Orangutan di Tengah Himpitan Soal Hutan Indonesia

Hasil penelitian para pakar primata sedunia menyebutkan bahwa orangutan (Pongo pygmaeus pygmaeus) secara ginelogis mempunyai “kedekatan” dengan manusia. Benarkah? Mungkin banyak “manusia” tidak setuju dengan hasil tersebut. Tapi faktanya telah dipastikan bahwa 97% DNA orangtutan sama dengan manusia. Orangutan juga mempunyai jenjang umur seperti halnya manusia hingga 50-60 tahun. Mereka juga mempunyai keluarga, “sistem sosial”, “budaya”, bahkan mempunyai nilai-nilai “manusiawi” seperti halnya manusia.

Orangutan adalah satu-satunya kera besar (jenis primata) yang mewakili benua Asia dan hanya bisa ditemui di Indonesia, yaitu Sumatera (Orangutan Sumatera/Pongo abelii) dan Kalimantan (Pongo pygmaeus). 90% orangutan ada di dua pulau ini dan 10%-nya ada di Malaysia (Sabah dan Serawak). Kera besar tersisa di dunia lainnya hanya bisa ditemui di benua Afrika yaitu: gorilla (Gorilla gorilla/ Gorilla beringei), simpanse (Pan troglodytes) dan banobo atau simpanse pigmi (Pan paniscus). Jadi jika ada ditemukan dan diakui adanya orangutan di negara lain, maka itu bisa dipastikan dari hasil penangkaran atau diperoleh secara illegal. 

Kehidupan orangutan “sedikit” berbeda dengan kehidupan ”saudara-saudaranya” di benua Afrika, dan manusia, tentu saja. Mereka jarang turun ke “permukaan bumi” karena lebih banyak menghabiskan waktunya menjelajah dan hidup di atas pohon. Hal ini menjadi penting untuk menghindari predator seperti harimau misalnya di Sumatera. Namun di Kalimantan sejumlah orangutan kini bisa dilihat menjejakkan “kakinya” lebih sering di tanah.

Seperti “saudaranya” pula- termasuk manusia, secara psikologis, orangutan juga mempunyai kesadaran atas kemampuan mereka sendiri. Mereka juga mampu berpikir dan menempatkan dirinya dalam hubungan dengan lingkungan sosial dan fisiknya (Di ambang Kepunahan- Kondisi Orangutan Liar Di Awal abad ke-21, E.Meijaard, H.D Rijksen, SN Kartika Sari. Gibbon Foundation, 1999). Disebutkan bahwa orangutan juga mempunyai kemampuan belajar dengan cepat, mengambil kesimpulan dan mampu membuat serta membongkar peralatan. Mereka juga mempunyai daya ingat yang sangat kuat, juga bakat yang mengagumkan untuk memahami tanda-tanda lingkungan. Termasuk memahami “bahasa” yang dikenalnya sejak masa bayi.

Orangutan juga memahami nilai-nilai kekeluargaan di antara sesama mereka. Bahkan anak-anak orangutan pun sama seperti halnya anak-anak manusia pada umumnya. Pakar orangutan Prof Dr Carel van Schaik menggambarkan bahwa ibu orangutan adalah ibu yang sempurna yang menurutnya mendekakati gambaran “ideal” yang digambarkan Plato. Hubungan ibu-anak orangutan ternyata lebih lama dan sangat erat daripada semua mamalia lain di dunia. Anak-anaknya diberi perhatian penuh dan kasih sayang total. Mereka begitu sabar menjawab setiap rengekan anaknya.

Ketika induk primata lain akan panik dan melarikan diri meninggalkan anaknya saat datang ancaman (seperti pada Macaca sp), ibu orangutan rela mati mempertahankan dan melindungi anaknya (Di Antara Orangutan Kera Merah- Dan Bangkitnya Kebudayaan Manusia, Carel van Schaik, BOSF, 2006).

Ibu orangutan akan mengeluarkan suara-suara lembut untuk bicara dengan anaknya- yang tentu saja hanya bisa didengar anaknya. Selagi tidur anak-anak orangutan juga mengeluarkan suara dengkuran nan lembut. Jika anak manusia menunjuk-nunjuk ketika meminta makanan, maka anak orangutan akan berulangkali mengalihkan pandangannya dari makanan ke mata ibunya. Anak orangutan jantan tinggal bersama ibunya hingga usia tujuh atau delapan tahun. Sementara anak orangutan betina bisa tinggal bersama ibunya lebih lama lagi, sehingga bisa belajar banyak dari ibunya terutama dalam hal ”mengurus anak”.

Pada usia sekitar 14 tahun anak-anak orangutan dipastikan sudah hidup mandiri dan bisa membuat sarangnya sendiri. Mereka mempunyai ”teknis” yang bagus dalam membangun sarangnya. Mereka membuatnya dari ranting-ranting dan daun-daunan. Meskipun kelihatannya labil, namun sarang orangutan yang dibangun oleh mereka sangat kuat menahan berat badan orangutan dewasa (betina 40 kg dan jantan 80 kg-kurang lebih). Seperti halnya manusia, mereka juga memasang atap bagi ”rumahnya”.

Orangutan dewasa jarang tinggal bersama dalam satu sarang. Kecuali betina yang memiliki anak kecil. Mereka membuat sarang setiap kali hendak tidur. Pada akhir kehamilannya, orangutan betina akan membuat beberapa sarang dalam satu hari. Selain untuk tidur, sarang orangutan berfungsi untuk melindungi mereka dari hujan lebat dan sebagai tempat istirahat ketika mereka merasa sedang sakit.

KB ala Orangutan

Orangutan juga punya strategi jitu dalam mengatur perkembangbiakannya. Orangutan betina tidak akan melahirkan anak berikutnya sebelum anak yang sedang diasuhnya mandiri. Jarak kelahiran antara anak yang satu dengan yang lainnya bisa mencapai sembilan tahun. Mungkin itu sebabnya spesies ini menjadi semakin langka selain habitat mereka juga terancam rusak. Orangutan betina akan matang secara seksual pada usia sembilan tahun (McConkey dalam Caldecot & Miles, 2005). Namun mereka baru bereproduksi pada usia 15 tahun.

Jika tidak ada gangguan (dari predator dan manusia), usia orangutan jantan bisa saja mencapai hingga 40-60 tahun. Jadi dalam kondisi normal, selama hidup, orangutan paling hanya bisa bereproduksi menghasilkan anak paling banyak empat saja. Jika makanan yang tersedia tidak mecukupi dan terjadi stres, maka orangutan betina tidak akan berminat melakukan hubungan seksual. Akibatnya, jumlah anak yang dihasilkannya pun akan lebih sedikit lagi.

Secara sosial, orangutan sangat tidak menyukai konflik. Mereka adalah hewan penyendiri dan pemalu. Mereka jarang membentuk kelompok besar kecuali ada cukup makanan di daerah tempat mereka biasa menjelajah. Semakin hutan mengalami kerusakan dan penyempitan karena leggal dan illegal logging serta perluasan perkebunan kelapa sawit, membuat kehidupan orangutan semakin memprihatinkan.

Terancam Punah
Kini kehidupan orangutan terancam. Bahkan menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (2004) dalam satu atau dua dekade ke depan orangutan Indonesia akan punah untuk selamanya. Jika saja segala ancaman terhadap hidup dan kehidupannya tidak segera mendapatkan penanganan secara khusus.

Data International Workshop on Population Habitat Viability Analysis 2004 menyebutkan bahwa orangutan Kalimantan kini hanya tinggal 57.797 ekor. Sementara orangutan Sumatera hanya tersisa 7.501 ekor saja. Hutan di Sumatera dan Kalimantan khususnya- tempat orangutan dan segala keanekaragaman hayati di dalamnya, kini mengalami degradasi dan deforestasi yang parah. Usaha pertambangan yang terus marak beroperasi dalam hutan lindung, perladangan juga konversi dan perkebunan monokultur dalam skala luas seperti perkebunan kelapa sawit serta leggal dan illegal logging jelas kini sebagai ancaman utama kehidupan mereka (termasuk kehidupan manusia sendiri, sesungguhnya).

Di Kalimantan saja, penyempitan hutannya semakin gila. Data Walhi menyebutkan bahwa kini hutan di Kalimantan telah ”terkavling-kavling” dalam bentuk 511 izin untuk areal hutan seluas 534.609.442 Ha. Izin tersebut terdiri dari 356 izin hak pengusahaan hutan, 127 izin hutan tanaman industri dan 258 izin perkebunan kelapa sawit.

Semakin sempit daya jelajah orangutan, itu bertanda semakin terbatas sumber makanan untuk mereka. Kondisi ini membuat orangutan sering terlihat ”berkeliaran” di ladang penduduk atau perkebunan sawit dekat hutan tempat habitatnya. Saat itu pula, orangutan justru dianggap sebagai ”hama” yang layak dibunuh, kendati merekalah sebenarnya ”tuan” bagi segala hutan yang ada di Kalimantan dan Sumatera.

Perburuan terhadap bayi orangutan juga ditenggarai kuat sebagai salah satu yang semakin akan ”memunahkan” kehidupan orangutan. Karena banyak manusia yang meminati memelihara bayi orangutan. Bahkan hingga ke luar negeri. Orangutan pun diburu hingga ke habitatnya. Para pemburu biasanya memilih untuk mengambil bayi orangutan untuk diselundupkan keluar Indonesia – yang entah bagaimana- ternyata lolos juga.

Untuk mendapatkan seekor bayi orangutan, para pemburu jelas harus membunuh tiga-lima orangutan dewasa. Terutama harus membunuh ibunya yang akan mati-matian melindungi anaknya. Orangutan dewasa yang tertangkap lainnya juga dibunuh dengan keji dan akan diambil segal organ-organ tubuhnya untuk dijual dan digunakan sebagai pengobatan tradisional.

Kendati kini pemerintah Indonesia kemudian memberlakukan UU atas satwa langka seperti orangutan. Namun kondisi hutan Indonesia sendiri masih dalam kritis yang luar biasa. Terakhir pemerintah justru mengeluarkan PP no.2 tahun 2008 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berasal dari Penggunaan Kawasan Hutan untuk Kepentingan Pembangunan Diluar kegiatan kehutanan. PP ini memungkinkan 13 perusahaan tambang bisa beroperasi dengan bebasnya di kawasan hutan lindung Indonesia dengan tarif sewa yang murah yaitu Rp 120-300/m2/tahun. Harga yang sangat murah dari harga pisang goreng, bahkan kerupuk. Beginilah, kondisi orangutan (bahkan manusia) di tengah himpitan Soal hutan Indonesia. (Musfarayani)

Advertisements
Categories: ARTIKELKU, TENTANG ORANG UTAN | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: