Varian Baru ”Budaya” Orangutan Ditengah Rusaknya Hutan Kalimantan

Berpacu dengan waktu. Itulah yang dihadapi sekelompok mahasiswa peneliti orangutan dari fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta, bekerjasama dengan para peneliti dan mahasiswa Anthropologi Universitas Zurich (Duke), Switzerland. Mereka melakukan serangkaian penelitian orangutan liar di tengah semakin menyusutnya hutan di Kalimantan.

Karena itu para peneliti tidak membuang kesempatan untuk meneliti semua terkait dengan orangutan. Mereka melakukan penelitian itu sejak Agustus 2003. Mereka meneliti tentang kebiasaan jelajah orangutan- yang ternyata berhubungan dengan rehabilitasi hutan secara alami. Ketika orangutan menjelajah sambil memakan buah-buahan atau bibit buah dan tumbuhan maka terkait erat sekali dengan rehabilitasi hutan di sekitar hutannya. Para peneliti juga meneliti kotoran orangutan yang ternyata sangat berpengaruh dalam regenerasi hutan. Penelitian juga mefokuskan pada masalah perilaku bersarang dan vokal, “”sistem sosial”, serta “budaya orangutan dalam komunitasnya.

“Penelitian ini akan mengupas secara kesuluruhan tentang hidup orangutan itu sendiri. Terutama orangutan liar yang hidup di hutan sekunder seperti di Tuanan, Kabupaten Kapuas, Kalimantan. Mumpung hutannya masih ada dan ada 3000 orangutan liar masih hidup di sana. Ini menjadi penting, karena di sana, hutan itu juga tengah dikepung kerusakan hutan yang luar biasa karena aktifitas perusahaan tambang di sekitarnya. Jadi penelitian ini seperti berpacu dengan waktu. Karena hutan tempat habitat orangutan kita juga semakin memprihatinkan,” jelas Dr Sri Suci Utami Atmoko, pakar orangutan Indonesia, di sela acara presentasi Research Ekspose, di Universitas Nasionla awal Mei 2006.

Rangkaian penelitian ini sendiri dimotori langsung oleh koleganya yaitu Prof Dr Carel van Schaik (Universitas Zurich), dengan lokasi penelitian di Pusat Penelitian (hutan) Tuanan, Kalimantan Tengah dan sekitarnya. Sedangkan Prof Dr Anne Russon (Universitas York, Canada), memimpin penelitian di Pulau Kaja, Kalimantan Tengah, tempat pra-pelepasliaran orangutan rehabilitasi dari Pusat Reintroduksi Orangutan Nyaru Menteng, bersama mahasiwa Unversitas Palangkaraya.

Suci menjelaskan bahwa ada hasil mengejutkan terkait dengan penelitian terbaru tersebut yang rencananya akan dipresentasikan pada symposium nasional 10 Juli 2006 ini. Misalnya saja mereka menemukan adanya enam inovasi orangutan yang belum mereka temukan di tempat lainnya. Jauh sebelumnya, tepatnya tahun 2003, Suci bersama Carel serta sejumlah pakar primata dan orangutan dunia lainnya mengungkapkan hasil penelitian mereka selama beberapa dekade. Hasilnya teridentifikasi 24 inovasi budaya orangutan baik di Sumatera dan Kalimantan.

“Hasil penelitian yang dilakukan sejak Agustus 2003 ini juga menjadi revisi hasil penelitian sebelumnya. Terutama terkait dengan variasi perilaku pada orangutan,”tambah Suci.

Temuan Budaya Orangutan
Temuan besar tentang 24 “inovasi budaya” orangutan itu langsung mendapat perhatian khusus secara luas oleh media dunia. Bahkan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Majalah Science. Hasilnya memang dinilai menggemparkan dunia ilmiah primata. Sebab selama ini “budaya” dianggap hanya dimiliki manusia. Namun nyatanya para ilmuwan primata ini berhasil membuktikan bahwa selain simpanse yang disebut ahli anthropologi telah mempunyai “budaya” lebih maju dari sejenisnya, ternyata orangutan pun mempunyai “budaya” yang tidak kalah majunya dengan yang dimiliki simpanse.

Bahkan penemuan soal budaya ini dianggap kurang lebih sedikitnya mirip dengan masa awal dimulainya budaya nenek moyang manusia dengan nenek moyang para kera besar. Carel yang menjadi motor penelitian itu menjelaskan bahwa orangutan mempunyai tiga dari empat kategori yang disebutnya dengan elemen budaya yaitu: etiket, tanda, dan ketrampilan.

Contohnya telah terjadi pada orangutan liar di hutan rawa Kluet, Aceh Selatan, Sumatera. Ada perbedaan teknik dalam hal memakan buah berduri keras “cemanggang” (Neesia sp) antara kelompok orangutan yang dipisahkan oleh sungai Alas yang lebar dengan kelompok orangutan di sebrangnya.

Hanya kelompok orangutan di sisi kiri sungai Alas yang secara menakjubkan telah menggunakan alat berupa sebuah ranting kayu kecil untuk membuka buah cemenggang yang kulitnya keras dan berduri . Mereka juga mencongkel biji buahnya dengan alat itu sehingga terhindar dari duri halus yang mengelilingi biji buah tersebut.

Ketika tim peneliti ini kemudian membandingkan dengan kelompok orangutan lainnya yang terpisah dengan sungai itu, secara mengejutkan orangutan disisi seberang kanan sungai justru tidak menggunakan alat untuk membuka buah yang sama. Padahal di habitat kelompok orangutan itu tersedia ranting kayu kecil lebih banyak. Namun mereka tidak memanfaatkanya. Sebaliknya terjadi pada kelompok orangutan di seberang sungai lainnya.

“Kami menemukan sebuah batas budaya,” ungkap Carel waktu itu. “Jika Budaya adalah sebuah inovasi dari transmisi sosial, maka inovasi dapat terjadi pada sebuah tempat yang khusus, lalu menyebar melewati ruang hingga akhirnya terhambat sebuah rintangan. Kami menemukan polanya seperti itu. Dan, yah…Kita benar-benar melihat adanya sebuah budaya. Budaya orangutan.”

Para peneliti juga menemukan perilaku yang tidak biasa pada beberap populasi orangutan lainnya. Sebagai contoh adalah yang ditemukan Michelle Merril (Universitas Duke) yang khusus meneliti “bahasa” orangutan melalui vokal-vokal yang sering dikeluarkan orangutan. Michele menemukan sebuah vokal bunyi yang disebutnya “kiss-squeak” (ciuman mencicit). Tanda vokal ini dibunyikan ketika orangutan merasa ada bahaya yang mengintainya. Ketika para ahli primata ini membandingkan hasil temuannya ini, ternyata mereka menemukan adanya variasi ciptaan bunyi kiss-squeak dari kelompok orangutan yang berbeda.

“Di beberapa area, bunyi kiss-squeak ini dibunyikan dengan nyaring dan keras, Supaya nyaring bunyinya mereka menggunakan tangan atau daun,” tambah Carel. “Di Sumatera tidak ada satu pun orangutan membunyikan kiss-squeak dengan daun. Namun di Kalimantan beberapa populasi orangutan menggunakannya dengan daun. Kelihatannya memang seperti asal-asalan tapi bagi kami itu sangat jelas bahwa indikator budaya tengah terjadi di sana,”tambahnya.

Temuan lainnya, orangutan juga menggunakan sarung tangan dari daun ketika harus membuka buah yang kulitnya berduri (terobservasi hanya di Ketambe dan Agusan, Aceh Tenggara). Ditemukan pula bahwa orangutan melindungi kepalanya dari terik matahari atau terpaan hujan dengan daun yang lebar sebagai topi. Sarang mereka pun diberi atap sehingga mereka bisa terhindar dari panas dan hujan (terobservasi hampir di semua lokasi penelitian).

Penemuan terbaru adalah yang dilakukan peneliti muda asal Washington, Meredith L Bastian, dari Universitas Duke. Kendati baru beberapa bulan, dia telah menemukan beberapa varian budaya orangutan yang luar biasa pada orangutan liar di Tuanan (350 Ha) dan sungai Lading (200 Ha), Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

“Saya belum bisa menganalisa ini lebih dalam. Tapi saya juga melihat bahwa orangutan di sana punya bahasa dimana mereka bisa membaca pikiran kawannya. Ketika itu, salah satu orangutan di sana hanya saling menatap, kemudian yang lainnya langsung memberikan sesuatu yang tampaknya dibutuhkan orangutan tersebut,” jelasnya,

Hal lainnya yang menurutnya sangat tidak biasa dan dia tidak pernah melihatnya adalah bahwa orangutan di sana juga bisa saling berpelukan, mencium dan melakukan perilaku cinta kasih sesama orangutan itu begitu tinggi. Dia juga melihat betap kreatifnya orangutan di sana ketika menyadari mulai terbatasnya sumber makanan yang tersedia di hutan tersebut. Orangutan mulai mencari alternative makanan lainnya yang harus dia makan untuk menyambung hidup.

Meredith yang tengah mempersiapkan thesis tentang : Effect of Dispersal Barrier on Cultural Similiarity in Wild Orangutan juga melihat bahwa orangutan di sana bisa membuka buah berkulit keras dengan berusaha menggigitnya langsung. Namun ini sangat berbeda dengan orangutan di Sumatera yang sudah mengenal alat jika mereka membuka buah yang lebih keras kulitnya.

”Namun itu juga belum tentu bahwa orangutan di Sumatera lebih pandai daripada di Kalimantan. Karena mungkin secara ekologis, situasi dan kondisi hutan dan lingkungannya berbeda,” jelasnya kepada penulis.

Dia juga menandaskan bahwa untuk mengetahui lebih lanjut tentang segala kehidupan orangutan diperlukan waktu bertahun-tahun.
”Namun tentu saja sangat menarik ketika mereka bisa berbicaran satu dengan lainnya dengan caranya. Atau bagaimana cara mereka membuka makanan. Kalau hal semacam itu tidak bisa dikatakan budaya, setidaknya perilaku itu jelas hanya bisa dilakukan oleh makhluk hidup yang mempunyai tingkat kecerdasan seperti manusia,” jelas Meredith.

Penemuan ini juga berarti bahwa perilaku budaya primata sudah ada 14 juta tahun lamanya. Itu terjadi ketika orangutan terpisah dari garis primata yang maju lebih dulu yaitu simpanse dan manusia. Para peneliti beranalisa bahwa perilaku orangutan sekarang sama caranya dengan yang mereka lakukan sebelumnya.

“Satu dari hal besar ini menceritakan kepada kita apakah begitu banyaknya perbedaan perilaku yang mungjin memindahkannya secara sosial yang mirip dengan hewan lainnya, serta tidak lolos dengan cara serupa,” tambah ahli primata dari Universitas Harvard Richard Wrangham.

Akan musnah jika…
Namun para peneliti juga menambahkan bahwa kemungkinan dalam waktu satu atau dua decade lagi orangutan bisa jadi akan punah atau tinggal nama saja untuk selamanya. Itu akan terjadi jika ancaman terhadap hutan, habitat tempat hidup dan kehidupan orangutan tidak bisa segera diatasi dengan baik dan sungguh-sungguh. Masalah illegal logging, perambahan hutan dan perkebunan monokultur skala besar (sawit) yang diterapkan dengan tata ruang buruk tanpa memperhatikan ekologi- adalah penyebab utama akan punahnya orangutan tersebut.

Meredith menambahkan jika saja kondisi hutan Indonesia terutama Sumatera dan Kalimantan jauh dari segala ancamannya, mungkin saja orangutan bisa “menyempurnakan budaya”-nya dengan lebih baik. Meredit sangat prihatin, karena kini sumber pakan bagi orangutan sudah sangat sedikit. Bahkan mereka kini sering makan buah yang sangat kering karena bekas kebakaran hutan belum lama ini.

“Beberapa orang bertanya kepada kami, apakah kami merasa sudah cukup mempelajari dan meneliti orangutan selama 30 tahun ini? Dan berdasarkan temuan ini jelas kami katakana: sama sekali belum cukup,” tambah Carel vanm Schaik.

”Beberapa area yang masuk dalam penelitian kami sudah lebih dulu hilang karena illegal logging. Kendatipun hutan dan satwa kemudian bisa Anda restorasi di sana, tapi tetap yang bertahan hanya budaya manusia. Sekali budaya (orangutan) itu hilang, itu artinya hilang selamanya. Jadi penelitian kami tampaknya harus berpacu dengan waktu,” tandasnya. (Musfarayani )

Advertisements
Categories: ARTIKELKU, TENTANG ORANG UTAN | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: