Curhat ke bapak soal atm hilang dan lagi bokek. Ngejer deadline-deadline gak selesai krn semuanya pengen dikerjain bersamaan. Jadi honor-honor kagak bakal dibayar kalo gak selesai-selesai juga sementara dikit lagi mendekati tagihan.

Giliran semalam banyak ide, eh Fox Movie tayangin seri Star Wars dari awal sampai terakhir. Dari pagi ampe malem. Langsung distrak, mata lebih banyak nonton sambil buka cemilan segala. Loh…loh…bangun shubuh ngebut lagi. Nyadar banget harus semuanya selesai. Perlu elmu kloning diri sendiri….orang pemalas, enggak bisa atur waktu..skrg mikir mau mulai dari mana.

Lalu Bokap nasihatin gini, “Nak, kamu ambil wudhu sana. Sholat dua rakaat.Setelah itu pasti akan banyak ide. Jangan urus dunia melulu…Jaga kesehatan kamu, anakku.”

*garuk-garuk kepala…ok selesaikan satu persatu. Mungkin wudhu dan sholat bisa nenangin diri lalu bisa fokus yah. Tapi sebelum itu Mandi dulu kali yah…hahahhaa

View on Path

Advertisements
Categories: Tak Berkategori | Leave a comment

View on Path

Categories: Tak Berkategori | Leave a comment

View on Path

Categories: Tak Berkategori | Leave a comment

Jangan Lupa Bahagia

Semakin dewasa pertemanan juga makin terseleksi dengan sendirinya. Semakin dewasa, masing-masing orang memilih jalan hidup menjadi dirinya seperti apa. Semakin dewasa jaman juga berubah, dan kita sebagian besar juga berubah atau mengubah dirinya menjadi sesuatu yang diinginkan atau yang tidak diinginkannya. Sebagai pribadi yang mandiri dimana uang bukan lagi menjadi duduk soal, persoalan hidup saya sekarang ini mungkin tidak seberat orang-orang yang berkeluarga. Jadi seberusaha mungkin tidak mengeluh. Masalah sepele soal macet, kerjaan yang kadang menghimpit, atau paling banter soal ngedekor rumah yang kayaknya enggak pernah pas melulu.

Continue reading

Categories: CATATAN HARIAN | Leave a comment

Urusan dunia ini yah…belum pernah merasa seletih kayak gini

View on Path

Categories: Tak Berkategori | Leave a comment

Lo salah ngeladenin driver taksi yg masih baper sama Pilkada DKI, dan ingin nomor 2 kalah. Dia bilang Ahok kalah, enggak bakal menang putaran dua. Gw tanya, emang bapak milih? Dia bilang enggak milih, bukan warga Jakarta. Lah, trus kenapa Bapak jadi runsing gitu ama urusan orang Jakarta.

Udah capek, dan masih emosi ketinggalan pesawat, ini lagi mau runyam-runyaman soal Pilkada. Dia enggak punya hak pilih pulak.

View on Path

Categories: Tak Berkategori | Leave a comment

Ke tempat Mbak siti untuk mengantarkan jeruk bali yang dia pengen banget karena bawaan jabang bayi di perutnya. Iya Mbak Siti tengah hamil 4 bulan. Meski tidak bekerja lagi untuk saya, tapi hubungan kami masih baik.

Saya juga berikan cokelat untuk anak sulungnya. Tapi lagi enggak ada di rumah. Saya menanyakannya.

“Semalam ini kok, belum pulang mbak?” Tanya saya.

“Oh, dia ke mesjid,” katanya.
“Oh, rajin sekali. Ada pengajian yah?”
“Enggak. Ada nonton film bareng. Film G 30 S PKI.”
*What?!
“Film G 30 S PKI yang lama itu?”
“Iya. Nonton bareng temen-temen sekolahnya.”
*Tertegun….

View on Path

Categories: Tak Berkategori | Leave a comment

Masak telur dadar yang sukses, dan akhirnya tidak perlu diacak-acak jadi orak arik. *tepuk dada 😂😂😂

View on Path

Categories: Tak Berkategori | Leave a comment

Abis opname, langsung ke gambut lagi.

View on Path

Categories: Tak Berkategori | 1 Comment

Yap Thiam Hien untuk Aleta Baun

Foto ini saat kami bertemu di Bali, mengikuti dan menghadiri kegiatan kawan kami untuk Terasmitra yang disponsori GEF-SGP (Global Environmental Facility- Small Grants Programme ).   Jika tidak salah ini tahun 2014. Saya mengawal media advokasi untuk kegiatan ini. Sementara beliau baru datang di hari terakhir ketika kami mulai pameran. Sejak Festival Ningkam Haumeni 2012, dan South to South Film Festival tahun 2011 kami tidak pernah jumpa lagi. Ada beberapa kali bertemu, hanya satu dua kali dalam rentang waktu yang jauh dan sebentar saja. Biasanya jika dia tengah bawa tenun ikat hasil tenunan para mama di kampungnya di Molo, Timur Tengah Selatan, atau ada kegiatan dengan AMAN dan Kementerian Desa dulu namanya Kementerian Transmigrasi dan Desa Tertinggal.

Yah, namanya Aleta Baun. Saya tidak mengenal beliau. Tidak ada yang tahu siapa beliau, apalagi nama tempat tinggalnya di Nausus, sebagai bagian dari Suku Mollo.  Aleta siapa? Mollo apa? Demikian kami, orang awam. Saya bawa isu ini ke media. Mereka juga sama, Aleta siapa? Mollo apa?? Saya baru mengetahuinya ketika  Ambon (waktu itu yang menjadi Koordinator Jatam) dan Voni (Staf Jatam) meminta saya untuk mengawal advokasi media untuk Festival Ningkam Haumeni (apa pula itu) pertama 2011 dan menceritakan konsep festivalnya dan juga sosol Aleta dan perjuangannya. Kemudian berlanjut diminta kawan-kawan Jatam untuk mengkampanyekan perjuangan mereka ke ranah publik Jakarta dalam event bernama South to South Film Festival. Sebuah event dua tahunan yang menggelar film-film bertema lingkungan. Sebuah festival yang tidak mengedepankan mutu teknis visual film lebih kepada ceritanya- dengan tujuan untuk memberikan kesadaran. Nanti saya ceritakan kerja saya dan tim untuk South to South Film Festival tersendiri. Sayang sekali sekarang festival yang kepanitiannya selalu diwarnai drama dan pain in the ass itu, tidak aktif lagi.

Ketika saya mendengar cerita tentang perjuangan Aleta Baun dan  Mollo serta dua suku lainnya yang kemudian di sebut Masyarakat Batu Tunggku (cerita detil bisa dibuka dengan klik ini), saya sampe takjub dan bergetar. Cerita tersebut langsung mengingatkan saya pada cerita Avatar ( kalau enggak tahu film Avatar yang saya maksud bisa klik ceritanya juga di sini  saya menulis bahasannya lengkap di sini). Usai cerita, saya tanpa pikir panjang lagi langsung bilang, “Siap membantu.” Gratis, tanpa bayaran. Saya pun bertekada total untuk membantu Aleta Baun dan komunitasnya ini. Gila, cerita sebagus ini tenggelam di lokal dan hanya berputar di kalangan aktivis. Orang harus mendengar nilai-nilai yang diperjuangkan Aleta Baun dan Masyarakat Tiga Batu Tungku dalam melawan korporasi tambang yang jahat.  ‘

Total gila melakukan advokasi komunikasi dan media, sampai kerjaan utama saya terbengkalai dan kena semprot. Waktu dalam Festiva NIngkam Haumeni pertama, saya tidak punya kesempatan bicara dan ngobrol akrab dengan Aleta Baun. Karena waktu itu dia tampak tegang, karena sepertinya semua beban dan persiapan dibebankan ke dia. Baru bisa bicara banyak ketika dia datang untuk South to SOuth Film Festival, dimana saya sudah mempersiapkan dirinya untuk sejumlah wawancara dengan media dan juga memperkenalkan ceritanya kepada kawan aktivis komik strip dari Serrum.

Saya baru mengenal tokoh Aleta Baun personal saat itu.  NGobrol mendalam, dan juga tanpa keluh kesah dia melayani wawancara demi wawancara dengan media. Hingga jelang puncaknya, akhirnya kita bisa mendekati Tomi Tjokro , anchor Metro TV untuk wawancara dalam talkshow paginya di 8-11 show, melalui bantuan kawan, yaitu Bang Indra, teman seasrama selama sekolah di Australia. Masa itu nama Aleta Baun belum dikenal, termasuk tempat yang diperjuangkannya. Media selalu bertanya, “emm..siapa yah? Mollo negara mana?

Selama perjalanan dari kantor Jatam di Mampang menuju Kedoya kantor Metro TV, saya melihatnya termenung, memandang keluar dari jendela taksi. Saya merasa tidak enak karena memaksanya melakukan sejumlah wawancara demi wawancara dengan media sejak kami sepakat akan mendukungnya menyuarakan perjuangannya lebih kencang di South to South Film Festival, di Jakarta tahun 2012. Saya khawatir itu melelahkannya, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama berulang dari satu media ke media lainnya. Saya juga khawatir apakah sudah keterlaluan “mengeksploitasi” mama Aleta sehingga tidak memperhatikan “kelelahannya.”

“Mama letih? Katakan kepada saya jika sudah letih dan terlalu berlebihan, Ma. Saya hentikan semuanya untuk beri mama nafas,” kata saya mengikuti gaya bahasa orang Timor yang agak puitik, kadang.

Dia tersenyum lembut kepada saya sambil meremas punggung tangan saya.

“Tidak. Tidak letih, Jika ini untuk Molo. Ini bukan apa-apa dibandingkan berjuang di desa. Apalagi ini hal baik buat Molo. Saya malah senang, semua orang tahu Molo sekarang. Saya hanya sedih lihat langit Jakarta, selalu muram. Jalannya, orang-orang tergesa-gesa. Saya tidak bisa bayangkan jika langit Molo seperti ini. Kesedihan kami sekarang jika alam kami diganggu,” katanya.

Saya tersenyum sambil ikut memandang langit Jakarta dari jendela taksi. Yah, langit Jakarta dan Langit Mollo, bedanya sangat. Langit Molo selalu biru indah memesona.

Ketika kami tiba di studio Metro TV,  Tomi Tjokro menanyakan posisi Mama Aleta untuk informasi Narsum yang akan ditulis dalam subtitle, saya menuliskan di kertas : Aleta Baun Pejuang Perempuan Dari Mollo.

Ketika itu terbaca di televisi saat Mama Aleta bicara, kami semua merasa titel itu sudah pas dan tepat. Keren banget.

Sejak semua itu, media setidaknya mudah mengenal Aleta Baun.  Kami selalu ikut merasa senang, bangga, dan juga terharu, ketika penghargaan demi penghargaan datang padanya sejak itu.  Dari Goldman Prize Award, dan berbagai award lainnya. Semua hadiah itu dia kembalikan ke Mollo, ke masyarakatnya lagi. Kemarin malam beliau dinobatkan lagi sebagai salah satu yang pantas mendapatkan penghargaan HAM, Yap Thiam Hien. Saya membaca beritanya dengan haru sepanjang hari ini. Berharap beliau tidak pernah berubah, dan tetap menjadi perempuan yang menginspirasi semua orang. Tetap jadi pejuang, Ma. Salam hormat.

View on Path

Categories: CATATAN HARIAN | Tags: , , , , , , , , , | 4 Comments

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: