Orangutan Tidak Sembarangan Membuat Sarang

Anda mungkin sulit membayangkan bahwa orangutan liar yang hidup di hutan rimba ternyata melengkapi sarang untuk tidurnya dengan bantal, selimut bahkan boneka.  Apa benar demikian?

Demikianlah yang ditemukan oleh peneliti khusus tentang sarang orangutan, Didik Prasetyo, dari Universitas Nasional (Universitas Nasional). Tapi, tentu saja bantal, selimut dan boneka yang dimaksud tidak seperti yang dibuat dan dipakai manusia. Namun ditenggarai kuat oleh penelitinya memang mendekati pada fungsi benda-benda yang dimaksud.

”Di Tanjung Puting ada ranting yang dijalin digumpal-gumpalkan sehingga mirip bantal. Tapi masih belum teridentifikasi fungsinya itu untuk apa. Tapi jelas diletakkan di dekat alas untuk tidur,” ungkap Didik, usai diskusi terbatas di acara Research Ekspose, Unas-LIPI, Maret 2006 lalu, di Kampus Unas Jakarta

Namun dia menandaskan, yang menarik dari hasil penelitiannya bukan hanya sebatas ditemukannya ”bantal”, ”selimut”, dan ”bonek orangutan”. Karena itu hanya beberapa bagian varian yang ditemukannya selama penelitian tentang ”Perilaku Bersarang Orangutan (teknik, budaya, dan fungsi), di area hutan penelitian Tuanan, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah,pada Agustus 2004-Agustus 2005.

Didik yang menempuh S2 Biologi Konservasi UI ini, telah menemukan adanya 19 variasi budaya orangutan yang terkait dengan sarang. Bahkan delapan diantaranya diindikasikan sebagai ”budaya asli” orangutan liar di hutan Tuanan ini. Namun untuk memastikan adanya budaya asli orangutan Tuanan, menurut Didik, perlu diadakan perbandingan dengan hasil penelitian yang tengah dilakukan Meredith L Bastian. Meredith adalah peneliti muda dari Departemen Biologi Anthropologi dan Anatomi, Universitas Duke. Dia melakukan penelitian untuk thesisnya yang berjudul : ”Effect of Dispersal Barrier on Cultural Similiarity in Wild Orangutan (Pongo pygamaus). Orangutan yang ditelitinya berada di sungai Tuanan (350 ha), dan sungai Lading (200 ha).

Dalam wawancara terpisah dengan Meredith,  dia baru menemukan adanya dua perbedaan ”bahasa” pada orangutan di dua tempat tersebut. Orangutan liar di Tuanan misalnya, mengeluarkan tones seperti kiss-squeak, sementara di sungai Lading mengeluarkan bunyi seperti : ”tak, tik, tok..” (baca artikel tentang: ”Bahasa Orangutan”).

Menurut Didik, apa yang diteliti dia dan kawan-kawannya kini, sangat kuat mengindikasikan adanya beberapa budaya yang hanya dimiliki orangutan Tuanan itu cukup kuat. Selama melakukan penelitian tersebut, seperti halnya peneliti orangutan lainnya, Didik harus mengikuti keseharian hidup salah satu orangutan liar Tuanan yang ditelitinya. Dan orangutan liar yang ditelitinya juga mempunyai pohon-pohon ”favorit” yang dianggap layak untuk dijadikan sarangnya.

Para orangutan liar lebih suka memilih pohon mangkinang, belawau, dengan ketinggian sarang yang dibuatnya berkisar 5-9 meter.

Di temukan juga perbedaan adanya arah tidur antara orangutan dewasa dan remaja yang ternyata juga mempunyai arti dan maksud tersendiri. Terutama dalam memprediksi pembuatan sarang berikutnya (pada orangutan dewasa), dan prediksi adanya pohon pakan berikutnya (untuk orangutan remaja).

Butterfly effect

Sarang bagi orangutan sendiri dipergunakan hanya untuk istirahat dan berlindung. Dari beberapa kasus yang ditemukan, ada juga sarang digunakan orangutan untuk ”kawin”.

Lalu bagaimana proses orangutan membuat sarangnya?

”Sebelum membuat sarang, dia akan mengamati lebih dulu pohon-pohon yang dianggapnya akan cocok untuk sarangnya. Setelah mendapatkan pohon yang dianggapnya tepat, lalu dia membangun pondasi, memberikan alas (semacam matras), lalu menguatkannya dengan teknik penguncian. Terakhir sarang diberi ”asesoris”,” jelas cowok kelahiran Nganjuk 14 Agustus 1978.

Didik juga memastikan bahwa pondasi sarang yang dibuat orangutan bukan main kokoh dan kuatnya.

”Saya pernah naik sarang orangutan di Tuanan. Waktu itu kebetulan ada shooting film dokumenter dari Jepang tentang kehidupan orangutan. Jadi saya berdiri di atas sarang dan mencoba menguji kekuatannya. Saya lompat-lompat, goyang-goyang. Enggak goyah. Bahkan untuk merusak dan membuka sarangnya saja susahnya minta ampun,” jelas Didik yang sudah malang melintang melakukan penelitian tentang orangutan di Kalimantan ini sejak masih kuliah di Unas.

Teknik penguncian dalam memperkuat sarang oleh orangutan inilah menurut Didik sangat menakjubkan. Ada semacam teknik begitu rupa hingga jalinan rantingnya tidak terlepas begitu saja. Teknik penguncian ini hanya bisa dilakukan oleh orangutan. Bahkan menurutnya, teknik pengunciannya lebih sempurna dibandingkan teknik penguncian penguatan pondasi sarang pada simpanse. Pembuatan sarang kokoh itu bahkan dibuat orangutan hanya dalam waktu 13 menit!

”Menarik lagi ditemukannya bentuk pondasi sarang yang dibuat mirip kupu-kupu (butterfly). Ada semacam jalinan banyak ranting yang dililit di sekitar kaki hingga kepala orangutan sehingga menimbulkan efek seperti kupu-kupu,” jelas Didik yang sempat juga melakukan penelitian kekerabatan DNA Mitokhondoria orangutan Kalimantan Timur ini.

Dari 23 individu orangutan yang diteliiti, Didik, menemukan 421 sarang dengan 16 kontruksi yang memakai sistem butterfly effect.

Smack Ness

Terkait soal ditemukannya bantal, selimut dan boneka, Didik menandaskan, bahwa itu masih sebatas indikasi kuat. Temuan berupa kumpulan rantng dan daun yang digunakan untuk menopang kepala pada saat tidur, jelas diduga kuat dijadikan sebagai bantal oleh orangutan tersebut. Ada pula kumpulan ranting dan daun yang digunakan sebagai penutup badan saat tidur yang di duga kuat digunakan sebagai selimut. Lalu ada kumpulan ranting yang digumpalkan sehingga terlihat seperti sosok boneka dan diletakkan di samping orangutan saat tidur.

”Mungkin bisa dikatakan bantal, karena memang bentuknya seperti tadah kepala ketika tidur. Di buat dari ranting-ranting yan tersusun dengan sangat rapihnya serta pengaturan yang sangat jelas. Susunannya juga rapih dan sama. Sedangkan selimut dibuat dari kumpulan ranting yang banyak. Kadang mereka juga membuat alas dari daun yang lebar sebagai matras untuk tidur. Ini mengarahnya memang pada terbentuknya sebuah budaya orangutan,” ujar Didik yang sempat juga meneliti perilaku gorila di Pusat Primata Schmutzer ini.

Didik juga menemukan adanya bunyi vokal yang disebutnya sebagai smack-ness atau bunyi nyelotok mengacu penyebutan dari penduduk lokal. Bunyi vokal smack ness ini biasa terdengar ketika orangutan membuat sarang. Smack ness adalah semacam sinyal antara individu orangutan yang satu dengan lainnya setelah membuat sarang. Ada satu kasus di mana seorang ibu orangutan baru bertemu lagi dengan anaknya yang baru pulang ”berkelana”. Ketika si ibu selesai membuat sarangnya dia kemudian mengeluarkan bunyi nyelotok. Setelah itu baru anaknya tersebut membuat sarang dan membunyikan vokal yang sama.

Kasus lainnya terkait dengan smack-ness adalah ketika ada seekor orangutan yang baru masuk ke populasi besar orangutan liar di Tuanan. ”Sang Pendatang” ini jelas tidak menggunakan vokal tersebut. Namun ketika dia akan membuat sarang dia pun membunyikan vokal yang sama.

Kasus lainnya, ditemukan juga satu kasus yaitu sarang orangutan di tanah dan bukan di atas pohon. Belum ada analisa lebih lanjut terkait dengan masalah ini. Namun Didik menyimpulkan bahwa orangutan itu cukup tua dan badannya terlalu besar untuk ditahan oleh pohon-pohon di Tuanan yang kebanyakan memang kurang begitu besar.

Dalam penelitian ini Didik memang harus mengikuti orangutan yang ditelitinya. Ini menjadi berat ketika musim hujan datang. Karena dia hanya mampu mengikuti orangutan selama emoat dari 10 hari berturut-turut jika hari tidak hujan.

Selama penelitian dia mengaku kadang mempunyai kontak bathin dengan orangutan yang diamatinya. Suatu hari seekor induk orangutan tidak begitu menggubrisnya ketika anak orangutan itu mendekatinya atau dia mendekati anaknya. Menurutnya, sang ibu mungkin sudah percaya sekali kalau dia tidak akan berbuat macam-macam. Ibu itu sudah mengenalnya karena saban hari dia mengikutinya kemanapun dan tidak pernah mengganggunya. Padahal biasanya, jika anak orangutan didekati ”orang asing” sang ibu langsung mengambil tindakan perlindungan.
”Mungkin karena seringnya saya ikut mereka sehingga mereka jadi percaya. Mereka nyaris sama seperti kita. Mempunyai perasaan,” jelasnya ketika ditanyakan kesannya selama meneliti di Tuanan. (Musfarayani)

Advertisements
Categories: ARTIKELKU, TENTANG ORANG UTAN | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: