Jakgung di kabinet yang baru. Ingin maki-maki Presiden sekarang aja rasanya, tapi takut bonyok di keroyok orang sekampung. Di Simeulue 90% memilih presiden terpilih sekarang.

Tiba-tiba pemilik warung nyeletuk, “Napo, si bapak itu dipilih lagi menjadi Kejakgung. Jelas sekali dia memihaknya kepada siapa,”katanya mendengus sambil menuangkan nasi ke piring.

Aku akhirnya merasa buang waktu juga melihat tontonan ini. Karena kita akhirnya hanya bisa menonton, memaki dan tidak ada apa pun yang bisa dilakukan. Kendati rasa kepedulian ini disebut sebagai selemahnya iman perjuangan.

Ah, mereka semua manusia, tetapi kenapa begitu susahnya melihat sebuah kebenaran. Enggak abis pikir aja kenapa susah melakukan langkah yang benar sesuai dengan hati nuraninya sendiri. Aku hanya jelata, tidak berdaya. Aku hanya bisa melakukan yang terbaik untuk yang bisa aku kerjakan di bidangku. Tapi begitu menyesakkan melihat tontonan belakangan ini.

Hanya sebuah andai, dan sebuah andai. Andai saat ini aku menjadi “Nara” atau mahasiswa Jepang yang bernama Light Yagami yang memegang buku Death Note dalam film Death Note I. Aku tinggal menulis nama seseorang dan kematian bagi orang tersebut di buku death note, maka seiring selesai menulisnya, kematian menjemput si pemilik nama yang kita tulis tanpa kita harus melakukan apa pun.

Buku Death note itu diciptakan dewa kematian bernama Shinigami, yang dimiliki setan kelelawar, Ryuk- si penikmat apel merah.

Ryuk lebih suka menjatuhkan buku itu ke bumi dan berharap ada manusia yang melakukan tugasnya tanpa dia harus melakukannya. Tentu saja dia tidak peduli itu mau dibuat untuk kebaikan atau kejahatan.

Orang yang mendapatkan buku tersebut secara otomatis akan bisa melihat penampakan asli Ryuk. Hanya dia yang bisa melihatnya. Ryuk dengan senang hati akan menjadi sahabat penyesat sejati kita. Dia tidak perlu memaksa, dia hanya cukup memberikan informasi kegunaan buku tersebut. Mungkin aku tidak akan menggunakannya. Seperti halnya Light saat itu. Tapi Cicak vs Buaya dan acara langsung di TV, keberadaan buku itu cukup menggodaku.

Menggodaku untuk melakukan sesuatu. Mengabaikan segala proses untuk mengambil segala hikmah peristiwa terjadi sebagai nilai bagi kehidupan kita yang lebih baik ke depan, karena rasa pesimis dan skeptis yang mendalam

Untungnya itu hanya khayalanku aja. Khayalan sisi gelapku. Tapi sungguh, aku tahu enggak ada kebaikan bisa dijalankan dengan cara yang sama kejinya dengan kejahatan itu sendiri. Karena sekali melakukannya, maka begitu mudah melakukan hal yang sama untuk selanjutnya. Light termasuk yang tidak bisa menahan godaan tersebut. Membunuh narapidana kelas kakap hanya dengan menulis nama di death note memberikan sensasi kepuasan lain. Dia merasa telah melakukan suatu kebaikan bagi orang banyak dan serasa dirinya menjadi pahlawan. Tentu saja hanya Ryuk yang tahu perbuatan tersebut.

Ryuk hanya menjadi teman setia Light ketika gundah kesesatannya muncul. Dia tidak merayu atau membujuk. Dia hanya coba memahami rasa marah Light atas kearoganan ayahnya yang seorang polisi dan kenyataan masih banyaknya kejahatan merajalela dan selalu menang. Tentu saja ada banyak pergulatan bathin ketika seseorang yang dasarnya baik menuju jalan kesesatan untuk sebuah kebaikan (waaah, Darth Vader banget). Light dan Ryuk pun menjadi sahabat. Sahabat kebaikan dan kesesatan yang indah. Kebaikan yang dilakukan Light sebagai pembela keadilan dan kebenaran dengan membunuh sampah masyarakat kelas kakap di Death Note membuatnya merasa telah menjadi Tuhan, yang menentukan mati dan hidupnya seseorang.

Tanpa sadar dia lupa, bahwa kadang orang jahat bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi jika ada yang memberikannya suatu kesempatan untuk menjadi baik. Entah dengan jalan apa. Tapi segala hikmah yang bertebaran di muka bumi akan bisa ditangkap bagi orang-orang yang ingin membuka mata hati nuraninya dengan baik. Dan setiap manusia, bahkan yang jahat sekalipun pasti memiliki nurani kebaikan itu, meski sedikit saja. Itu akan menjadi nilai tertinggi ketika seorang sesat bisa menemukan dengan mudah tebaran hikmah disekelilingnya.

Jika kita punya “kuasa dan kekuatan,” maka manusia memang bisa mengubah dirinya menjadi kekuatan yang baik atau kekuatan yang paling sesat, atau kesesatan dikemas atas nama kebaikan. Manusia bisa melebihi malaikat atau bahkan setan itu sendiri.

Manusia juga bisa berperan jadi Tuhan. Ketika dia menjadi Tuhan, maka tidak akan ada rasa kasih sayang dan pengampunan. Mungkin ini hanya sebuah film. Mungkin juga bukan film bermutu. Tapi menurutku apa yang terjadi pada Light maka bisa terjadi juga dengan kita, tentu saja dengan cerita dan cara berbeda.

Karena nilai kebaikan dengan cara sesat, akhirnya membuat kita akan menyakiti orang-orang yang kita cintai bahkan melukai orang-orang baik sekalipun. Itu yang terjadi dengan si Buaya dalam versi film Cicak vs Buaya di layar kaca kita belakangan ini. Seperti halnya, Light akhirnya harus membunuh kekasihnya dalam sebuah skenario yang ditulisnya di death note untuk secara tidak langsung membunuh salah satu detektif kepolisian yang sudah mencium pelaku pembunuhan sejumlah narapidana kelas kakap.

Ryuk yang tidak tahu cerita yang telah ditulis dalam death note ini merasa simpati apa yang telah dialami Light yang tampak sedih dan terpukul. Namun Ryuk sangat kaget ketika melihat Light malah memberikan senyum kepuasan paling sesat yang dikenalnya dengan baik. Ryuk tidak kuasa menatap kekagumannya pada Light. Ide terbunuhnya pacarnya Light dengan cara seperti itu pun dalam death note bahkan tidak pernah terlintas dalam pikirannya.

“Light…. Kau bahkan melebihi Shinigami itu sendiri”. Kata Ryuk sambil makan apel merah, kriukkk… . Dan Light tidak bisa menghindari kuasa kesesatan yang telah merajainya. Dan Ryuk merasa senang karena ada manusia yang ternyata lebih sesat daripada dirinya sendiri.

Tapi aku tetap tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika aku yang memegang buku death note, saat ini?

Menurutku death note sesungguhnya bisa menuliskan matinya sebuah perbuatan sesat dan jahat. Bukan membunuh orangnya. Skenario itu ada di tangan kita. Kitalah yang menentukan diri kita atau orang lain menjadi sebuah kebaikan atau kesesatan sejati. Jadi, meski masih menjadi manusia biasa yang paling lemah, aku tidak akan memberikan Ryuk atau setan mana pun mendapatkan kemenangan yang mudah. Aku akan berusaha menjadi pemenangnya. Meski lebih sering kalahnya. Damn!

Aku harap para buaya di sana juga bisa mendapatkan segala hikmah yang bertebaran di sekeliling mereka saat ini. Karena suara rakyat adalah suara tuhan.

(Musfarayani)

Advertisements
Categories: CATATAN PERJALANAN, RESENSI FILM | Tags: , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: