Soal Gempa dan Tsunami Belajarlah dari Jepang

Apa yang sama antara Jepang dengan Aceh? Hanya dua kata, yaitu: gempa bumi dan tsunami. Lalu apa yang membedakan Aceh dan Jepang terkait Gempa bumi dan tsunami? Bagi warga Aceh dan Jepang mengalami gempa bumi adalah hal biasa. Namun dalam menghadapi tsunami, bagi orang Aceh (dan Indonesia pada umumnya) sangatlah tidak biasa.

Presiden Sekolah Keperawatan International Palang Merah Kyushu, Jepang, Prof Etsuko Kita, MD, PhD,

Empat tahun lalu adalah contoh nyata, betapa miskin pengetahuan kita, bangsa Indonesia termasuk masyarakat Aceh dalam menghadapi gejala alam bernama gempa bumi yang kemudian disusul dengan gelombang tsunami besar. Bukan saja soal pengetahuan yang kurang, ditambah lagi dengan ketidaksiapan kita dalam menghadapi bencana, juga setelah bencana itu terjadi. Hingga korban jiwa pun tidak bisa diminimalisir maksimal lagi.
“Hal yang sama juga pernah dialami Jepang. Masyarakat kami sudah sering kali dihantam gempa juga tsunami. Tapi belum juga mau “belajar” dan korban jiwa masih saja banyak. Hingga puncaknya yaitu bencana gempa besar datang di Kobe tahun 1995,” jelas Presiden Sekolah Keperawatan International Palang Merah Kyushu, Jepang, Prof Etsuko Kita, MD, PhD, di tengah rehat acara Simposium Keperawatan Bencana, awal Juni ini di Banda Aceh.

“Sejak kejadian itu, kita semua berbenah diri dari segala sektor dan juga semua lapisan masyarakat Jepang untuk peduli dan mempunyai pengetahuan yang dalam tentang masalah gempa bumi dan tsunami ini. Termasuk bagaiman kita bisa hidup berdampingan dengan bencana ini. Urusan ini jelas bukan saja jadi urusan elit, tapi juga semuanya, juga anak-anak TK,”jelasnya dengan serius.

Jepang memang pernah mengalami bencana gempa dahsyat pada suatu pagi, 17 Januari 1995. Gempa berkekuatan 7,2 skala righter ini meluluhlantakkan kota pelabuhan Kobe di selatan Jepang dalam waktu 20 detik. Gempa dahsyat dalam 47 tahun terakhir itu menewaskan hingga 6.433 jiwa, 34.600 orang terluka, dan lebih dari 250.000 rumah rusak. Mengutip BBC, getaran gempa juga dirasakan hingga ke kota Osaka dan Kyoto. Total kerugian akibat gempa Kobe mencapai 100 miliar dolar. Lebih dari 50 ribu orang penduduk Kobe pindah ke kota lain paska terjadinya gempa. Semua infrastruktur penting dan tempat publik hancur.

Kejadian ini langsung menggerakkan semua masyarakat Jepang untuk membantu warga Kobe. Banyak relawan datang membantu para korban, menyusul kemudian dengan cepat bantuan relawan dari organisasi-organisasi kemanusiaan yang tergabung dalam NGO (Non-government organization dan NPO (non-Provit Organization). Warga Kobe sendiri juga tidak hanyut dalam duka, mereka juga bergerak untuk membantu satu dengan lainnya.

“Masyarakat Kobe sadar kalau bencana jangan berharap menunggu bantuan datang. Kita juga harus bisa menolong diri kita sendiri, kemudian bergerak lagi untuk menolong yang lainnya. Tapi tidak mungkin masyarakat Kobe menolong dirinya, dan tidak mungkin juga segala bantuan hanya dilakukan oleh instansi pemerintah. Semua orang harus bergerak. Hari duka itu, kemudian diperingati sebagai Hari Bencana Gempa Jepang,” jelas Etsuko yang juga asal Kobe ini.

Gempa Kobe jelas bukan hanya pelajaran berharga yang mahal bagi Jepang, tapi juga menyadarkan Jepang, bahwa mereka harus siap menghadapi kemungkinan gempa terbesar lainnya termasuk tsunami pada masa berikutnya. Timbulnya solidaritas nasional yang muncul dari bawah yaitu masyarakat Jepang dan Kobe sendiri, justru mempercepat pemulihan Kobe. Kini secara berkesinambungan tiap komunitas masyarakat baik orang tua, pemuda, remaja, anak-anak sudah membentuk tim siaga bencana sendiri hingga tingkat RT-nya Jepang, baik di tingkat desa maupun kota.

“Kesadaran untuk membentuk komunitas siaga bencana ini justru muncul karena inisiasi dari bawah, yaitu masyarakat Jepang itu sendiri. Lalu didukung penuh oleh pemerintah Jepang yang mulai total membenahi segala peraturan dan rancangan tata kotanya berwawasan lingkungan juga siaga bencana gempa serta tsunami,” jelas Etsuko.

Sekolah-sekolah, semua bangunan terutama fasilitas publik, rumah tempat tinggal dirancang tahan gempa dan ramah lingkungan. Sebagai contohnya adalah kota tua padat penduduk Mikura (masih wilayah Kobe) yang luluh lantak karena gempa 1995 tersebut. Dalam catatan Departemen Sosial berjudul Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat (2007) diceritakan bahwa jauh sebelum gempa Kobe, Mikura merupakan wilayah kumuh, padat penduduk dimana rumah-rumah di sana dijadikan warung atau toko. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai pekerja pabrik, restoran dan pramuniaga serta pekerja bangunan. Dalam tata pergaulan sehari-hari sebagaimana layaknya penduduk kota besar di Jepang, mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Oleh karena itu, cenderung kurang peduli terhadap lingkungannya.

Sehingga tidak heran ketika gempa bumi itu terjadi, kawasan ini mengalami bencana lanjutan yaitu kebakaran besar yang melalap habis semua area tersebut. Mikura kemudian kemudian ditata ulang kembali dan dirancang dengan konsep berbasis ramah lingkungan dan tahan gempa. Kini, Mikura dikenal menjadi perkotaan yang berwawasan lingkungan tahan gempa. Rumah-rumah penduduk yang sebelumnya memenuhi areal pemukiman, tidak ada lagi karena mereka lebih senang hidup di rumah susun (flat). Lorong-lorong yang dahulunya sempit, sekarang berubah menjadi jalan lebar, sehingga memudahkan kendaraan besar termasuk mobil-mobil pemadam kebakaran masuk area itu.
Kali dan sungai yang membentang di areal pemukiman menjadi bagian dari taman kota yang jernih airnya. Pepohonan rindang dan tanaman hias yang terawat kini menjadi taman dan hutan kecilnya Mikura. Begitu pun warung/toko dan jenis tempat usaha lain yang sebelumnya menyatu dengan areal pemukiman, setelah dilakukan rekonstruksi dan pembenahan paska gempa kini tidak tampak lagi karena telah direlokasi ke tempat-tempat lain yang menjadi pusat perniagaan.

Pemerintah Jepang juga giat mendukung penelitian dan riset tentang gempa bumi-tsunami serta penanggulangannya. Sosialisasi tentang pengenalan bencana gempa-tsunami dan bagaimana menghadapinya dilakukan tidak sebatas orang dewasa di segala lapisan tetapi juga anak-anak TK dan Balita, serta dijadikan kurikulum wajib di tiap sekolah.

Kenyataan itu ditemukan oleh Sri Suprapti, SKP, salah seorang pengurus Himpunan Perawat Gawat dan Bencana Indonesia, ketika beberapa tahun lalu melakukan studi di Osaka, Jepang.

“Tanya kepada anak-anak TK di sana tentang apa itu gempa, apa itu tsunami, mereka tahu semua. Secara rutin mereka melakukan simulasi menghadapi gempa, sehingga kalau ditanya, apa yang kamu lakukan kalau gempa tsunami datang, mereka sudah tahu apa saja yang harus dilakukan. Karena pelajaran menghadapi bencana telah menjadi kurikulum wajib anak-anak TK sana. Bahkan gedung-gedung sekolahnya juga dirancang tahan gempa atau meminimalisir kerusakan dan korban jiwa. Beberapa sekolah, pada bagian kursi bawahnya juga dilengkapi alat yang bisa melindungi mereka jika gempa datang,” jelas Sri dalam wawancara terpisah di tempat yang sama.

Etsuko juga menambahkan dalam proses panjang, semua kesiap siagaan akan bencana juga telah dibentuk di segala komunitas di setiap daerah Jepang. Sehingga penanganan bencana benar-benar dilakukan masyarakat lokal langsung. Bagi warga Jepang, gempa dan tsunami bukan hal menakutkan lagi. Karena kini mereka bisa hidup berdampingan dengan segala bencana alam yang “mampir” ke Jepang.

“Belasan tahun berlalu, dan kami ingin menularkan pengalaman kami ini kepada masyarakat Aceh juga Indonesia umumnya. Kalau Jepang bisa, Indonesia juga pasti bisa,” tandas perempuan kelahiran 18 Agustus 1939 ini. (Musfarayani)

Advertisements
Categories: ARTIKELKU, CATATAN PERJALANAN, PROFIL ZERO To HERO | Tags: , , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: