Tulisan II – Balada Orang Pedalaman : Susahnya Jadi Pintar untuk Suku-suku Asli

Akses yang jauh, daya ekonomi yang rendah, infrastruktur sekolah yang parah serta keterbatasan guru adalah hal yang menghambat dunia pendidikan bagi suku-suku asli di Indonesia. Tapi ada yang paling menyedihkan dari itu semua yaitu, terdiskriminasinya anak-anak suku asli di sekolah. Baik perilaku, sikap dan kata-kata yang ditunjukkan teman-teman sebayanya juga oleh guru sekolahnya sendiri. Akhirnya banyak dari mereka trauma dan tidak bersekolah. Sebagian besar lainnya putus sekolah karena tidak punya biaya atau akses sekolah sangat jauh sekali dari pusat kehidupan sukunya.

“Kalangan orang tua kami semuanya buta huruf. Anak-anak mau sekolah tapi harus putus karena kami tidak punya biaya. Tidak semua desa di Petalangan ada sarana sekolah. Guru pun jarang,” jelas salah seorang suku Petalangan.

Hal yang sama juga dialami suku Bengkalis, Suku Laut, Talang Mamak, dan lainnya. Padahal ada impian dalam kepala para orang tua suku-suku asli ini agar anak-anaknya bisa berdaya, pintar dan membangun sukunya kembali sesuai dengan zamannya. Tapi apa daya kini anak-anak mereka ikut hidup dalam kesengsaraan berkepanjangan.

“Di Talang Mamak juga banyak orang tuanya buta huruf. Di tempat kami juga tidak ada pendidikan yang masuk,” jelas Kasman dari Talang Mamak. Dia juga menambahkan sekolah juga bukan jawaban kesusahan ekonomi yang mereka alami.

Selain itu sebagian besar Orang Talang Mamak menolak pendidikan. Alasannya sistem pendidikan yang diterapkan pemerintah bisa menyebabkan keluarnya warga mereka dari adat. Pendidikan dianggap akan merusak adat yang mereka pelihara selama ini.

Hal yang sama juga dialami oleh Orang Rimba. Hingga kini, masih ada kelompok Orang Rimba yang menolak menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah pemerintah. Karena anak-anak rimba juga punya kewajiban sendiri untuk membantu orang tuanya mengurus karet, berburu dan membuka ladang.

Diskriminasi

Masalah diskriminasi juga salah satu penyebab banyak anak-anak suku asli minoritas memutuskan untuk tidak ikut sekolah lagi. Dengar saja cerita Martius dari suku Laut, bahwa anak-anaknya sering mendapat perlakuan yang tidak baik dari sesam teman sebayanya.

”Sesama teman sebayanya dari dusun, anak-anak kami diejek dengan sebutan Orang Sampan atau Orang Tambus (bau dan kotor). Guru-guru pun begitu. Anak-anak kami jadi tidak mau sekolah.” jelasnya.

Kasman juga menjelaskan, karena orang Talang Mamak tidak mengenal agama (hanya animisme-red), guru-guru di sekolah memaksakan agama yang diakui pemerintah.

“Kami tetap mempercayai adanya Tuhan, dan Nabi Muhammad, meski kami tidak melakukan shalat. Kami hanya ingin anak-anak kami bisa pintar seperti anak-anak lainnya,” tandas Kasman.

Penulis : Musfarayani

Telah publish sebagai bagian dari Laboran Utama pada : Majalah Alam Sumatera/ Edisi 2/tahun IV/ Mei-Agustus 2005/ hal.12/Box/dok.KKI Warsi

 

Advertisements
Categories: ARTIKELKU, CATATAN PERJALANAN | Tags: , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: