Caper Kalteng 4 : Welcome to Hell!

“Bagantung, bagantung, kebakaran menghebat terjadi lagi di sekitar Mawas…” demikian suara di radio, dari Kamp Mentangai, Kapuas, Kalimantan Tengah. Aku yang lagi asik ngobrol dengan Anas (namanya sih Anders Kernel tapi kawan-kawan di sini memanggilnya dengan lidah Indonesia, jadi  Anas) dan Mate, dua temanku dari CIDA Denmark ini, langsung memasang kuping.

“What’s going on, fay?” tanya Anas. Aku hanya menggeleng, sambil tertegun, Aku kemudian permisi dan ikut mendengarkan berita dari radio komunikasi antar kamp bersama kawan-kawan yang lain. Di sana ada Pak Soengkono yang tengah memastikan lokasi kebakaran. Aku menuju ruangan radio dimana Pak Soengkono tengah melakukan monitor di radio. Pak Soengkono itu adalah Koordinator Pemadam Kebakaran Hutan, dari masyarakat Mentangai, Sebelumnya aku dengar adanya kebakaran hutan gambut saat makan pagi di kamp, dan itu sudah menghanguskan dua rumah penduduk.

“Kebakaran lagi, Pak? Dimana? Parah banget?” tanyaku ikut cemas.

Pak Soengkono mengangguk. Setelah selesai memberikan instruksi dengan suara di ujung radio, Pak Soengkono menatapku sambil tersenyum.

”Kalau mau ikut kita harus berangkat sore ini. Jadi kita enggak bisa ikut acara terakhirnya Menyanggar. Bagaimana, siap? Tapi kamu berangkatnya dengan Etherfird. Saya harus berangkat sekarang. Kamu naik kelotok, ultralight dipakai Pak Pandu untuk pulang ke Palangka,” katanya.

Aku mengangguk kemudian mulai berkemas. Aku juga memberitahu kawan baikku Nina, tidak bisa ikut acara terakhir menyanggar. Sementara Anas dan Mate akan pergi ke pusat riset orangutan di kamp Tuanan. Nina bilang, sebenarnya dia juga harus balik. Jadilah kita pergi bersama naik kelotok. Pak Odom, si Master Dayak dan manajer penelitian, juga turut. Dia dan Nina harus segera balik ke Palangka karena ada rapat antar manager.

Memasuki bulan November 2006, kebakaran hutan gambut di area Mawas dan eks PLG (Proyek Lahan Gambut) sejuta hektar, belum juga berhenti. Kebakaran itu sudah dimulai Juli lalu seiring masuknya musim Kemarau. Kemarau terus menyusutkan air gambut di sekitar sungai Kapuas hingga memasuki pedalaman hutannya yang khas itu.

Kita memang berpisah. Aku bergabung Tim Pemadam Kebakaran Hutan dari The Boreno Orangutan Survival. Aku dan Ether mesti balik ke kamp Mantangai lebih dulu. Kata Ether, dia harus menyiapkan logistik dan kelotok di sana. Malamnya, aku dan Ether baru tiba. Ether harus menginventarisir logistik keperluan kawan-kawan tim pemadam kebakaran yang sudah dua minggu ini sibuk memadamkan api di dekat sungai Luwi, sisi utara Mantangai kawasan PLG. Di sanalah kebakaran hebat masih belum berhenti.

Selama sepekan aku di pedalaman Bagantung dan Mentangai, aku kesulitan melihat bintang gemintang seperti biasa. Karena udara diselimuti asap kebakaran hutan yang terbawa oleh angin. Rasanya memang udara yang dihirup tidak melegakan sama sekali. Tapi namanya tugas, mau dibilang apa. Awal tahun 2006 ke wilayah ini sama sekali berbeda situasi dan kondisinya. Udaranya bersih, awannya biru nan cerah, dan bintang-bintangnya selalu cantik secakrawala memandang.

Di Kamp Mantangai hanya ada aku dan seorang penjaga dari penduduk lokal. Ether mungkin tengah menyiapkan logistik di dekat pinggiran sungai Kapuas. Abis zuhuran, aku, Ether dan seorang pengemudi kelotok memulai perjalanan. Perahu kecil ini memang disebut kelotok karena bunyinya, tok..kotokotokotok…..(mungkin). Perahu dipenuhi segala macam logistik.

Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar tiga jam-an untuk mencapai pinggiran s.Luwi. Udara terasa nelengkep. Jarak pandang juga mulai sangat pendek ketika sudah memasuki sungai yang dipenuhi pohon-pohon rasau berduri. Asap menutupi jarak pandang.

Karena kemarau begitu parah, membuat air sungai menyusut. Kelotok pun jadi mudah mogok. Membuat Ether dan pengemudi kelotok harus mendorongnya. Aku ingin bantu mendorong tapi mereka tidak mengizinkan. Enggak enak sekali diperlakukan seperti ini. Masa mereka mendorong, aku ada di atas perahunya. Air sungai sebatas lutut laki-laki dewasa. Kalau aku turun mungkin sepinggangku. Baling-baling kelotok menyentuh akar-akar rasau yang ikut tercabik-cabik ketika mesin motor kelotok kembali hidup. Awal tahun lalu kondisinya justru kebalikan. Aku bahkan hanya bisa melihat ujung daun rasau yang selama ini tingginya bisa mencapai lima meteran itu. Kini aku bisa melihat ”tampang” pohon rasau hingga akarnya di dasar sungai.

Mendekati area s.Luwi, asap lebih pekat lagi. Pemandangan meranggas begitu mengerikan. Aku lihat pohon-pohon tinggal batang yang menghitam dan masih berasap. Di tepian sungai aku melihat tanah juga menghitam dan berasap. Di kejauhan, bahkan aku masih melihat pohon-pohon menjadi sekam menyala. Sisa kebakaran. Pohon-pohon itu makhluk hidup kan, aku bisa bayangin jika itu manusia, masih setengah hidup tapi terbakar. Kita manusia, atau hewan setidaknya bisa berlari berusaha menyelamatkan diri. Nah, ini pohon-pohon itu…..mana bisa menyelamatkan diri. Sedih banget aku melihatnya. Ini seperti zona….pintu neraka, jika neraka identik dengan suasana panas seperti yang aku lihat sekarang (Melihat yang kayak gini aja aku ngeri apalagi neraka benernya…)

Aku juga bisa membayangkan penghuni hutan di dalam saat kebakaran. Anak-anak bekantan, anak-anak burung, telur burung, orangutan, rangkong, macan dahan…pasti panik mencari tempat yang aman.

”Ini udah bisa kita padamkan selama sebulan dari Juli hingga Agustus,” kata Ether memecah kesunyian. Aku mengangguk masih memandang sekeliling. ”Selama itu?” kataku. Aku sebenarnya tahu penyebabnya. Tapi aku ingin tahu kondisi real-nya di lapangan.

”Kebakaran hutan gambut beda dengan kebakaran biasa, mbak. Kita matikan api di sisi ini misalnya,” katanya sambil menunjuk tepian sungai, ”Nanti api tiba-tiba merambatnya di ujung pohon itu dan sudah menjalar ke pohon-pohon yang belum terbakar. Muncul apinya dari dalam tanah. Mereka menjalar di dalam tanah. Karena ini semuanya gambut,” jelasnya.

Aku mengangguk dan bisa membayangkannya. Aku juga pernah mendengar cerita serupa dari pasukan kebakaran Manggala Agni, KSDA Jambi, yang sibuk mematikan api di hutan gambut Berbak. Mereka bilang, jika tidak hati-hati, kaki mereka bisa terperosok masuk ke tanah dan terbakar sekam gambut yang panas saat itu. Dan itu pernah terjadi. Beberapa dari mereka harus dirawat karena kakinya terbakar.

Akhirnya Ether curhat. Dia bilang, yang mau memadamkan api hanya sekitar 15 orang. Itu pun dengan peralatan seadanya. Untuk kebakaran harus dengan sepatu dan pakaian khusus. Aku sendiri dipinjamkan sepatu khusus itu. Ketika menuju lokasi kebakaran juga tidak bisa cepat, karena air sungai menyusut. Di sana jelas tidak ada jalan darat. Kelotok adalah transportasi yang paling mungkin. Tidak bisa mengandalkan upaya pemerintah setempat. Perlu orang-orang terlatih dalam menangani kebakaran hutan gambut. Jika tidak, akan membahayakan jiwanya sendiri.

Lagipula, hutan di Kalimantan begitu luas, mana yang sesungguhnya harus didahulukan kalau tengah terjadi kebakaran gambut serentak seperti belakangan ini. Bahkan jalan Trans-Kalimantan aja pinggiran jalannya di penuhi kabut asap kebakaran. Bahkan di sekitar bandara Tjilik Riwut, Palangka pun begitu. Jangan dibayangkan pasukan kebakaran udara. Nah, ini temen-temenku hanya bisa mengandalkan semangat dan kepedulian. Nemuuu aja  orang kayak gini.

Mendekati luwi, aku melihat terpal oranye. Aku melihat Pak Soengkono sudah ada di sana mengawasi anak buahnya yang pada hari itu masih sibuk memadamkan api. Gila, cepat sekali orang itu, sudah ada di zona seperti ini. Apa enggak capek. Kawan-kawan yang santai langsung menyambut kami. Tentu saja mereka menanyakan pesanan logistik keperluan harian mereka, termasuk alat-alat tambahan untuk memadamkan api. Seperti biasa, para lelaki itu sempet bengong sesaat melihat aku. Tapi sebagian dari mereka aku sudah mengenalnya dengan baik. Kendati aku lupa namanya satu-persatu.

”Ah, mbak Fay. Sampai juga ke sini. Menginap yah?” kata Pak Rocky, yang badannya paling besar di antara semuanya.

Pak Rocky  seperti tokoh ABRI masuk desa, badan tinggi besar dengan kumis melintang tapi mempunyai senyum yang ramah dan hangat. Dia dengan ceria menjabat tanganku dengan erat, sehingga kayaknya aku merasa mengalami kram sedikit. Aku melihat di belakangya…Ya ampun, itu kan cowok yang pernah lihat aku jingkrak-jingkrak sendirian di tepi sungai awal tahun lalu. Aku lupa namanya. Tapi dia sudah mesam-mesem di belakang punggung Pak Rocky. Dia ngeledek mau menyalami tanganku dengan tangannya yang hitam. Wajahnya juga penuh cemong hitam. Celana dan kaosnya basah kuyup berwarna cokelat dan kehitam-hitaman.

”Menginap?” katanya dengan senyum mengembang sehingga di antara cemong wajahnya, gigi putihnya terlihat, ”cling!” Aku mengangguk. Agak malu ketemu cowok satu ini. Karena terakhir ketemu, awal tahun lalu, dia memergoki aku tengah meloncat-loncat sambil berteriak mengikuti long call-nya orangutan di tepian sungai yang sepi. Aduuh…rasanya maluuu sekali. Dia sih, enggak komentar waktu itu, cuma senyum doang. Terus berlalu. Sial banget aku waktu itu. Sekarang malu jadi muncul lagi. Cuek adalah jalan keluar dari situasi aneh itu.  Kayaknya dia enggak cerita ke temen-temenku. Karena tidak ada satu pun dari kawan-kawanku sejak ke pedalaman ini yang menyinggungnya.

Jelang maghrib, Pak Soengkono meminta kepada Ether untuk mematikan pompa air. Karena di dalam masih ada Pak Asnawi yang masih memadamkan api.

”Matikan cepat. Nanti dia enggak berhenti karena merasa tanggung. Waktunya istirahat. Kayaknya area itu sudah aman,” kata Pak Soengkono.

Lalu dia menoleh kearahku, ”Di sini kalau enggak diingatkan akan terus aja bekerja sampe besok pagi. Kalau begitu anak buah saya bisa sakit semua kayak saya sekarang. Kecetit punggung. Malah bikin repot kan,”katanya sambil jalan tertatih-tatih.

Aku kaget melihatnya. Padahal kemarin dia sehat-sehat aja.”Keseleo di kelotok kemarin. Tapi enggak apa-apa,” katanya sambil masuk tenda terpal yang terbuka.

Anak buahnya langsung memasang ransel besar dan bantal untuk membuatnya bisa bersandar nyaman. Aku prihatin melihatnya.

”Kenapa bapak enggak pulang aja dulu,” kataku.

Aku kasihan sekali melihatnya yang tampak kesakitan setiap kali bergerak. Pak Rocky ketawa mendengarnya.
”Kita lebaran kemarin aja enggak pulang. Kalau pulang, ini kebakaran udah sampai ujung hutan sana tuh yang masih utuh,” katanya terkekeh.

Ah…orang-orang ini, aku terharu banget…

Dari kejauhan aku mendengar ada orang menggumam kesal. Aku menoleh keluar. Kemudian menoleh lagi ke Pak Soengkono dengan tatapan tanya.

”Biasa…. kesal, karena lagi asik padamin api, airnya di matiin. Sekarang kita bisa tenang, soalnya apinya enggak begitu parah. Tapi sekarang kita lagi mengira-ngira, nih api menjalarnya kemana. Sebab, kadang tiba-tiba muncul ke tempat lain. Kita berpacu strategi dengan api di dalam tanah ini,” jelasnya.

Saat maghrib aku maghriban darurat di tenda. Lalu kita makan bersama sambil cerita sana sini. Suaraku sudah membindeng, dan air keluar dari hidungku. Mataku juga terasa perih dan kerongkonganku mulai gatal serta maunya membatuk saja. Padahal aku baru beberapa jam di sini. Tapi kondisi tubuhku sudah mulai meronta. Sementara kawan-kawan ini sudah nyaris beberapa bulan ini berurusan dengan kebakaran hutan. Tuhan….masih ada manusia kayak gini.

”Berapa bapak dibayar?” kataku sambil lalu, berusaha normal dalam nada. Takut membuat mereka tersinggung. Tapi mereka tertawa.

”Sehari 25 ribu. Tapi kita kerja karena kepedulian mbak. Di sekitar hutan ini kan ada saudara-saudara kita tinggal. Sebagian dari kita juga orang sekitar sini,” jelas Pak Rocky.

Aku nyaris tersedak mendengarnya. Aku menatap mereka semua, mencari kesungguhan kata-katanya di sana. Aku nyaris tercekat sepertinya keterangan itu benar adanya. Wajah-wajah itu kini sudah bersih namun terlihat begitu lelahnya.

Lalu salah satu dari mereka bercerita tentang betapa bahayanya kerjaan mereka. Tapi menceritakannya seperti menceritakan hal biasa aja, padahal waktu itu nyawa mereka taruhannya.

”Saat parah-parahnya nih, kemarin. Wuih…kalau kita enggak hati-hati bisa-bisa kita ikut kebakar. Kayak kiamat di dalam hutan. Pohon-pohon besar bertumbangan, blam! Blam! Kita yang madamin api kalau enggak hati-hati bisa ketiban pohon itu. Kalau kita enggak jeli dalam melangkah bisa juga keperosok dalam gambut. Kaki bisa terpanggang seketika…..”

Tampangku bisa terbaca, meringis ngeri membayangkan situasi cerita tersebut. Puas bercerita, mereka cepat sekali tertidur. Aku diberi sleepingbag dan tempat yang nyaman. Ah…orang-orang ini, aku ke sana kan, bukan buat bertamu. Kata Pak Soengkono aku tidak merepotkan sama sekali, jadi enggak usah khawatir.

”Belum ada orang Jakarta yang mau melihat kerjaan kami, apalagi bertanya keadaan kami apakah kami baik-baik aja di sini. Enggak usah kasih apa-apa, tapi tanya pun enggak ada. Kita senang mbak ada di sini, melihat langsung, dan memberitahu masalah ini kepada mereka yang ada di Jakarta atau Palangka. Bahkan Pak Pandu (Manager Program) belum pernah ke sini mbak,” kata Pak Rocky. Aku hanya bisa mendengarkan. Masgul.

Memang keterlaluan ”pejbat-pejabat” itu. Aku juga ingat Pak Pandu, ketika kami mau melakukan acara menyanggar, dia tiba-tiba muncul dengan kapal ultralightnya dan datang seperti layaknya pejabat. Muak aku melihatnya waktu itu. Apalagi ada beberapa kawan-kawanku tergopoh-gopoh menghampiri dan menyambutnya. Tas ranselnya dibawain. Ih….masih selalu ada penjilat.

Pada saat Pak Pandu menyendiri di teras lainnya di kamp Bagantung, aku hampiri. Dia lagi baca buku dan aku nongol di jendela.

”Pak, tadi pamer banget sih. Ngapain parkir ultralight di sana. Depan panggung. Kayak pejabat aja, Tadi kesannya sangat tidak sopan, Pak. Terus terang saya risih melihat bapak seperti itu,”kataku serius.

Tapi dia malah terkekeh, ”Iya yah…apa saya kayak gitu. Terburu-buru saya Fay. Eh, saya aja baru pertama kali loh ke sana,” katanya sambil terkekeh.

Aku mendelik. Sebal banget dengernya. ”Bisanya jadi manajer program begitu….payah banget bapak ini,” kataku sambil ngeloyor kesal. Tapi aku dengar suara kekehannya. Disangkanya aku becanda apa?!

Aku kemudian tertidur. Aku dengar suara ngorok para pemadam kebakaran hutan itu. Hemm….kerja kayak gini. Dalam hati aku terus menyampaikan doa untuk orang-orang ini. Hingga setengah pulas, aku mendengar dari luar tenda, seseorang berteriak. ”Api, api, api!!!”

Aku langsung melonjak bangun. Begitu juga dengan lainnya. Tidak jauh dari tenda, aku melihat kemunculan api seperti ingin mencari sasaran untuk dijilat, ”Buussss” mendadak dari dalam tanah. Baru kali ini aku melihat bagaimana api gambut muncul secara dahsyat dan tiba-tiba seperti itu. Kawan-kawan dengan cepat mematikannya. Pak Soengkono meminta anak buahnya mengecek sekeliling.

”Lari kemana dia kira-kira…” katanya. Salah satu kemudian ditugaskan berjaga. Sebagian kembali ke tenda untuk melanjutkan tidur. Dan aku enggak bisa tidur lagi sampai Subuh datang.

Sebelum pulang, aku jadi ikut membantu memadamkan api. Tapi sebatas tanah yang berasap. Enggak ada apinya.

”Semprot sampe tanahnya kayak bubur kental,” kata Pak Rocky. ”Siappp, pak!” kataku.

Widih, selangnya aja berat. Aku kayaknya enggak kuat. Untung cowok yang mergokin aku lagi gila waktu itu, nemenin aku menyemprot tanah gambut. Katanya, selang yang aku pegang paling ringan. Lalu dia berceloteh aku terlalu kurus dan harus banyak makan untuk bisa bantu mereka madamin api. Sialan. Ternyata cowok ini nyinyir dan cerewet sekali. Tapi aku cuma mencibir sebal, ”Masih untung aku bantuin nih,” kataku asal.

Dia terkekeh. Lalu karena kasihan barangkali melihat aku yang kecil dan kurus malah kebawa selang yang tengah kuat-kuatnya menyalurkan air, akhirnya dia juga yang melakukannya. Aku hanya diminta jaga bak airnya.

Ternyata….seperti itu tugasnya. Segitu aja udah berat bagiku. Selang ini pun enggak cukup panjang (walau sudah panjang) untuk menjangkau hingga ke dalam hutan. Bahkan ada yang mulai bocor. Begitu juga bak penampung airnya.

”Kita masuk ke dalam?” kataku. Si cowok ini kaget. ”Eh…jangan. Udah kamu ke tenda aja. Ini kan, waktunya pulang dengan pak Soengkono. Tolong kami yah. Tulis yang benar, dan sampaikan ini ke orang-orang Jakarta dan Palangka. Kalau kami serius mereka juga harus serius,” katanya sambil menyemprotkan api dan menoleh sebentar ke arahku.

”PASTI!” teriakku menyaingi suara semburan air selang. Lalu aku balik, tapi dia berteriak ke aku lagi. ”Hey, jangan jingkrak-jingkrak dan teriak kayak orangutan lagi yah. Kamu kan, bukan orangutan,hahahaha!” Sial. Muka ku enggak tahu deh, warnanya apa. Aku hanya tersenyum kecut.

”Udah hati-hati sana,” katanya. Aku mengangguk. ”Yah, kalian juga,” kataku langsung ngacir. Memalukan sekali aku ini. Makanya lain kali jangan bersikap konyol dan tidak terkontrol. Lalu, aku lihat Pak Soengkono dituntun anak buahnya yang lain untuk naik kelotok.

Aku salami semua orang yang ada di sana. Enggak peduli tanganku hitam dan kotor. Aku merasa terhormat sekali bertemu dengan orang-orang istimewa ini. Aku tidak akan menjadikan hal ini sebuah cerita. Aku janji. Aku akan bicarakan dengan para pemberi donor untuk aware terhadap masalah ini. Mungkin Rita di Jakarta bisa membantu dengan para Germannya itu.

Musfarayani, catatan perjalanan : Oktober 2006.

Advertisements
Categories: CATATAN PERJALANAN, TENTANG ORANG UTAN | Tags: , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: